SIDOARJO-KEMPALAN: Gema takbir melintasi batas keyakinan di Perumahan Grand Rose Regency, Desa Kemiri, Sidoarjo. Perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Masjid Al-Hijrah menjadi bukti nyata bahwa ibadah kurban mampu mengukuhkan soliditas sosial keagamaan tanpa sekat suku maupun agama.
Rangkaian syiar dimulai sejak malam hari melalui kegiatan takbir keliling. Ratusan jemaah dan warga mengular memadati kawasan perumahan serta rute sekitarnya. Suasana sakral tersebut mencapai puncaknya pada pagi hari melalui pelaksanaan salat Id yang dimulai tepat pukul 06.00 WIB. Seluruh area masjid dipenuhi oleh masyarakat perumahan dan warga sekitar yang berduyun-duyun memadati saf.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Umar Said menyampaikan khotbah mendalam bertajuk “Iduladha dengan Meneladani Nabi Ibrahim As”. Dalam orasinya, beliau menekankan bahwa esensi kurban melampaui ritual penyembelihan hewan.

“Kurban adalah manifestasi ketauhidan yang melahirkan kesalehan sosial. Meneladani Nabi Ibrahim As berarti kita siap menyembelih egoisme pribadi demi kemaslahatan umat manusia tanpa memandang perbedaan,” ujar Ustadz Umar Said dalam petikan khotbahnya.
EKSKLUSIF Rek ! : UNESA Jadi ‘Gudang Emas’ Indonesia, Sumbang 54 Medali di SEA Games XXXIII Thailand
Ketajaman pesan religius tersebut langsung terimplementasi nyata dalam prosesi penyembelihan 3 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Keunikan perayaan tahun ini terletak pada keterlibatan aktif warga non-Muslim yang bahu-membahu bersama umat Islam, mulai dari proses merobohkan hewan kurban hingga pengemasan daging.
Agung P., salah seorang warga non-Muslim yang ikut menguliti hewan kurban, mengungkapkan rasa bahagianya bisa melebur dalam agenda tahunan ini.
“Bagi kami, ini bukan soal ikut ibadah agamanya, melainkan soal kebersamaan dan kemanusiaan. Kami merasa dihargai sebagai bagian dari keluarga besar Grand Rose Regency. Merajut kebersamaan lewat momen seperti ini sangat menyejukkan hati,” tutur Agung P. di sela kesibukannya.

Tokoh masyarakat Perumahan Grand Rose Regency, Wahyudi Utomo, menegaskan bahwa model kerukunan ini telah menjadi fondasi sosial di lingkungan mereka. Beliau juga menyoroti aspek ekologis dalam pembagian hasil kurban kali ini.
“Kami memastikan distribusi daging berjalan presisi berbasis data akurat dari pengurus RT 22 dan RT 24 agar tepat sasaran. Istimewanya, tahun ini seluruh wadah daging dikemas menggunakan kantong ramah lingkungan guna mengurangi sampah plastik.

Kami juga menerapkan prinsip fleksibilitas tinggi; jika ada musafir yang melintas, hak mereka tetap kami penuhi,” kata Wahyudi Utomo.
Langkah Masjid Al-Hijrah ini menegaskan bahwa Iduladha di Sidoarjo tidak sekadar menjadi perayaan ritual, tetapi juga bertransformasi menjadi katalisator pelestarian lingkungan dan perajut harmoni kebangsaan yang tangguh.(Ambari Taufiq/ M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi