Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 15:28 WIB
Surabaya
--°C

Sang ‘Kutu Loncat’ yang Mewariskan Sanad Ilmu Voli Sahih: Selamat Jalan, Mas Udiek

SIDOARJO-KEMPALAN: Dunia voli Indonesia hari ini kehilangan salah satu arsitek terbaiknya. Mashudi, atau yang lebih karib disapa Mas Udiek, mengembuskan napas terakhirnya di usia 63 tahun di RS Siti Khodijah Sepanjang, Sidoarjo, Jumat (8/5/2026). Ia pergi meninggalkan jejak kaki yang terlalu lebar untuk diikuti, namun terlalu terang untuk dilupakan.

Maestro di Balik Layar

Mas Udiek bukan sekadar pelatih; ia adalah seorang pemahat bakat. Dari tangannya, lahir nama-nama besar yang kini menjadi pilar voli nasional. Sebut saja legenda seperti Sutono dan Johan Rachmadi, hingga ikon voli modern seperti Megawati Hangestri Pertiwi dan Maya Kurnia Indri. Daftar panjang “orbitan” Mas Udiek adalah bukti bahwa ia memiliki mata yang mampu melihat permata di dalam bongkahan batu kali.

Sang Kutu Loncat yang Tak Berhenti Menanam

Julukan “Kutu Loncat” sering disematkan padanya karena kegemarannya berpindah klub—mulai dari Surabaya Samator, Jakarta Pertamina, hingga Indomaret Sidoarjo. Namun, kepindahannya bukanlah bentuk ketidaksetiaan. Mas Udiek adalah seorang pengelana ilmu. Ia melompat dari satu klub ke klub lain bukan untuk mencari panggung, melainkan untuk memastikan “benih” ilmunya tersebar merata di seluruh penjuru negeri.

Sanad Ilmu yang Sahih

Hadi Sampurno dari Surabaya Samator memberikan testimoni yang bergetar. Baginya, Mas Udiek adalah sosok unik dan ikonik. Ia mengibaratkan ilmu Mas Udiek layaknya Hadits Sahih dalam dunia voli.
“Ilmu Mas Udiek itu mutawatir, bersambung tanpa putus. Surabaya Samator besar karena fondasi yang ia bangun. Hingga detik ini, para pelatih pemula mengadopsi metodenya, dan para pelatih senior tetap merujuk padanya saat mereka kehilangan arah. Ini adalah sanad ilmu yang paling sahih di lapangan voli Indonesia,” ujar Hadi dengan nada penuh hormat sembari mendoakan kepergian sang guru agar husnul khotimah.


Suara dari Mereka yang Terpahat


Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi para anak didiknya. Rianita Panirwan mengenangnya sebagai sosok yang keras namun sangat peduli pada detail terkecil. Sementara Sutono, mantan pemain yang kini manajer Indomaret Sidoarjo, menyebut Mas Udiek sebagai kompas moral bagi para atletnya.
Ibarat Djanu Cshyono dan Iwan Dedi Setiawan sepakat bahwa Mas Udiek memiliki cara komunikasi yang melampaui sekadar instruksi taktik; ia menyentuh mental pemainnya.

Bahkan, seorang penggemar berat bernama Rachmawati rela memberikan les privat khusus bagi anaknya kepada Mas Udiek demi mendapatkan “sentuhan emas” sang maestro.


Sebuah Pengabdian yang Sunyi


Seorang tokoh voli nasional Mahfud Irsyada yang juga praktisi ilmu olahraga Unesa menambahkan bumbu religius pada dedikasi Mas Udiek: “Beliau itu seperti pengajar yang tidak pernah menyimpan kunci pintunya. Ia ingin semua orang masuk dan mengambil apa yang ia punya. Di dunia yang egois ini, Mas Udiek adalah sedekah jariyah yang berjalan.”
Selamat jalan, Mas Udiek. Sang Kutu Loncat kini telah mendarat di pelukan Sang Pencipta, meninggalkan lapangan voli yang tak lagi sama tanpa suaranya.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.