Gas Air Mata Membuat Kita Menangis Darah

waktu baca 7 menit
Ilustrasi: (Foto: Twitter Mit Mitra)

Tragedi Kanjuruhan yang Mengerikan

KEMPALAN: Tragedi terbesar suporter di stadion terjadi di Lima, Peru. Di Estadio Nacional pada 24 Mei 1964. Tragedi itu dikenal sebagai bencana sepak bola Lima (kompastv.com). Bencana terburuk sepanjang sejarah sepakbola dunia.

Mengapa hal itu terjadi?

Saat pertandingan antara Timnas Peru melawan Argentina, keputusan yang tidak populer (dinilai tidak fair) oleh wasit membuat marah para suporter Peru. Mereka lalu memutuskan untuk menyerbu lapangan.

Polisi Peru membalas dengan menembakkan gas air mata membabi-buta ke kerumunan suporter. Tindakan ini menyebabkan kepanikan dan eksodus massal.

Kematian terutama terjadi dari orang-orang yang menderita pendarahan internal atau sesak napas akibat terinjak-injak massa yang panik serta terbentur serta tergencet.

BACA JUGA: Tragedi Prestasi

Jumlah korban tewas resmi adalah 328 orang, tetapi angka ini mungkin terlalu rendah karena kematian akibat tembakan aparat keamanan Peru tidak dihitung dalam perkiraan resmi.

Setelah insiden tersebut, keputusan dibuat untuk mengurangi kapasitas tempat duduk stadion dari 53.000 menjadi 42.000 pada tahun 1964. Tapi kemudian ditingkatkan menjadi 47.000 untuk Copa América 2004.

Di Ghana pada bulan Mei 2001, lebih dari 125 orang tewas terinjak-injak di stadion utama Accra ketika polisi menembakkan gas air mata ke arah suporter dan terjadilah bencana sepakbola terburuk di Afrika.

Setelah itu FIFA mengeluarkan aturan yang melarang keras gas air mata digunakan untuk pengendalian massa di dalam stadion.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *