Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 10:03 WIB
Surabaya
--°C

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 ini memang menarik, dan bisa jadi pelajaran berharga. Mengapa kalau negara lain perang Indonesia untung dari dagang. Karena Indonesia dagang komoditas yang harganya juga naik tinggi.

Oleh: Salamuddin Daeng

KEMPALAN: International Monetary Fund (IMF) membuat data bahwa GDP (Gross Domestic Product) real berdasarkan negara, menggambarkan Tahun 2026 negara berkembang rata-rata tumbuh 3,9 %, negara maju rata rata tumbuh 1,8%, dunia rata rata tumbuh 3,1%.

Angka ini adalah yang terbaik yang dapat diperoleh dunia dalam situasi gejolak, konflik dan perang. Dunia masih tumbuh itu sudah bagus. Karena, dunia telah mengalami pertumbuhan negatif pada masa krisis Covid 19 beberapa waktu lalu.

Nah, Indonesia sudah sangat bagus. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (YoY). Karena itu Indonesia berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global. Dus, mengapa hal ini secara mudah dan gampang dipahami sehingga dikatakan bagus?

Karena berada di atas rata-rata yang lain, berada di atas rata-rata yang mampu dunia capai sejauh ini untuk keluar dari kemelut perang selat Hormuz dan dampak Covid 19.

BACA JUGA  Salim Said Prediksi Kejutan Besar Asia – Afrika di Piala Dunia 2026

Secara awam jika di atas rata-rata itu malah disebut hebat. Contoh sederhananya adalah jika nilai anak Anda di sekolahan SD, SMP, atau SMU, berada di atas rata- rata kelas, maka anak anda termasuk hebat, bagus, dan berprestasi.

Asal berada di atas rata-rata kelas maka sudah lebih baik dari yang lain. Nah, jika menurut data IMF ini maka Indonesia termasuk pintar, bagus dan exelent.

Mengenai data pertumbuhan ekonomi Indonesia silakan saja diperdebatkan apakah 5% mentok atau 5,6%.

Namun walaupun ternyata benar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cuma 5% sekalipun, tetap saja Indonesia ini kategorinya bagus karena berada di atas rata-rata kelas, berada di atas rata-rata dunia.

Namun yang namanya data yang diperoleh oleh hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, tidak bisa diperdebatkan dengan data berdasarkan perasaan atau berdasarkan feeling.

Misalnya dengan mengatakan, “Kok bisa pertumbuhan ekonomi besar? Perasaan saya lebaran sepi, perasaan saya tahun baru sepi, perasaan saya puasa orang menahan belanja? Padahal ekonomi Indonesia 65 persen dikontribusikan oleh konsumsi, bukankah banyak orang sedang kere?” Jadi, main perasaan begini tidak bagus.

BACA JUGA  Diserang Habis-Habisan, Indonesia Tidak Jatuh (Bag-2)

Apabila data hasil survei BPS yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6% digugat atau tidak mau disyukuri, maka sebaiknya menggunakan data survei yang sebanding, misalnya yang dilakukan BPS Singapore, atau yang dilakukan World Bank (Bank Dunia), barulah menjadi perdebatan yang menarik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 ini memang menarik, dan bisa jadi pelajaran berharga. Mengapa kalau negara lain perang Indonesia untung dari dagang. Karena Indonesia dagang komoditas yang harganya juga naik tinggi.

Harga CPO naik, harga batubara naik, harga nikel naik. Nah, kecuali jika memang Kementerian ESDM memainkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), untuk menghalang-halangi produksi dan ekspor komoditas, atau ada tujuan lainnya dari pejabat ESDM, barulah masalah.

*) Salamuddin Daeng, Peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.