Padahal ia melihat Aremania tidak melakukan tawuran. Namun, tetap saja ditembaki gas air mata.
“Nggak tawuran nggak opo-opo, tapi polisinya nembaki kami dengan gas air mata. Jelas polisi yang disalahkan.” tegasnya.
Yang pasti, Sabtu malam itu Stadion Kanjuruhan homogen. Hanya ada suporter Arema. Bonek tidak ada. Sesuai ketentuan Panpel.
BACA JUGA: Liga 1 Dihentikan, Borneo FC: Kami Kecewa
Rasanya tidak mungkin Aremania tawuran dengan temannya sendiri. Mereka juga tidak mungkin menyakiti pemain dan ofisial Arema FC di tengah lapangan. Tapi mungkin saja mereka berteriak karena kecewa tim kesayangannya kalah lagi. Sebatas itu.
**
Kita gak boleh ada toleransi untuk pihak penyelenggara, LIB (PT Liga Indonesia Baru) dan federasi.
Terlihat bahwa aturan FIFA melarang penggunaan gas air mata dalam stadion sepakbola tidak atau kurang sekali disosialisasikan. Terutama sekali kepada petugas keamanan (Polri).
Jelas pengamanan di Stadion Kanjuruhan salah menjalani protap FIFA. Sanksi apa yang harus diterima untuk sepakbola kita?
Kita tunggu saja apa keputusan FIFA nanti.
LIB tidak peka, pelajaran serupa sudah terjadi beberapa kali, mestinya penyelenggaraan untuk tim yg memiliki potensi seperti itu harus mendapatkan perlakuan khusus. Bila perlu …. dilakukan di venue yang netral dan tanpa penonton.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi