SURABAYA – KEMPALAN : Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) yang biasanya menjadi “neraka” bagi tim tamu, pada Sabtu 14 Februari 2026 malam berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi yang menyayat hati. Pekan ke-21 BRI Super League menjadi momen paling kelam bagi Persebaya Surabaya setelah dipaksa bertekuk lutut oleh tamunya, Bhayangkara Presisi Lampung, dengan skor tipis namun menyakitkan, 1-2.
Rekor Suci yang Luluh Lantak
Datang dengan kepercayaan diri tinggi dan rekor mentereng tak terkalahkan di kandang maupun di luar kandang justru tampak kehilangan taji di hadapan puluhan ribu pendukung setianya. Khusuknya “Song For Pride” yang menggema sebelum laga seolah menjadi nyanyian perpisahan bagi keangkeran GBT yang selama ini mereka banggakan. Rekor luar biasa yang dibangun dengan keringat dan air mata itu, runtuh seketika dalam waktu 90 menit.
Jalannya Pertempuran: Dibantai di Rumah Sendiri. Bu
Meski skor akhir menunjukkan angka 1-2, jalannya pertandingan terasa seperti “pembantaian” mental bagi arek arek Green Force Persebaya. Bhayangkara Presisi Lampung tampil tanpa beban dan berhasil mengeksploitasi setiap jengkal pertahanan Persebaya.
Gol demi gol tim tamu seolah menjadi belati yang menghujam jantung para Bonek Mania yang memadati tribun. Sorak-sorai yang biasanya membakar semangat, perlahan berubah menjadi keheningan yang mencekam saat peluit panjang dibunyikan.
Momen Cantik yang Berakhir Tragis
Kekalahan ini terasa semakin menyesakkan karena terjadi di pekan ke-21, sebuah momen yang diharapkan menjadi batu loncatan untuk memuncaki klasemen. Namun, alih-alih merayakan kemenangan “cantik”, Persebaya justru harus menelan pil pahit melihat tim lawan berpesta di tengah-tengah lautan hijau yang berduka.
“Ini bukan sekadar kalah poin, ini soal harga diri yang terkoyak di rumah sendiri,” ujar salah satu suporter saat ditemui di luar stadion.
Kini, Persebaya harus segera bangkit dari puing-puing kekalahan ini. Luka di GBT malam ini akan menjadi catatan sejarah paling kelam di musim ini: Saat sang pahlawan tumbang di pelukan pendukungnya sendiri.( Ambari Taufiq M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi