Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 19:37 WIB
Surabaya
--°C

Kremlin Sebut Moskow Siap Sambut Zelensky Kapan pun untuk Berdialog

KEMPALAN: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dapat datang ke Moskow kapan saja jika dia ingin mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kata Dmitry Peskov, juru bicara (jubir) Kremlin, pada Kamis (4/6) saat menanggapi surat terbuka Zelensky yang dirilis sebelumnya pada Kamis yang sama yang berisi usulan pertemuan tatap muka dengan Putin untuk membahas proses perdamaian.

“Ukraina mengusulkan untuk mengakhiri perang ini melalui dialog langsung antara kami, dan Anda. Saya mengusulkan sebuah pertemuan,” tulis Zelensky di dalam suratnya itu, sambil menyarankan agar Eropa dan Amerika Serikat (AS) turut dilibatkan.

Zelensky mengatakan bahwa tidak tepat jika menunggu AS mengalihkan kembali perhatiannya pada pengakhiran konflik Rusia-Ukraina, sementara saat ini AS sedang fokus pada perangnya dengan Iran.

Zelensky juga menyerukan agar sebuah tanggal pasti ditetapkan untuk pertemuan tersebut. Dia juga mengatakan Ukraina siap menerapkan gencatan senjata penuh selama proses negosiasi berlangsung.

Dia menyampaikan bahwa Swiss, Turkiye, dan beberapa negara Arab telah menyatakan kesediaan mereka untuk menjadi tuan rumah bagi pertemuan tersebut.

Peskov mengatakan Kremlin telah meninjau surat tersebut dan akan melaporkannya kepada Putin setelah rapat kerja.

“Presiden Putin telah mengatakan bahwa jika Zelensky ingin berdialog, dia bisa datang ke Moskow dan melakukannya,” kata Peskov.

Sebelumnya, Zelensky telah berulang kali menolak Moskow sebagai tempat untuk melakukan negosiasi.

Mengomentari upaya AS untuk membantu menyelesaikan konflik di Ukraina, Peskov mengatakan Rusia tidak pernah memandang peran AS secara berlebihan dan kepentingan nasional Rusia tetap menjadi prioritas utama.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis berkomentar bahwa dirinya “senang” mendengar prospek pembicaraan langsung antara Zelensky dan Putin. “Saya rasa akan sangat bagus jika mereka bertemu. Mereka sudah seharusnya bertemu. Segera lakukanlah,” ujar Trump.

Trump mengatakan kedua belah pihak perlu saling berkompromi, dan dirinya telah “mengusulkan kompromi-kompromi tersebut,” meski menolak membeberkan rinciannya.

Sebelumnya pada Kamis itu juga, di sela-sela Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg ke-29, Putin mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya telah menerima usulan kompromi Trump dari KTT Alaska tahun lalu. Dia mengimbuhkan bahwa usulan tersebut dapat “menjadi landasan perjanjian antara Rusia dan Ukraina serta cara untuk akhiri konflik.”

Dia mengungkapkan bahwa Moskow mengupayakan penyelesaian yang komprehensif, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Kejar Penerbitan SKT, Gerakan Rakyat Bengkulu Lengkapi Berkas Administrasi di Kanwil Kemenkum

KEMPALAN: Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gerakan Rakyat Provinsi Bengkulu kembali menyerahkan berkas perbaikan administrasi kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) setempat, pada Jumat (5/6/2026). Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses pemenuhan persyaratan guna menerbitkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) partai politik (parpol) tingkat provinsi.

Sekretaris DPW Partai Gerakan Rakyat Provinsi Bengkulu, Aurego Jaya menjelaskan pihaknya telah memasukkan kembali berkas perbaikan tersebut pada Kamis, 4 Juni 2026. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak Kanwil Kemenkum, masih ditemukan beberapa poin administrasi yang perlu disempurnakan.

Menurut Aurego, salah satu poin perbaikan berkaitan dengan surat keberadaan Partai Gerakan Rakyat di tingkat kabupaten dan kota. Daerah yang menjadi fokus perbaikan meliputi Kota Bengkulu, Kabupaten Kaur, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Lebong.

“Alhamdulillah, kami telah berkoordinasi dengan seluruh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerakan Rakyat yang berada di kabupaten dan kota tersebut. Seluruh jajaran telah bergerak cepat untuk melakukan perbaikan dan melengkapi surat keberadaan partai sesuai dengan ketentuan yang diminta, semoga dalam waktu dekat surat keberadaan dari Kesbangpol yang melakukan perbaikan segera kita dapatkan kembali,” ujar Aurego.

Selain persoalan surat keberadaan di daerah, tim internal juga menemukan ketidaksesuaian pada beberapa dokumen Kartu Tanda Penduduk (KTP) pengurus di tingkat pimpinan cabang, karena belum sinkron dengan data di Surat Keputusan (SK) kepengurusan.

Selain itu, beberapa dokumen SK yang sebelumnya belum didapati tanda stempel dan tanda tangan resmi organisasi kini seluruhnya telah diperbaiki dan dilengkapi.

Aurego menyampaikan apresiasi secara mendalam kepada seluruh jajaran pengurus partai yang telah bekerja keras memenuhi kelengkapan administrasi. Ia berharap adanya dukungan kerja sama yang baik dari pihak Kanwil Kemenkum Bengkulu agar proses verifikasi berjalan lancar.

“Kami sangat berharap kepada pihak Kanwil Kementerian Hukum Provinsi Bengkulu untuk dapat membantu dan bekerja sama dalam proses ini sehingga Surat Keterangan Terdaftar dapat segera diterbitkan. Dokumen tersebut sangat kami butuhkan sebagai bagian dari persyaratan administrasi yang harus dipenuhi untuk proses selanjutnya di Kementerian Hukum Republik Indonesia di Jakarta,” jelasnya.

Lebih lanjut, Aurego memaparkan bahwa secara kelembagaan, Partai Gerakan Rakyat di Provinsi Bengkulu menunjukkan perkembangan secara signifikan. Hingga kini, kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di tingkat kabupaten/kota telah terbentuk sekitar 90 persen. Dari total 10 kabupaten/kota di Bengkulu, hanya Kabupaten Bengkulu Tengah masih dalam tahap koordinasi pembentukan.

Sementara itu, untuk tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), capaian pembentukan organisasi sudah melampaui 50 persen, bahkan beberapa daerah di antaranya telah mencapai 90 hingga 100 persen.

“Untuk kelengkapan administrasi lainnya, Alhamdulillah seluruh persyaratan pada prinsipnya telah terpenuhi. Saat ini kami tinggal menunggu penerbitan SKT dari Kementerian Hukum melalui Kanwil Kementerian Hukum Provinsi Bengkulu,” tutup Aurego.

Hantu Kurs Dolar Rp 18.000

Perbandingan objektif antara pelemahan rupiah tahun 1998 dan kondisi saat rupiah mencapai Rp 18.000 per dolar, beserta faktor ekonomi dan politik yang membedakannya.

Oleh: Ahmadie Thaha

KEMPALAN: Ketika media-media asing seperti Al-Jazeera, Yahoo, France24 ikut memberitakan rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar AS, yang bangun sesungguhnya bukan hanya pasar. Ada hantu lama yang ikut terbangun: ingatan kolektif bangsa terhadap 1998.

Di grup WhatsApp, di warung kopi, sampai di kolom komentar media sosial, hantu krisis moneter kembali dipanggil dari alam kuburnya. Seolah-olah angka “delapan belas ribu rupiah” (Rp 18.000) itu, apalagi nanti Rp 20.000, adalah lonceng yang otomatis membangunkan “arwah Reformasi.

Logikanya sederhana, bahkan terlalu sederhana. Jika kejatuhan rupiah ikut juga menjatuhkan Soeharto pada 1998, maka kejatuhan rupiah hari ini pun diyakini sebagian orang dapat menyeret Prabowo Subianto – Gibran Rakabuning Raka ke nasib yang sama. Kurs dolar pun menjelma menjadi hantu.

Masalahnya, sejarah bukan mesin fotokopi. Ia lebih mirip cucu yang mewarisi wajah kakeknya, tetapi tidak selalu mewarisi nasibnya.

Saya coba membuat tujuh atau delapan perbandingan antara kedua rezim dan era, sehingga saya dan moga-moga Anda mempunyai cermin yang lebih utuh.

Perbandingan pertama adalah soal kurs itu sendiri. Tahun 1998 rupiah bukan sekadar tergelincir. Ia seperti truk rem blong yang meluncur dari puncak gunung menuju jurang. Dari sekitar Rp 2.500 per dolar, kurs menghantam Rp 16.800.

Itu berarti kala itu dolar naik sekitar 572 persen. Setiap utang dolar berubah dari anak kucing menjadi harimau lapar yang menerkam pemiliknya sendiri.

Dan hari ini, dari kisaran Rp 15.500 menuju Rp 18.000, pelemahannya sekitar 16 persen. Sepuluh hari lalu, The Economist menyebut penurunan 11 persen. Jika suatu saat rupiah mencapai Rp 20.000 per dolar, pelemahannya akan berada di kisaran 29 persen dibanding level Rp 15.500.

Ini jelas buruk. Tapi, membandingkannya dengan 1998 sama seperti menyamakan hujan deras dengan tsunami.

Perbandingan kedua adalah cadangan devisa. Menjelang krisis 1998, Indonesia memasuki badai hanya dengan payung kecil yang hampir patah. Cadangan devisa ketika itu sekitar dua puluh (20) miliar dolar.

Hari ini payung itu telah berubah menjadi atap baja dengan cadangan devisa di atas seratus empat puluh (140) miliar dolar. Hujan tetap bisa membasahi pakaian, tapi tidak otomatis menghanyutkan seluruh rumah.

Perbandingan ketiga adalah utang luar negeri swasta. Pada dekade 1990-an, ada banyak perusahaan Indonesia berpesta dengan pinjaman dolar. Musik terdengar merdu, lampu menyala terang, dan semua orang merasa kaya. Masalahnya, pesta itu dibayar dengan kartu kredit yang tagihannya baru datang saat dolar meledak.

Ketika kurs melonjak 572 persen, banyak perusahaan mendadak sadar bahwa mereka sedang berdansa di lantai yang ternyata rapuh. Hari ini risiko itu masih ada, tapi aturan lindung nilai dan pengawasan jauh lebih ketat dibanding masa lalu.

Perbandingan keempat adalah kondisi perbankan. Pada 1998, banyak bank ibarat rumah kayu yang diam-diam sudah dimakan rayap selama bertahun-tahun. Dari luar tampak megah.

Begitu badai datang, satu demi satu roboh seperti kartu domino. Hari ini sistem perbankan Indonesia jauh lebih tebal dindingnya. Belum tentu kebal terhadap badai, tetapi setidaknya tidak lagi terbuat dari papan lapuk.

Perbandingan kelima adalah pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1998 ekonomi Indonesia terjun hingga minus sekitar 13 persen. Itu bukan perlambatan. Tetapi itu pesawat yang kehilangan kedua mesinnya sekaligus.

Hari ini ekonomi masih tumbuh positif. Memang ada turbulensi, tapi pesawatnya masih terbang. Penumpang boleh cemas, namun belum saatnya berebut parasut.

Perbandingan keenam adalah dampaknya terhadap rakyat. Pada tahun 1998, PHK menyapu berbagai sektor seperti kebakaran hutan ketika musim kemarau. Pabrik tutup, usaha gulung tikar, dan jutaan orang kehilangan sumber penghidupan.  

Namun, hari ini tekanan ekonomi memang terasa, ada PHK pula, tetapi apinya belum menjalar menjadi kebakaran nasional yang bisa menghanguskan seluruh kawasan.

Perbandingan ketujuh adalah politik. Ini merupakan bagian yang paling sering disederhanakan. Banyak orang mengira Soeharto jatuh karena dolar mencapai Rp 16.800.

Itu seperti menyalahkan korek api atas kebakaran hutan. Korek api memang bisa memantik api, tetapi yang membuat hutan menjadi lautan bara adalah tumpukan ranting kering yang menumpuk selama puluhan tahun.

Soeharto jatuh ketika krisis kurs bertemu krisis perbankan, krisis ekonomi, diikuti perpecahan elit, gerakan mahasiswa, dan hilangnya legitimasi politik. Kurs dolar hanyalah pemicu. Yang merobohkan bangunan adalah fondasi yang sudah retak jauh sebelumnya.

Karena itu, menyamakan Rp 18.000 hari ini dengan Rp 16.800 pada tahun 1998 adalah cara tercepat untuk terlihat paham sejarah tanpa harus mempelajarinya. Semacam kemalasan berpikir yang dibungkus kenangan sejarah.

Tapi, jangan buru-buru merasa aman. Ada satu hal yang justru lebih berbahaya sekarang. Namanya kepercayaan. Dan, seperti rupiah, kepercayaan juga bisa mengalami depresiasi. Bedanya, Bank Indonesia punya cadangan devisa. Tidak ada bank sentral yang memiliki cadangan kepercayaan.

Pada tahun 1998 semua orang tahu rumah sedang terbakar. Tak ada yang sibuk berdebat apakah api itu benar-benar ada. Hari ini bahayanya lebih rumit. Pasar modern tidak menunggu rumah roboh. Investor tidak menunggu atap jatuh ke kepala. Mereka pergi begitu mencium bau asap dari kejauhan.

Karena itu persoalan terbesar bukanlah apakah kurs menyentuh Rp 18.000 atau bahkan Rp 20.000. Persoalan sesungguhnya adalah apakah pemerintah masih mampu meyakinkan publik bahwa mereka memegang peta ketika kapal mulai memasuki perairan yang bergelombang.

Cadangan devisa bisa dihitung. Rasio perbankan bisa diukur. Pertumbuhan ekonomi bisa diumumkan setiap triwulan. Tapi kepercayaan tidak pernah lahir dari tabel statistik.

Sejarah menunjukkan bahwa negara jarang terguncang oleh satu angka. Negara biasanya mulai limbung ketika angka-angka buruk bertemu dengan kepercayaan yang mulai keropos.

Dan jika rupiah adalah mata uang ekonomi, maka kepercayaan adalah mata uang politik. Bedanya, rupiah yang jatuh masih bisa dibeli kembali oleh bank sentral. Rupiah yang jatuh masih bisa diintervensi.

Kepercayaan yang jatuh seringkali hanya bisa dikenang.

*) Ahmadie Thaha, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Perang di Teluk Persia dan Batas Kekuatan Amerika Tanpa Aliansi

Pada akhirnya, krisis di Teluk Persia memperlihatkan satu pelajaran lama yang kembali relevan: dalam geopolitik modern, kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah kapal induk, jet tempur, atau rudal yang dimiliki.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Saat banyak pihak mempertanyakan sejauh mana kemampuan Amerika Serikat (AS) beroperasi tanpa dukungan sekutu-sekutunya, situasi di Teluk Persia menjadi contoh yang kerap disebut.

Perang yang berlangsung melawan Iran menunjukkan bahwa superioritas anggaran militer tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara cepat.

Iran bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Negara berpenduduk sekitar 90 juta jiwa tersebutnberdiri di atas bentang pegunungan yang membentuk semacam benteng alami di sepanjang wilayahnya.

Di balik lapisan batu dan gunung tersebut, berbagai fasilitas strategis militer – mulai dari pusat komando, gudang bahan bakar, lokasi produksi senjata hingga instalasi rudal – disebut tersebar dan terlindungi di bawah tanah.

Serangan besar-besaran dalam Operasi Epic Fury dilaporkan menyasar ribuan titik di berbagai wilayah Iran. Namun hingga kini, Teheran masih mampu meluncurkan serangan balasan.

Pertanyaannya, jika ribuan target sudah dihantam tetapi kemampuan tempur lawan belum lumpuh, seberapa efektif strategi yang digunakan selama ini?

Pada saat yang sama, Selat Hormuz masih menjadi persoalan utama. Jalur laut yang biasanya mengalirkan sekitar seperempat pasokan minyak harian dunia itu dilaporkan tetap tertutup sejak akhir Februari.

Ranjau laut, patroli bersenjata, dan ancaman serangan membuat lalu-lintas energi global seperti truk yang terjebak macet berhari-hari di gerbang tol tanpa petugas pembuka jalur.

Kondisi tersebut menghadirkan ironi tersendiri. Amerika Serikat memiliki anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah modern, tetapi hingga kini belum mampu membuka kembali jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Jika kekuatan sebesar itu masih menemui hambatan, apakah persoalannya semata-mata soal jumlah senjata?

Di sinilah peran sekutu menjadi sorotan. Negara-negara Eropa secara kolektif memiliki ribuan pesawat tempur yang bisa memperluas operasi udara sekaligus mengurangi beban armada Amerika.

Inggris, misalnya, mengoperasikan kapal induk dan armada kapal selam nuklir. Prancis memiliki kapal induk bertenaga nuklir serta kekuatan laut yang tidak kecil.

Italia, Norwegia, Belanda, Belgia, dan Polandia juga menyumbangkan kemampuan berbeda yang saling melengkapi.

Belgia dan Belanda memiliki reputasi kuat dalam operasi pembersihan ranjau laut, kemampuan yang sangat relevan untuk kondisi Selat Hormuz saat ini.

Norwegia telah menyelesaikan modernisasi armada tempurnya dengan pesawat F-35, sementara Polandia dikenal memiliki salah satu kekuatan darat terbesar di Eropa.

Jika seluruh kapasitas tersebut digabungkan, skala operasinya tentu akan berbeda dibandingkan jika ditanggung satu negara saja.

Bahkan daftar tersebut belum memasukkan kontribusi negara-negara lain seperti Finlandia, Swedia, Spanyol, Yunani, Portugal, dan Rumania.

Gambaran yang sering muncul di berbagai peta militer hanyalah sebagian kecil dari kapasitas pertahanan Eropa secara keseluruhan.

Ada pula faktor Ukraina yang tidak bisa diabaikan. Bertahun-tahun dalam menghadapi perang berskala besar membuat negara itu mengembangkan kemampuan drone dan peperangan elektronik yang juga banyak dianggap paling matang di dunia saat ini.

Pengalaman tempur yang diperoleh di medan perang tidak bisa dibeli layaknya perangkat baru dari katalog industri pertahanan.

Aspek lain yang sering luput dari perhatian adalah intelijen dan diplomasi. Beberapa negara Eropa, termasuk Jerman dan Prancis, mempertahankan jalur komunikasi dengan Teheran hingga beberapa waktu lalu.

Dalam situasi krisis pun, keberadaan saluran semacam itu seringkali lebih berguna daripada satu skuadron tambahan. Sebab, tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan rudal; sebagian justru  tetap membutuhkan pintu belakang yang tetap terbuka.

Karena itu sejumlah analis menilai, nilai utama sebuah aliansi bukan terletak pada simbol politiknya, melainkan pada kemampuan memperbanyak opsi.

Aliansi ibarat jaringan tetangga saat hajatan besar: kursi, tenda, dan tenaga bisa dipinjam dari banyak rumah. Ketika hubungan dengan para tetangga memburuk, maka tuan rumah mungkin masih bisa menggelar acara, tetapi biayanya jauh lebih mahal dan hasilnya belum tentu lebih baik.

Kebijakan luar negeri pemerintahan Donald Trump kembali menjadi bahan perdebatan dalam konteks tersebut.

Para pengkritiknya berpendapat bahwa hubungan Washington dengan sejumlah sekutu tradisional mengalami kemunduran selama beberapa tahun terakhir.

Dampaknya baru terasa ketika Amerika membutuhkan dukungan yang tidak dapat digantikan oleh anggaran pertahanan semata.

Pada akhirnya, krisis di Teluk Persia memperlihatkan satu pelajaran lama yang kembali relevan: dalam geopolitik modern, kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah kapal induk, jet tempur, atau rudal yang dimiliki.

Kadang-kadang, yang paling sulit dibangun justru kepercayaan. Dan ketika kepercayaan itu hilang, maka mengembalikannya tidak semudah memesan perlengkapan militer baru dari pabrik.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Dolar sebagai Alat Penjajahan dan Kekacauan

Padahal jika devisa hasil ekspor itu masuk ke kas Negara, niscaya negara tidak perlu bayar hutang dengan hutang baru dan puluhan ribu triliun itu jika sudah masuk ke Negara, niscaya dolar pun akan segera turun.

Oleh: Muslim Arbi

KEMPALAN: Dolar. Ya mata uang dolar. Mata uang Paman Sam itu saat ini seolah makin menjadi momok yang menakutkan.

Emang benar juga sih. Saat pada tahun 1998. Indonesia di bawah kepemimpian Presiden Soeharto dan ekonomi tinggal landas dengan sejumlah prestasi mulai dari Swasembada Pangan hingga dapat memproduksi Pesawat Sendiri CN235.

Dan posisi Dolar waktu itu Rp 2.800 per Dolar. Tak ada angin. Tak ada hujan tiba-tiba terjun bebas sampai mencapai angka Rp 17.000 per dolar.

Saat itu menjadi malapetaka Politik. Saat Rupiah terjun bebas. Akibatnya terjadi kekacauan ekonomi, politik dan keamanan sehingga jatuh pemerintah Soeharto saat itu.

Dengan kejadian itu saat ini tampaknya ada desain yang mau mencoba bermain dengan menggunakan dolar sebagai senjata ekonomi, politik dan keresahan sosial untuk berusaha menumbangkan rezim saat ini.

Prabowo Subianto baru menjabat belum mencapai 2 tahun pemerintahan. Banyak gebrakan yang dirasakan untuk berpihak pada kepentingan Rakyat.

Membereskan carut-marut 10 tahun pemerintahan Joko Widodo yang banyak dikendalikan oleh pemilik modal dan Oligarki ekonomi dan Politik. Prabowo menebas dan menerabas banyak kejahatan yang terpendam pada saat Jokowi berkuasa. Tampaknya ini memang tidak mudah.

Ketika kekuatan pemilik modal itu masih saja menggunakan senjata dolar sebagai alat tekan terhadap kebijakan rezim saat ini.

Pemberlakuan pasal 33 UUD supaya ekspor satu pintu agar kebocoran puluhan ribu triliun yang selama ini akibat carut-marut tata kelola Ekspor dapat masuk ke negara dikritik sejumlah pihak.

Padahal jika devisa hasil ekspor itu masuk ke kas Negara, niscaya negara tidak perlu bayar hutang dengan hutang baru dan puluhan ribu triliun itu jika sudah masuk ke Negara, niscaya dolar pun akan segera turun.

Hal ini penting untuk memantau lalu-lintas devisa dari para ekportir selama ini. Sehingga, negara dapat mengontrol dengan tepat jika dana hasil ekspor dalam bentuk dolar tidak masuk ke kas negara.

Selain itu pergerakan dolar yang semakin menguat dan melemahkan posisi rupiah semata karena faktor ekonomi atau faktor lain?

Mengapa di saat Soeharto memimpin, pertumbuhan ekonomi tinggi dan rupiah kuat sampai pada kurs Rp 2.800 per dolar dan kemudian terjun bebas ke angka Rp 17.000 per dolar. Apakah itu semata karena tekanan ekonomi atau ada tekanan politik dengan dolar sebagai senjata?

Faktor – faktor pelemahan rupiah yang begini cepat dan di sertai dengan isu-isu yang sengaja di produksi bulan Juni – Juli bahkan agustus akan ada kerusuhan?

Tidakkah ini sebagai desain situasi untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan negara dengan dolar sebagai senjata pemicunya?

Solusi saat ini adalah segera mengganti Gubernur Bank Indonesia. Memperkuat fundamental ekonomi, mengontrol lalu-lintas devisa dari hasil Eskpor satu pintu, penegakkan hukum yang tegas, bila perlu trik Presiden BJ Habibie menekan dolar dari Rp 17.000 menjadi Rp Rp 6.800 patut diterapkan kembali.

Terlepas dari itu semua. Mengapa harus mengelandalkan dolar. Kita bukan negara bagian paman sam. Kita negara berdaulat. Bagaimana bikin rupiah terus berdaulat dan kuat. Kedaukatan negara tegak termasuk dalam mata uang rupiah.

*) Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Saat Hati Berhenti Berlari Mengejar Penilaian Manusia

Maka berhentilah lelah karena hal yang sia-sia. Luruskan niat hati setiap hari. Lanjutkan berbuat baik tanpa menggantungkan hasil pada tepuk tangan. Dan serahkan sisanya kepada Pemilik sejati ketenangan.

Oleh: Gus Bahar

KEMPALAN: Ada satu kelelahan yang jarang disadari tapi perlahan menggerogoti kebahagiaan kita sehari-hari: keinginan untuk dipahami oleh semua orang. Kita sudah menjelaskan sesuatu sejernih mungkin, masih saja disalahpahami.

Kita sudah berbuat baik tanpa pamrih, masih saja dicurigai menyembunyikan kepentingan. Kita sudah berusaha membantu dengan tulus, masih saja dituduh ingin dipuji. Lalu hati kecil kita bertanya dengan letih, “Kurang apa lagi yang harus aku lakukan?”

Jawabannya mungkin tidak nyaman untuk didengar: bukan karena kita kurang berbuat, tetapi karena kita sedang belajar satu pelajaran hidup paling dewasa – bahwa tidak semua orang dirancang untuk mengerti perjalanan kita.

Sejak kecil, kita terbiasa mencari penerimaan. Kita senang ketika dipuji, hancur ketika dicela. Kita tenang ketika didukung, gelisah ketika ditinggalkan. Tanpa disadari, ketenangan hidup kita ikut ditentukan oleh sikap manusia di sekitar.

Jika mereka senang kepada kita, hati pun teduh. Jika mereka berubah sikap, hati kita ikut berubah. Pujian itu membuat semangat melambung, cibiran membuat semangat merosot. Tanpa sadar kemudi hati seperti itu sedang kita serahkan ke tangan orang lain.

Padahal manusia itu berubah-ubah. Hari ini ia mendukung, besok belum tentu. Hari ini ia memuji, lusa bisa saja mengkritik tajam. Hari ini ia dekat, suatu saat ia bisa menjauh tanpa alasan yang jelas.

Jika hati kita bergantung kepada sesuatu yang selalu berubah, maka hidup akan berada dalam goyangan terus-menerus. Seperti kapal yang berpacu pada ombak, ia akan oleng setiap kali badai datang.

Para alim ulama pada masa lalu mengajarkan satu prinsip sederhana namun luar biasa kuatnya: berbuat baiklah kepada manusia, tetapi jangan menggantungkan ketenangan hatimu kepada mereka.

Ini bukan ajakan menjadi antipati, sombong, atau masa bodoh. Justru sebaliknya. Ini adalah pintu menuju cinta yang lebih sehat, lebih dewasa, dan lebih ringan.

Kita tetap menghormati orang lain, tetap mendengarkan masukan, kita juga tetap menerima kritik yang membangun, serta tetap menjaga silaturahmi. Hanya saja, di kedalaman hati kita tanam kesadaran yang kokoh: penilaian manusia bukanlah sumber ketenangan sejati. Kembalikan semua hanya pada Allah SWT.

Karena jika ketenangan hidup kita bergantung pada manusia, kita akan sibuk mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai. Namanya “menyenangkan semua orang” – sebuah beban yang tidak pernah dititipkan kepada siapa pun di dunia ini.

Perhatikan di sekitar kita. Ada yang lelah karena ingin semua orang menyukainya. Ada yang sakit hati karena ingin semua orang setuju dengan pandangannya. Ada yang stres karena ingin membersihkan semua prasangka buruk orang terhadap dirinya.

Padahal, pekerjaan itu tidak akan pernah rampung. Bahkan orang-orang terbaik dalam sejarah – para nabi, pemimpin besar, dan tokoh bijak – tetap memiliki lawan, pencela, dan orang yang salah paham.

Seorang nabi dituduh gila, nabi lain disebut tukang sihir, dan ada juga yang dicaci sebagai pujangga yang sesat. Jika manusia-manusia istimewa itu saja tidak luput dari kesalahpahaman, lalu mengapa kita begitu mati-matian mengejar validasi semua orang?

Salah satu kelemahan kita yaitu fokus berlebihan pada satu orang yang menjauhi, sampai lupa puluhan orang yang masih setia mendampinginya. Kita terlalu sibuk memikirkan satu pintu yang tertutup, sampai lupa bahwa masih banyak pintu lain yang terbuka lebar.

Kita menghabiskan energi guna mengingat satu kritik pedas, sampai lupa puluhan pujian tulus yang pernah kita terima.

Coba renungkan sejenak. Siapa saja yang masih ada di sekeliling kita saat ini? Siapa yang tanpa pamrih mendoakan langkah kita? Siapa yang tetap percaya meskipun orang lain meragukan?

Siapa yang diam-diam hadir ketika kita tidak sedang menjadi versi terbaik dari diri kita? Bukankah kehadiran mereka itu adalah karunia yang jauh lebih berharga daripada kepergian seseorang yang terus-menerus mencari-cari kesalahan kita?

Hidup bukanlah tentang siapa yang pergi. Hidup lebih sering tentang siapa yang masih dihadirkan di sekeliling kita.

Menariknya, ketika seseorang berhenti menggantungkan dirinya kepada manusia, justru ia menjadi lebih ringan dalam mencintai manusia.

Ia membantu tanpa banyak berharap balasan. Ia memberi tanpa terus-menerus menghitung penghargaan. Ia bekerja tanpa sibuk mencari pengakuan.

Jika dihargai, ia bersyukur. Jika tidak dihargai, ia tetap melangkah. Bukan karena ia tidak punya perasaan, tetapi itu karena ia sudah tahu ke mana harus meletakkan harapan yang paling dalam.

Dalam kearifan lama yang indah, ada ungkapan: menanam kebaikan tidak perlu gaduh. Pohon mangga tidak pernah mengumumkan dirinya sedang berbuah.

Ia cukup tumbuh, berbunga, lalu orang-orang datang sendiri ketika buahnya matang. Demikian pula dengan kebaikan. Tidak semua niat baik harus dipahami saat ini. Tidak semua ketulusan harus diakui hari ini juga.

Kadang tugas kita hanyalah melakukan yang benar, lalu membiarkan waktu dan Yang Maha Mengetahui menjelaskan sisanya. Kita tidak harus membela diri setiap kali disalahpahami.

Kita tidak harus meyakinkan semua orang tentang ketulusan kita. Cukup terus berjalan di atas kebaikan, karena kebenaran tidak akan selamanya tertutup kabut.

Seringkali yang membuat hati letih bukanlah beratnya pekerjaan, melainkan banyaknya harapan yang kita gantungkan kepada manusia. Kita ingin dimengerti, dihargai, dibela, dianggap baik. Padahal semakin dewasa seseorang, semakin ia sadar bahwa tidak semua itu bisa didapatkan sekaligus.

Ada kalanya kita harus tetap berjalan meskipun disalahpahami. Tetap tersenyum meski dicurigai. Tetap berbuat baik meskipun tidak dianggap. Tetap mendoakan meskipun tidak dibalas dengan doa.

Sebab nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan yang mengiringinya. Jika setiap langkah kita menunggu pengakuan manusia, kita akan mudah berhenti di tengah jalan.

Tetapi jika langkah itu lahir dari keyakinan bahwa ada Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, perjalanan akan terasa lebih tenang. Mungkin tidak lebih mudah, tetapi jauh lebih tenang.

Pada akhirnya, hidup ini mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam. Tidak semua orang akan memahami kita. Tidak semua orang akan menerima kita. Tidak semua orang akan berjalan bersama kita. Dan itu tidak apa-apa.

Sebab tujuan hidup bukanlah membuat semua manusia ridha kepada kita. Tujuan hidup adalah menjaga hati agar tetap dekat dengan Yang Menciptakannya, meski manusia datang dan pergi silih berganti.

