Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 00:30 WIB
Surabaya
--°C

Fuad Hassan: Psikolog, Seniman, dan Tokoh Pendidikan Indonesia

Fuad Hassan telah tiada, namun pemikirannya abadi, hidup dalam setiap anak Indonesia yang berhak bersekolah, dan hidup dalam diri kita yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemanusiaan yang lebih luhur.

Oleh: Hamid Nabhan

KEMPALAN: Prof. Dr. Fuad Hassan, PhD lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 26 Juni 1929. Sepanjang hidupnya, dikenal luas sebagai akademisi, psikolog pendidik, antropolog, budayawan, diplomat, seniman, dan pejabat negara yang dihormati sebagai filsuf negara, tokoh serba bakat, dan penyair kebudayaan.

Puncak pengabdiannya tercatat saat dipercaya menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selama dua periode, dilantik menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga masa tugas selesai.

Dalam kehidupan pribadinya, dikenal gemar kopi kental, suasana tenang, dan juga segala hal bernilai seni, serta memiliki tekad luar biasa untuk berhenti merokok sepenuhnya demi menjaga kesehatan pada usia senja.

Jauh sebelum namanya menjadi besar di DALAM dunia ilmu pengetahuan dan pemerintahan, jiwa Fuad Hassan sejatinya adalah jiwa seorang seniman.

Sejak remaja, cita-cita terbesar adalah menjadi pemimpin orkestra dan pemain biola, bahkan di usia muda telah bertekad mendaftar ke sekolah musik ternama di Roma, Italia.

Namun, atas saran sahabat yang melihat kecerdasan luar biasa di bidang lain, jalan hidup pun berubah arah. Meski tidak menekuni musik secara profesional, rasa seni dan kepekaan tinggi itu senantiasa melekat dan menjadi nyawa dalam setiap pemikiran.

Bakat seni begitu lengkap, mulai dari kemahiran memainkan biola, melukis, dan menunggang kuda, senantiasa dikembangkan hingga akhir hayat.

Pada masa mudanya, juga aktif dalam gerakan kepanduan, tempat di mana jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, dan kasih sayangnya sesama ditempa menjadi nilai luhur yang mendasari seluruh pemikiran kelak.

Kecerdasan yang cemerlang kemudian disalurkan sepenuhnya ke ranah ilmu, dimulai dari menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Indonesia, mendalami filsafat di Universitas Toronto, Kanada, lalu meraih gelar doktor antropologi sosial dari Universitas Utrecht Belanda, hingga kembali ke tanah air menjadi Guru Besar dan Dekan Fakultas Psikologi UI.

Kekuatan terbesar pemikiran Fuad Hassan terletak pada perpaduan harmonis antara psikologi, antropologi, dan filsafat, yang semuanya diperkaya dengan rasa seni yang luhur dan pandangan hidup yang indah.

Perjalanan karier melintasi berbagai bidang kehidupan, mulai dari ruang kuliah, lembaga strategis, meja diplomatik, hingga kursi pemerintahan.

Sebagai dosen, sangat dikagumi karena cara mengajar yang mendalam, sopan, dan kaya tentang wawasan, hingga dipercaya menjadi tenaga ahli di lingkungan pertahanan negara, di mana konsep besar mengenai “Manusia Indonesia yang Utuh” dan kekuatan mental bangsa banyak dirumuskan demi kedaulatan bangsa.

BACA JUGA  Mengungkap Kisah Lee Man Fong Dalam “Bison Padang Sunyi”, Melacak Jejak Sang Maestro di Balik Layar

Pengabdian kenegaraan dimulai sebagai anggota lembaga perwakilan rakyat, membawa suara para akademisi ke dalam pembuatan kebijakan.

Kemampuan dalam berbahasa dan wawasan luas kemudian membawa ke dunia diplomasi sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Mesir, merangkap jabatan untuk Sudan, Somalia, dan Jibuti.

Di tempat pengabdian itu, sangat dihormati sebagai jembatan pemikiran budaya Timur dan Barat, sebelum akhirnya memimpin lembaga penelitian di Departemen Luar Negeri.

Puncak karier terjadi ketika Presiden Soeharto melantik Fuad Hassan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menggantikan mendiang Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, dan kembali mempercayakannya menjabat periode kedua karena dianggap sosok yang benar-benar memahami makna pendidikan, bukan sekadar urusan administrasi.

Di bawah bimbingan dengan tangan dingin dan pemikiran mendalam, pendidikan Indonesia memasuki masa keemasan yang meletakkan dasar kokoh hingga kini. Bagi Fuad Hassan, pendidikan bukan sekadar kegiatan mengajar, melainkan usaha luhur untuk memanusiakan manusia.

Karya besar pertama adalah Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar, yang telah mewajibkan setiap warga negara memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.

Ribuan sekolah dasar dibangun serentak dari kota hingga pelosok desa, berhasil menurunkan angka buta huruf secara drastis dan membuka jalan bagi jutaan anak mengubah nasib.

Kerangka pengajaran pun sudah dirancang dengan prinsip utama keseimbangan, pengetahuan umum dan teknologi diajarkan setara dengan budi pekerti, agama, seni, serta budaya, berpegang teguh pada keyakinan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak orang pintar, tetapi harus mencetak manusia beradab.

Pada masa itu, pendidikan dan kebudayaan tumbuh beriringan erat, di mana seni daerah, bahasa ibu, adat istiadat, dan warisan sejarah sangat didukung (dalam) pelestariannya, karena bagi Fuad Hassan, bangsa maju adalah bangsa yang tidak kehilangan akar budaya sendiri.

Bahasa Indonesia pun sangat giat diperkuat dalam kedudukannya sebagai bahasa persatuan, ilmu pengetahuan, dan bahasa budaya yang indah.

Dikenal luas sebagai Filsuf Negara, tulisan-tulisan Fuad Hassan juga mempunyai keistimewaan, mendalam secara filosofis, namun dengan bahasa indah, mengalir, dan mudah dipahami siapa saja.

Karyanya yang terkenal di antaranya Berkenalan dengan Eksistensialisme, menjadi bacaan populer yang dicetak ulang berkali-kali karena selalu relevan, yang (isinya) menerjemahkan pemikiran para filsuf besar di dunia ke dalam kerangka berpikir Indonesia.

Buku-buku Fuad Hassan lainnya, seperti Manusia dan Kebudayaan, Pendidikan dan Pembangunan Manusia Utuh, serta Nilai-Nilai Budaya dalam Pembangunan, menjadi bacaan wajib yang merangkum ajaran utama tentang hubungan manusia dengan budaya, tujuan hakiki pendidikan, dan cara menjaga jati diri di tengah derasnya arus modernisasi.

BACA JUGA  Populisme dan Beracun: Dua Sifat Alami Rezim Otoriter

Atas ketajaman pemikiran, dua universitas terkemuka dunia menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa sebagai pengakuan internasional atas sumbangan pemikiran yang besar.

Inti ajaran tertanam pada tiga hal penting yaitu pendidikan harus memanusiakan manusia dengan menyeimbangkan ilmu dan moral, manusia utuh adalah sosok yang cerdas akalnya, halus budinya, luhur moralnya, dan sehat raganya, serta kita boleh mengambil ilmu dari mana saja, namun tidak boleh kehilangan jati diri Indonesia.

Sebagai pribadi, siapa saja yang pernah bertemu pasti sepakat bahwa Fuad Hassan adalah wujud nyata dari apa yang diajarkan. Sangat santun, berbicara lembut dan perlahan namun penuh wibawa, setiap kata berbobot dan sarat makna.

Di balik ilmu dan jabatan tinggi, tetap rendah hati, berbicara akrab dengan siapa saja mulai dari petani desa hingga cendekiawan istana, serta menjalani hidup sederhana dan jauh dari kemewahan.

Jiwa seni senantiasa tampak di waktu luang, saat melukis, mendengarkan musik klasik, atau duduk tenang menikmati kopi kental, bagi Fuad Hassan, seni adalah kebutuhan jiwa agar hidup tetap indah dan manusiawi.

Kepergian meninggalkan duka mendalam bagi dunia intelektual dan pendidikan Indonesia, namun tidak pergi begitu saja.

Fuad Hassan mewariskan dasar pendidikan yang kokoh, gagasan tentang manusia seutuhnya, rasa cinta mendalam pada budaya sendiri, serta cara berpikir yang jernih dan bijaksana.

Hingga kini, saat berbicara tentang pendidikan berkarakter, budi pekerti, atau pentingnya kebudayaan, sebenarnya sedang meneruskan suara dan pemikiran tersebut.

Pada masa yang serba cepat ini, gagasan justru semakin dibutuhkan agar bangsa Indonesia tetap berjalan di jalan yang benar, cerdas, dan beradab.

Fuad Hassan telah tiada, namun pemikirannya abadi, hidup dalam setiap anak Indonesia yang berhak bersekolah, dan hidup dalam diri kita yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemanusiaan yang lebih luhur.

Kesehatannya mulai menurun sejak Oktober 2006 akibat gabungan penyakit berat seperti diabetes, gangguan jantung, dan infeksi paru-paru, namun tetap berusaha membaca dan menulis hingga saat terakhir.

Fuad Hassan mengembuskan napas terakhir di RSCM Jakarta pada 7 Desember 2007, dalam usia 78 tahun, dan dimakamkan dengan penghormatan kenegaraan setinggi-tingginya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.