Untuk memulai menyemai sikap politik yang riang gembira nampaknya tak mudah untuk dilakukan, karena pihak yang merasa nyaman dengan situasi keterbelahan, menjarah dan menikmati kekuasaan, tentu akan merasa terganggu, sehingga mereka akan dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi.
BACA JUGA: Tak Siap Kalah, Residu Demokrasi Mengembangkan Fitnah untuk Menjatuhkan Kandidat Lain
Anies nampaknya memberi contoh baik dalam mempraktikkan politik riang gembira, politik yang tidak mencela, politik yang tidak menjatuhkan, politik yang “menang tanpo ngasorake”, politik yang bermartabat.
Pesan Anies kepada seluruh relawan bahwa jangan sampai mencela dan menjatuhkan lawan, karena baginya lawan dalam politik bukanlah lawan yang harus diperangi dan dihilangkan, lawan politik adalah kawan dalam berpikir, lawan politik adalah buku lain yang memberi khasanah keluasan perspektif dalam membangun negara, mereka semua adalah kekayaan bangsa.
Sikap riang gembira inilah yang saya lihat mulai banyak dimunculkan oleh beberapa relawan Anies di Surabaya dari kalangan aktifis tahun 90 an, misalkan mereka memunculkan istilah Kagama bagi alumni Airlangga, yang mengakronimkan Keluarga Airlangga Untuk Mas Anies, ada lagi Kalingga Manies, akronim Keluarga Airlangga Untuk Mas Anies.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi