Hal yang sama juga terjadi kemajuan pembangunan, tentu setiap orang, utamanya anak dan remaja millenial yang sangat melek tehnologi, sangat tahu apa yang dibutuhkan. Kebutuhan – kebutuhan perubahan itulah yang kalau tidak difasilitasi dengan baik akan berdampak pada perilaku sosial yang menyimpang.
Tawuran remaja dibeberapa tempat di Surabaya, meski juga disinyalir bukan hanya anak – anak Surabaya, setidaknya itu menjadi bukti ada “solidaritas” yang dibangun diantara mereka. Meski solidaritas itu bermakna negatif.
Media sosial dan kemajuan tehnologi menjadi proses yang mempercepat berkembangnya nilai – nilai di masyarakat, baik itu nilai yang baik maupun tidak.
BACA JUGA: Ungkapan Benny Relawan Jokowi, Potret Aksi Menuju Negara Fasis
Lalu apa yang harus dilakukan? Sebagai kota maju yang berkembang menjadi “smart city“, Surabaya tentu mempunyai banyak hal sebagai sebuah sistem untuk mencegah, menangani dan menyembuhkan, preventif, proses dan kuratif.
Cuma pertanyaannya seperti apa sistim yang dipunyai itu sudah dijalankan?
Apakah cukup upaya Surabaya dalam pencegahan kekerasan dengan pola – pola yang dilakukan seperti saat ini?
Orasi walikota dihadapan Satpol PP, Kepolisian dan TNI yang heroik, menunjukkan adanya kegelisahan terhadap kondisi Surabaya akhir – akhir ini, Surabaya yang darurat kekerasan, Surabaya darurat gengster.
Walikota ingin mengajak semua pihak untuk peduli dan bersama – sama mewujudkan Surabaya yang aman dan damai.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi