Rabu, 22 April 2026, pukul : 20:57 WIB
Surabaya
--°C

Mendukung Anies, Sejarah Mencatat, Partai NasDem, PKS dan Demokrat Menjadi Lokomotif Demokrasi Sehat

KEMPALAN: FENOMENA Anies memang luar biasa, sambutan dan euforia masyarakat akan hadirnya pemimpin baru yang membawa perubahan Indonesia ke arah bangsa yang mensejahterakan dan berkeadilan sosial sepertinya tak bisa dibendung lagi.

Tekad membangun Indonesia menjadi bangsa yang mensejahterakan dan berkeadilan sosial dan menjalankan kehidupan demokrasi yang sehat sejatinya adalah keinginan semua, namun saat ini diperhelatan Pilpres 2024 yang nampak ingin menjadi penyeimbang hadirnya demokrasi yang sehat masih terlihat secara gamblang adalah Partai NasDem, meski sejatinya praktik baik demokrasi sehat sudah dilakukan oleh PKS dan Partai Demokrat.

Anies, Partai Nasdem, PKS dan Partai Demokrat sejatinya saat ini tak bisa dipisah – pisahkan, karena fonomena semuanya saat ini sejalan dengan gemuruh suasana batin rakyat yang membutuhkan hadirnya persatuan, kesejahteraan, keadilan sosial dan berjalannya praktik demokrasi sehat sebagaimana amanah UUD 1945 dan Pancasila.

BACA JUGA: Tak Siap Kalah, Residu Demokrasi Mengembangkan Fitnah untuk Menjatuhkan Kandidat Lain

Sehingga potensi bersatu dan bersinergi untuk mewujudkan itu semua sangat besar dan boleh dikatakan tidak ada halangan, kecuali kalau memang diantara mereka ada yang mau bermain – main dan menggadaikan hati nuraninya untuk kepentingan oligarki dan sesaat. Tapi percayalah, rakyat pasti akan menghukumnya dan sejarah akan mencatat dengan tinta merahnya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Abraham Lincoln bahwa demokrasi itu dipahami sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga proses pelaksanaan demokrasi seharusnya mendengarkan apa yang menjadi aspirasi rakyat.

Dalam demokrasi Pancasila, demokrasi dimaknai sebagaimana pernyataan dalam sila ke 4, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebikaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Surabaya Keren! Menghiasi Surabaya dengan Narasi dan Apresiasi Semangat Pahlawan

KEMPALAN: NOVEMBER biasanya dikaitkan dengan peristiwa penting dan bersejarah, peristiwa perobekan bendera Belanda, Merah Putih Biru menjadi Merah Putih.

Peristiwa penting itu terjadi di Surabaya di Kawasan Tunjungan, Hotel Yamato. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 itu menjadi monumen sejarah kemerdekaan Indonesia.

Gabungan pejuang kemerdekaan Indonesia tumpah ruah menghadang laju tentara penjajah yang ingin menancapkan kembali cengkramannya.

Pekik takbir Bung Tomo mampu membakar semangat rakyat Surabaya dan berujung pada di robeknya bendera biru Belanda menjadi merah putih.

BACA JUGA: Jakarta Siap Siaplah! Habis Terang Kembali Gelap

Sebagai kota satu satunya didunia yang mendapatkan julukan kota pahlawan, Surabaya pasti banyak menyimpan artefak artefak kepahlawanan. Namun sayangnya artefak artefak itu tak banyak yang mampu kita munculkan sebagai sebuah pelajaran membangun patrotisme. Seolah pahlawan itu adalah masa lalu, bukan masa kini apalagi masa depan.

Yang lebih memprihatinkan lagi pahlawan dipahami sebagai sosok orang yang berjuang mengusir penjajah, tentara, sehingga mempersempit makna kepahlawanan. Sehingga kita hampir lupa bahwa didalam semangat heroisme itu tidak sekedar mengusir penjajah dan memerdekakan bangsa, tapi ada semangat mandiri, toleransi, saling tolong menolong, adil dan semangat bersatu. Nilai-nilai seperti inilah yang hampir tak pernah terekpose dalam event event yang digagas oleh pemerintah kota. Kita terjebak dalam wujud kebendaan tak mampu menggali nilai nilai yang terkandung dalam semangat kepahlawanan.

Bak Cinderella, Anies lagi-lagi Bikin Cemburu

KEMPALAN: Ah … lagi lagi Anies, ada apa sih dengan Anies, kok semua orang terkagum-kagum sama Anies. Ketemu emak-emak di pasar, emak-emak nya histeris, emang Anies itu seperti apa penampilannya. Bikin semua orang tergila-gila dan kagum. Bagi pasangan Anies, ini bisa bikin cemburu.

Dua kali Anies datang di event yang diadakan Jokowi, bukan Jokowi yang dapat sambutan meriah, tapi justru Anies lah yang mendapatkan sambutan meriah, mulai tegur sapah sampai ajakkan berfoto bersama. Konon ini kemudian membuat Jokowi mempersingkat kegiatannya.

Ketika terjadi penyatuan tanah dan air dalam acara Kendi Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Sambutan terhadap Anies sangat luar biasa, di Bandara Balikpapan.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, Anies yang mengenakan kemeja kotak-kotak bewarna biru disambut oleh puluhan orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa diantaranya bahkan minta foto bersama dengan Gubernur kelahiran 7 Mei tahun 1969 ini.

BACA JUGA: Anies Menghadirkan Pemimpin yang Menggerakkan dan Mengayomi

“Pak Anies foto, foto”, Anies pun dengan kebiasaannya santun dan selalu senyum melayani mereka.

Nampaknya sambutan seperti inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan berat. Adalah Gembong Warsono, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI, saking “Cinta beratnya” Terhadap Anies, iapaun tak kuat menahan rasa cemburunya. Namanya orang cemburu, kadang akal budi dan nuraninya agak terganggu, sehingga kadang tak mampu melihat kebaikan Anies, cenderung menjadikan apa yang dilakukan Anies salah semua. Namanya cemburu ya begitulah. Kadang akal sehat tak berguna.

Adalagi dukun dari Medan, Ki Bedul Sakti, sama seperti Gembong Warsono, yang katanya sakti ternyata tak sakti. Tak mampu mengerahkan sekawanan Jin untuk mengantisipasi gangguan pelaksanaan kegiatan di IKN, akibatnya Gubernur Sulteng usai mengikuti ritual penyatuan tanah dan air ke dalam Kendi Nusantara di titik nol ibu kota negara (IKN). Gubernur Sulteng Rudi Masturi pingsan karena teriknya cuaca saat ritual tersebut. Akibatnya Bedulpun mencari kambing hitam akibat rasa cemburunya. Anieslah yang menjadi sasaran kecemburuannya.

BACA JUGA: Pak Presiden, yang Kami Butuhkan Ketersediaan Sembako Murah

Belum berselang lama para pencemburu berat Anies diaduk-aduk perasaannya, Jokowi bikin event lagi MottoGP 2022 di Mandalika, Lombok Timur, NTB. Anies hadir sebagai penonton yang membeli tiket. Kedatangan Anies tanpa prosesi acara sebagaimana rombongan Presiden Jokowi.

Namun kedatangan Anies terendus oleh warga, sehingga kedatangannya di elu-elukan oleh warga.

“Gubernur DKI Jakarta itu disambut luar biasa saat menonton MotoGP di Mandalika, Anies dielu-elukan masyarakat dan diteriaki presiden”

“Masyarakat di Mandalika mengelukan Anies karena menilai Anies memang layak menjadi presiden. Kelayakan itu dinilai oleh masyarakat berdasarkan kinerja Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta,” kata Jamil panggilan akrab Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga.

Bahkan Jamil pun menyimpulkan bahwa Anies tidak hanya diterima dikalangan bawah, Anies sudah mulai bisa diterima oleh kalangan menengah keatas.

Seandainya Ganjar Berguru pada Anies dalam Kasus Wadas

KEMPALAN: Secara kasat mata sejatinya tak ada yang beda pada tampilan Ganjar dan Anies. Ganjar acap kali tampil dengan performa yang dicitrakan berpihak pada rakyat. Bagaimana aksi Ganjar marah-marah kepada kontraktor sekolah yang ada di SMAN 1 Tawamangu. Ganjar marah karena tembok yang dibangun tidak berbahan batu bata, tapi berbahan kalsiboard, meski apa yang dikerjakan oleh kontraktor sudah sesuai dengan spesifikasi kerja yang dibuat, berdasar penjelasan kepala dinas pendidikan Jawa Tengah.

Kerapkali juga terlihat sambil bersepeda, Ganjar menyapa warga dan berbagi sesuatu, sesekali Ganjar juga bercengkrama dengan masyarakat, semua terlihat seperti alami, Ganjar seolah dekat dengan rakyat. Kasus pemberian bantuan kepada masyarakat miskin yang juga kader PDIP menghentak kita semua, karena bantuan yang diberikan oleh Ganjar dikembalikan. Dalam beberapa pernyataan Ganjar mengatakan mungkin saya yang salah, meski niat saya baik untuk membantu.

Kasus Wadas semakin membuat Ganjar terpuruk dan terhempas, potret Ganjar yang selama ini dekat dengan rakyat, berpihak kepada masyarakat kecil terkoyak oleh aksi kekerasan dan brutal akibat menjalankan keputusannya yang tertuang dalam SK Gubernur Jateng No 590/20 tahun 2021 berkaitan dengan Pembaharuan Atas Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Bendungan Bener tanggal 7 Juni 2021.

Nampaknya Ganjar lupa bahwa masyarakat meski mereka membutuhkan, mereka juga punya harga diri, sehingga tidak bisa hanya dengan niat baik tapi lemah didalam mengkomunikasikan niat baik itu, pada akhirnya terjadi sesuatu yang justru mencoreng citra GP selama ini. Ganjar pun di kasus Wadas semakin terhempas.

Ganjar mesti berguru pada Anies bagaimana Anies memperlakukan warga. Anies jujur melayani warga. Anies melakukan seuatu apa adanya sesuai dengan kewajibannya dan berusaha memenuhi hak-hak mereka yang harus dilayani dan dipenuhi.

Harus jujur diakui Anies selama hampir lima tahun memimpin Jakarta, sepi dari konflik, bahkan masyarakat sangat diuntungkan dengan kebijakan-kebijakan Anies dan merasakan hadirnya keadilan. Masyarakat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kasus Kampung Susun Aquarium, Penjaringan Jakarta Utara yang digusur oleh Ahok dapat diselesaikan Anies dengan baik. Masyarakat menemukan keadilan yang sesungguhnya ditengah praktik keadilan yang terkoyak.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.