Minggu, 14 Juni 2026, pukul : 13:11 WIB
Surabaya
--°C

Ketika Ambyar Jadi Perayaan: Dangdut Koplo dan Jiwa Musik Rakyat

Oleh: Sukarjito (Jurnalis)

KEMPALAN: Kata itu hanya terdiri dari enam huruf, tetapi rasanya sulit dijelaskan kepada seseorang yang belum pernah merasakannya. Ambyar. Dalam bahasa Jawa, artinya, bercerai-berai, hancur berkeping-keping, tidak lagi terkonsentrasi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI yang terbit pada 28 Oktober 2023 pun resmi mencatatnya sebagai verba cakapan. Namun di tangan Didi Kempot seorang pria asal Solo yang pernah mengamen di jalanan sebelum menjadi legenda music kata itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar sebuah gerakan budaya yang menyatukan jutaan orang lintas usia, lintas kelas, dan lintas generasi.
Kisah ambyar dan dangdut koplo bukan hanya kisah tentang musik. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah bangsa merawat dirinya sendiri lewat seni, dan bagaimana budaya yang dianggap “kampungan” hari ini bisa memimpin perbincangan global esok harinya.
Untuk memahami mengapa dangdut begitu kuat bertahan, kita perlu kembali ke akarnya. Peneliti musik Andrew Weintraub dari Universitas Pittsburgh, dalam bukunya Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia (2012), menelusuri akar sejarah dangdut bisa ditarik jauh ke belakang leluhur Melayu musik dangdut adalah orkes keliling dari Malaya yang berlabuh ke Pulau Jawa pada 1890-an.
Irama Melayu bercampur dengan pengaruh Arab dari tradisi gambus, lalu bertemu musik India yang masuk lewat film-film Bollywood. Dari perkawinan budaya itulah lahir apa yang kemudian disebut Orkes Melayu. Foi Fun!
Periode ini mempopulerkan Ellya Khadam, pedangdut pertama yang mengembangkan dangdut atau orkes Melayu dengan sentuhan irama India dan Arab dan penggunaan suling. Ironisnya, nama “dangdut” sendiri lahir bukan sebagai penghormatan, melainkan sebagai ejekan. Nama “dangdut” disematkan pada Orkes Melayu oleh Putu Wijaya dalam majalah Tempo yang rilis pada 27 Mei 1972 . Ia menjelaskan bahwa lagu Boneka dari India merupakan campuran dari lagu Melayu, irama padang pasir, serta “dang-ding-dut” India.
Masuk Rhoma Irama. Pemuda dari Tebet yang sebelumnya adalah penyanyi pop itu justru tergerak oleh penghinaan itu. “Pada masa itu, orkes Melayu sering diremehkan oleh kalangan musik pop elite. Dari situ muncul dorongan kuat dalam diri saya untuk mengubah keadaan, hingga akhirnya saya membawa orkes Melayu berevolusi menjadi dangdut,” ujar sang Raja Dangdut dilansir dari Jago Dangdut.
Ia mengambil kata hinaan itu, menjadikannya judul album pada 1971, dan memadukan irama Melayu dengan energi rock. Weintraub menyatakan bahwa musik pop dan rock Indonesia tidak memiliki akar historis atau ciri musik yang mengaitkannya dengan derita rakyat, sementara dangdut memiliki akar yang kuat dan banyak menceritakan kehidupan rakyat biasa, sehingga musik ini berkembang di lingkungan urban yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.
Ambyar: Patah Hati yang Dirayakan
Beberapa dekade setelah Rhoma Irama, muncul nama lain yang akan mengubah wajah musik Jawa selamanya. Didi Kempot lahir dari darah seni, ayahnya pelawak Ranto Edy Gudel, kakaknya anggota Srimulat.
Ia menghabiskan masa muda sebagai pengamen jalanan di Solo sebelum merantau ke Jakarta, dan selama bertahun-tahun namanya tenggelam di bawah radar industri musik. Lalu pada 2019, sebuah video wawancara menyebar luas, dan generasi milenial dan Gen Z yang sama sekali tidak mengenalnya tiba-tiba jatuh cinta.
Dari lebih dari 800 lagu yang ia ciptakan, sebanyak 92 persen mengetengahkan perasaan orang yang sedang putus percintaan dan kata ambyar menjadi pemersatu jutaan orang yang menyukai karyanya. Namun yang membuat Didi berbeda bukan hanya temanya, melainkan caranya membingkai kesedihan.
“Patah hati, hayo dijogeti wae!” –patah hati, yuk dijogetin saja — adalah kutipan yang membuat nama Didi Kempot menjadi sosok yang sangat terkenang dan dijuluki “The Godfather of Broken Heart.” Ia tidak mengajak pendengarnya meratap. Ia mengajak mereka bergoyang
Michael HB Raditya, peneliti seni yang menulis untuk platform Indonesia at Melbourne (Universitas Melbourne), mengamati bahwa konser Didi Kempot bukan sekadar pertunjukan musik . Ia adalah terapi kolektif.
