Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
BOJONEGORO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026 senilai Rp901 juta kepada 901 buruh pabrik rokok lintas wilayah di PT Kareb Alam Sejahtera Mitra Produksi Sigaret (MPS) Dander, Desa Ngumpak, Kabupaten Bojonegoro, Senin (25/5). Setiap penerima memperoleh bantuan sebesar Rp1 juta.
Penyaluran bantuan tersebut turut didampingi Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sri Wahyuni, Direktur PT Kareb Alam Sejahtera Sahari, serta sejumlah kepala perangkat daerah Pemprov Jatim.
Kedatangan Gubernur Khofifah disambut antusias ribuan pekerja pabrik rokok. Khofifah yang akrab dijuluki “Ibunya Pekerja Sigaret Kretek Tangan (SKT)” itu mendapat sambutan hangat dari para buruh.
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa BLT DBHCHT merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial bagi pekerja sektor industri hasil tembakau.
“Melalui BLT DBHCHT, pemerintah hadir untuk membantu meringankan beban ekonomi para pekerja sektor industri hasil tembakau, khususnya buruh pabrik rokok lintas wilayah yang memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan industri dan perekonomian daerah,” ujarnya.

Menurut Khofifah, industri hasil tembakau selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi daerah, sehingga kesejahteraan para pekerjanya harus terus mendapat perhatian melalui program perlindungan sosial yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan pekerja dan keluarganya, sekaligus mendukung produktivitas perusahaan,” katanya.
Ia juga mengimbau para penerima bantuan agar memanfaatkan dana tersebut secara bijak untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga.
Khofifah menambahkan, total bantuan sosial yang disalurkan Pemprov Jawa Timur pada 2026 mencapai Rp171,27 miliar. Khusus untuk Kabupaten Bojonegoro, alokasi bansos tercatat sebesar Rp6,99 miliar yang diperuntukkan bagi buruh pabrik rokok dan masyarakat setempat.
Dari jumlah tersebut, program BLT DBHCHT menjangkau 10.324 buruh pabrik rokok lintas wilayah di 25 kabupaten/kota pada 65 perusahaan, dengan total anggaran Rp10,324 miliar.
“Pemprov Jawa Timur akan terus berkomitmen menghadirkan program perlindungan sosial yang adaptif dan berkelanjutan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata,” tegasnya.
Khofifah juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan pekerja untuk menciptakan iklim kerja yang produktif, harmonis, dan berkeadilan.
“Peran buruh sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan pekerja harus menjadi prioritas dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif,” tandasnya.
Resmikan Masjid Nur Khofifah
Selain menyerahkan BLT DBHCHT, Khofifah juga meresmikan Masjid Nur Khofifah, rumah ibadah yang dibangun PT Kareb Alam Sejahtera untuk para pekerja.

“Tahun lalu kita melakukan peletakan batu pertama. Saat itu saya berharap suatu saat bisa memasang genteng terakhir. Alhamdulillah hari ini masjidnya sudah berdiri,” ujar Khofifah.
Ia berharap masjid tersebut menjadi ruang ibadah yang nyaman sekaligus memperkuat spiritualitas para buruh pabrik.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengimbau para penerima agar menggunakan bantuan secara produktif.
“Saya minta kepada masyarakat agar BLT ini digunakan untuk hal-hal yang produktif sehingga dapat membantu perekonomian keluarga dan mendorong roda ekonomi masyarakat,” katanya.
Direktur PT Kareb Alam Sejahtera Sahari menyampaikan apresiasi atas penyaluran BLT DBHCHT yang dinilai sangat membantu para buruh.
“Kami bahagia karena hari ini seluruh pekerja menerima BLT DBHCHT. Mudah-mudahan program ini terus berlanjut dan membawa keberkahan bagi masyarakat Bojonegoro,” ujarnya.
Sahari juga mengungkapkan bahwa sejak 2025, sebanyak 50 buruh pabrik rokok di perusahaannya telah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, khususnya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE).
“Paginya mereka bekerja melinting rokok, siang hingga malam kuliah. Alhamdulillah, bekerja dan menuntut ilmu bisa berjalan beriringan,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi