Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 06:37 WIB
Surabaya
--°C

Bek Arema Ceritakan Kengerian Tragedi Kanjuruhan

MALANG-KEMPALAN: Bek asing Arema FC Sergio Silva, menceritakan kengerian yang terjadi selama kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10) malam.

Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan usai Arema FC mengalami kekalahan dari sang rival bebuyutan Persebaya Surabaya di lanjutan pekan ke-11 Liga 1 musim 2022-2023.

Pada laga tersebut, Arema FC mengalami kekalahan tipis dengan skor 3-2. Tiga gol Persebaya dicetak oleh Silvio Junior, Sho Yamamoto, dan Leo Lelis. Sementara Arema hanya mampu membalas lewat dua gol Abel Camara.

Kekalahan itu membuat Aremania, sebutan suporter Arema, tak terima karena tim kesayangannya dipermalukan di kandang sendiri. Ribuan pendukung kemudian merangsek masuk ke dalam lapangan dan memicu kericuhan.

Bek Arema, Sergio Silva menceritakan kepada media Portugal bagaimana kengerian yang terjadi selama tragedi di Stadion Kanjuruhan itu.

Silva mengatakan bahwa setelah pendukung Arema mulai masuk ke lapangan, para pemain Singo Edan memilih untuk masuk ke ruang ganti guna menghindari tekanan dan menyelamatkan diri.

BACA JUGA: Liga 1 Dihentikan, Borneo FC: Kami Kecewa

“Meski kalah [2-3], kami [berencana] akan berjalan-jalan di sekitar stadion untuk menghormati para suporter, langkah itu terhenti di tengah lapangan.” kata pemain asal Portugal.

“Kami melihat indikasi beberapa suporter [masuk] ke lapangan, saya pikir banyak yang datang untuk memberi dukungan dan bukan untuk menyerang, tetapi lebih baik pergi ke ruang ganti.” tambah Silva.

Silva dan pemain Arema lain tidak tahu banyak situasi di luar ruang ganti. Dia menjelaskan bahwa para pemain Singo Edan menghabiskan sekitar lima jam di dalam ruang ganti.

“Kami menghabiskan empat atau lima jam di ruang ganti, dijaga dengan meja dan kursi yang menahan pintu.” kata Silva.

“Kami hanya merasa sedikit aman. Tentu saja kami tidak tahu apa-apa, ada banyak kebisingan, keributan dan jeritan di koridor. Kami tidak tahu apakah orang-orang berteriak di belakang kami atau karena terdesak.” tambah pemain berusia 28 tahun itu.

Selama berada di dalam ruang ganti, Silva juga mendengar teriakan-teriakan suporter menderita, baik karena gas air mata atau terinjak-injak.

Dia juga melihat banyak orang yang putus asa, termasuk juga melihat suporter yang meregang nyawa, dan yang ingin melarikan diri.

BACA JUGA: Renungan Kematian dari Tragedi Kanjuruhan

“Kami akhirnya membiarkan beberapa dari orang-orang ini.” kata Silva.

Mantan pemain UD Oliveirense itu juga mengatakan bahwa kerabat dari ofisial Arema FC ikut jadi korban tewas dalam tragedi di Kanjuruhan.

“Semua orang yang tewas dan terluka dievakuasi. Beberapa orang meninggal di dekat pemandian. Kami juga tahu kerabat salah satu asisten kami meninggal.” tambah Silva.

“Saya hanya bisa menyebutkan skenario mengerikan, kehancuran, perang, mobil polisi terbakar, semuanya rusak, koridor penuh dengan darah, sepatu orang-orang. Tidak ada hubungannya dengan sepak bola.” kata pemain berusia 28 tahun itu.

“Ada ketidakpuasan dengan kekalahan itu, tetapi saya pikir sebagian besar suporter bereaksi terhadap polisi, dan situasi menjadi tidak terkendali. Polisi juga akan berusaha membela diri. Situasinya sulit.” tutup bek Arema FC itu.

(*) Edwin Fatahuddin

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.