“Lagu-lagunya disuarakan dengan keras dan berulang, tak peduli tentang kesedihan maupun perpisahan. Ia bagai doa-doa yang terus digumamkan untuk mencapai pelepasan rasa yang begitu ekspresif: ambyar!” tulis Raditya.
Hal ini yang menahbiskannya sebagai Lord of Broken Heart. Didi Kempot dianggap mengerti seluk-beluk masalah hati yang tercermin lewat lirik lagunya.
Komunitas penggemar Didi, Sobat Ambyar, resmi memilih nama itu pada Juni 2019 dan kata ambyar menjadi pemersatu jutaan orang. Kata ini sempat sangat populer pada Mei 2020, bulan berpulangnya Didi Kempot, dan masih dipakai secara luas hingga kini untuk mengungkapkan situasi hancur berkeping-keping.
Sebuah riset tentang makna ambyar dalam Jurnal Lontar (Universitas Serang Raya) menyimpulkan bahwa ambyar adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan patah hati yang dikaitkan dengan lirik lagu Didi Kempot yang sebagian besar tentang patah hati.
Perubahan yang Didi bawa pun menyentuh bahasa itu sendiri. Langgam ambyar yang dipelopori oleh Didi Kempot menjadi kiblat dan rujukan berkarya musisi Jawa berikutnya, di antaranya Denny Cak Nan yang terkenal dengan lagu Kartoyono Medot Janji dan nDarboy Genk yang terkenal dengan lagu Balungan Kere.
Ojing: Ketika Tubuh Menjadi Bahasa
Di sinilah sebuah dimensi budaya yang sering dilewatkan dalam diskusi tentang dangdut koplo, yakni tubuh yang bergoyang bukan sekadar hiburan. Ia adalah pernyataan.
Dalam jagat dangdut koplo, gerakan joget khas yang sering disebut ojing bergoyang ritmis mengikuti hentakan kendang yang keras dan cepat, diselingi gerakan ekspresif, spontan, dan sering mengundang tawa adalah bahasa tubuh yang berbicara tentang kebebasan.
Tari Jawa dalam pengertian yang lebih luas mencakup tari dari orang awam dan penduduk desa Jawa seperti ronggeng, tari tayub, reog, dan kuda lumping dan tari Jawa memiliki gaya serta filosofi yang berbeda dibandingkan tradisi tarian Indonesia lainnya.
Joget koplo adalah kelanjutan dari tradisi tari rakyat ini, bukan tarian keraton yang sakral dan terukur, melainkan tarian kampung yang bebas, jujur, dan tanpa pretensi.
Setiap gerakan dalam tarian Jawa memiliki makna simbolis yang mendalam gerakan-gerakan tersebut tidak hanya sekadar estetis, tetapi juga mengandung pesan moral, filosofis, dan spiritual.
“Kalau enggak ojing, enggak enak,” ujar Saiful Mahdi warga Kudus saat ditemui, Kamis (11/6/2026).
Dalam konteks ini, ojing dan joget koplo bisa dibaca sebagai bentuk modern dari tradisi yang sama: tubuh yang bergerak untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata semata.
Para perantau menganggap dangdut koplo tidak semata-mata genre musik, tetapi juga ruang yang memungkinkan untuk menghadirkan kampung halaman di perantauan kegiatan menghadiri konser musik menjadi lebih dari sekadar hiburan, ia menciptakan identitas budaya dan rasa memiliki antarpendengar dalam komunitas mereka.
Di sinilah ojing menemukan dimensi terdalamnya: bergoyang bersama adalah cara orang-orang yang jauh dari rumah untuk merasa pulang, meski hanya untuk tiga menit lamanya sebuah lagu.
Gerakan “Gas Pol Ndangak” yang menjadi tren TikTok 2026 kepala menengadah, tangan menutup hidung, tangan lain mengipas seperti sayap identik dengan joget Gas Pol Ndangak yang memiliki gerakan khas: banyak pengguna TikTok menirukan gerakan kepala menengadah atau ndangak, tangan kanan menutup hidung, sementara tangan kiri digerakkan seperti mengipas sayap, dengan beberapa kreator menambahkan gerakan mengangkat topi agar terlihat lebih lucu dan ekspresif.
Lucu, sederhana, dan mudah ditiru tetapi di baliknya tersimpan sesuatu yang lebih tua dari TikTok itu sendiri: tradisi rakyat merayakan hidup dengan gerakan tubuh yang paling jujur.
Koplo Naik Panggung Dunia
Paralel dengan kisah ambyar, dangdut koplo menjalani perjalanannya sendiri yang tak kalah dramatis. Dangdut koplo menjadi populer di tengah ketegangan politik dan apa yang disebut orang Indonesia sebagai “masa gila”, terutama selama krisis ekonomi dan penggulingan Presiden Soeharto.
Lahir di Jawa Timur pada akhir 1990-an, koplo hadir dengan tempo yang lebih cepat, hentakan kendang yang lebih keras, dan energi yang seolah menolak untuk berduka.
Titik pembuktian terbesar datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketika boyband Korea Selatan NCT Dream mengunggah video berjoget mengikuti “Mendung Tanpo Udan” dari nDarboy Genk, jagat internet geger.
Penelitian dari STAI Wonogiri menganalisis fenomena ini melalui teori David Held tentang globalisasi budaya, khususnya meluasnya hubungan sosial (stretched social relation) dan meningkatnya intensitas komunikasi (intensification of flows). NCT Dream telah mendapatkan pengetahuan, kesenian, dan kemampuan akan kebudayaan musik dangdut koplo dari berbagai media. Staimaswonogiri
Lalu pada 20 Desember 2024, tiga musisi muda bernama Tenxi, Naykilla, dan Jemsii merilis single “Garam dan Madu.” Video mereka langsung viral, meraih lebih dari 31 juta penonton di YouTube hanya dalam satu bulan.
Di Spotify, lagu itu bertengger di puncak Top 50 Indonesia dan Malaysia Top 40. Mereka menyebut musik mereka hip-dut perpaduan hip-hop dan dangdut
Raditya, yang menulis tentang fenomena ini untuk Indonesia at Melbourne pada Januari 2025, menyimpulkan meski hip-dut bukanlah genre yang sepenuhnya baru dan merupakan bagian dari panjangnya sejarah dangdut, rilis “Garam dan Madu” tidak diragukan lagi merupakan momen bersejarah dalam panggung musik Indonesia.
Sebuah riset yang dipublikasikan di ResearchGate (2026) memperkuat temuan itu: Hipdut tidak hanya merepresentasikan inovasi musikal, tetapi juga menjadi medium negosiasi identitas budaya, perubahan stigma terhadap dangdut, serta manifestasi budaya partisipatif khas Generasi Z berfungsi sebagai bentuk adaptasi budaya lokal agar tetap relevan dalam arus globalisasi dan digitalisasi.
Gen Z Bukan Melupakan, Melainkan Merumuskan Ulang
Di tengah semua ini, ada pertanyaan yang sering dilontarkan dengan nada was-was, apakah Gen Z masih peduli pada budaya lokal?
Riset dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (2025) memberi jawaban yang mengejutkan banyak orang. Gen Z mampu memadukan elemen budaya populer internasional dengan budaya lokal, sering kali menunjukkannya melalui platform, seperti TikTok dan mereka tidak kehilangan identitasnya karena pengaruh budaya populer asing; sebaliknya, hal itu menghasilkan identitas yang unik dan beragam.
“Mereka tidak sekadar mendengarkan dangdut koplo mereka membuat konten TikTok berlatar lagu koplo, menciptakan koreografi baru untuk tembang campursari, dan mendistribusikan budaya lokal ke jaringan global hanya bermodalkan ponsel,” demikian bunyi riset tersebut.
Dangdut koplo mendominasi TikTok di 2026 sebagai raja viral dan tren utama di kalangan pengguna media sosial Indonesia, didukung oleh banyaknya festival musik lokal yang memberikan kesempatan bagi para musisi untuk bereksperimen.
Elemen penting yang membuat lagu koplo disukai adalah liriknya yang sering kali dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tema yang diangkat bervariasi, dari kisah cinta yang romantis hingga masalah keluarga yang penuh ironi dan bahasa yang dipakai sangat beragam, dari full bahasa daerah sampai campuran bahasa Indonesia dan Inggris
Inilah yang dalam sosiologi disebut social glue, yakni perekat sosial. Ketika seorang mahasiswa dan seorang pedagang kaki lima bisa sama-sama bergoyang mengikuti irama kendang yang sama, sekat-sekat sosial –meski sebentar–ikut ambyar.
Ada sesuatu yang sangat Indonesia dalam keseluruhan fenomena ini. Bangsa yang dalam sejarahnya berulang kali menghadapi krisis menemukan caranya sendiri untuk bertahan: dengan berjoget. Bukan dengan mengingkari rasa sakit. Bukan dengan berpura-pura baik-baik saja. Melainkan dengan mengakui bahwa kita ambyar, lalu memilih untuk berdiri, menyalakan speaker, dan membiarkan kendang memimpin langkah kaki.
Dari orkes keliling Malaya abad ke-19 hingga hip-dut yang viral di Spotify 2025; dari Rhoma Irama yang mengangkat kata hinaan menjadi bendera perjuangan, hingga Didi Kempot yang mengajarkan bahwa air mata dan senyum bisa hadir dalam satu helaan napas dangdut adalah riwayat sebuah bangsa yang menolak untuk diam.
Dan selama ada kendang yang berdentum, selama ada hati yang pernah hancur lalu memilih untuk bangkit, budaya ini tidak akan pernah benar-benar mati. ()

BACA JUGA  Menelusuri Celah Hukum dan Pola Manipulasi Dana Operasional SPPG dalam Program Makan Bergizi Gratis (Bag-1)
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.