Ketika seseorang sampai pada pemahaman ini, ia tidak lagi terlalu sibuk mengejar penilaian manusia.

Ia akan lebih sibuk menjaga niat, memperbaiki diri, dan melanjutkan kebaikan yang bisa ia lakukan. Ia tidak mudah hancur oleh celaan, juga tidak mudah terbuai oleh pujian. Ia tahu bahwa keduanya adalah ujian yang sama beratnya.

Yang paling penting dalam hidup bukanlah berapa banyak orang yang mengenal kita.

Melainkan: ketika semua suara manusia meredup – ketika tidak ada lagi yang memuji, tidak ada lagi yang mencela, tidak ada lagi yang mendukung, juga tidak ada lagi yang meninggalkan – apakah hati kita masih tahu kepada siapa ia harus pulang?

Jika jawabannya adalah kepada Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana, maka tenanglah. Karena Dia tidak pernah salah paham. Dia tidak pernah berubah. Dia selalu mengetahui tulusnya niat baik kita, bahkan kala seluruh dunia meragukan.

Maka berhentilah lelah karena hal yang sia-sia. Luruskan niat hati setiap hari. Lanjutkan berbuat baik tanpa menggantungkan hasil pada tepuk tangan. Dan serahkan sisanya kepada Pemilik sejati ketenangan.

Karena kemudi itu hanya pantas berada di tangan yang paling kita percayai. Disanalah ketenangan sejati bersemayam.

*) Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Global Bond Danantara: Lazim, tapi Perlu Transparansi

Oleh: S. Alamsyah

KEMPALAN: Danantara Indonesia sedang sibuk mempersiapkan penerbitan global bond. Nilainya sampai US$5 miliar atau sekitar Rp80 triliun. Ini besar. Dan yang menarik, skemanya pakai format 144A dan Reg S, plus senior unsecured notes di bawah program GMTN. Istilah-istilah ini memang akrab di pasar modal global.

Saya coba jelaskan sederhananya dulu. GMTN itu singkatan dari Global Medium Term Notes. Intinya surat utang berskala global dengan jangka waktu menengah. Tetapi penerbitannya nggak harus sekaligus. Mereka bisa keluarkan sedikit demi sedikit tergantung permintaan pasar.

Nah, yang bikin agak rumit adalah label senior unsecured notes. Artinya utang ini nggak punya jaminan. Nggak ada aset yang digadai. Kreditor cuma pegang prospektus dan kepercayaan bahwa Danantara bakal bayar.

Lalu apa itu 144A/Reg S? Ini aturan dari Amerika. 144A mengizinkan perusahaan asing jual utang ke investor institusi besar di AS. Tapi tidak perlu mendaftar ke SEC (Securities and Exchange Commission) secara publik.

Sedangkan Reg S mengatur penjualan untuk investor di luar AS. Jadi kalau digabung, Danantara bisa menjangkau investor global dari Amerika sampai Asia. Tapi dengan syarat hanya investor kelas kakap yang boleh ikut.

Mereka yang disebut qualified institutional buyer—minimal punya portofolio investasi USD 100 juta. Artinya hedge fund, perusahaan asuransi raksasa, dana pensiun gede. Bukan orang biasa.

Lazim di Dunia

Sebelum terlalu kritis, kita lihat dulu dari sudut pandang pemerintah dan tim Danantara. Skema macam ini sebenarnya tidak aneh. SWF negara lain seperti Temasek (Singapura) atau ADIA (Uni Emirat Arab) juga sering pakai. Bahkan China terkadang pakai pola serupa untuk entitas tertentu. Keuntungannya jelas: mereka bisa cari utang lebih murah, prosesnya cepat, dan nggak perlu buka semua data ke publik yang justru bisa bikin spekulasi liar.

Lagi pula, senior unsecured notes bukan berarti tanpa risiko sama sekali. Istilah senior itu penting. Artinya kalau terjadi kebangkrutan—amit-amit—pemegang utang ini punya hak lebih dulu dibanding pemegang utang subordinasi. Jadi meskipun tanpa agunan, masih ada hierarki klaim. Ini instrumen standar di pasar global.

Nah, di sinilah letak masalahnya. Danantara itu milik negara. Uangnya uang rakyat. Aset yang dikelola adalah aset BUMN. Tapi dengan skema 144A/Reg S, hampir semua dokumen penerbitan utang itu bersifat non-disclosed. Artinya rakyat nggak bisa lihat. DPR pun belum tentu bisa akses sebelum kesepakatan terjadi. Dalilnya untuk alasan kerahasiaan strategis. Tapi orang awam seperti saya jadi bertanya: Kalau semua dirahasiakan, bagaimana kami tahu ini tidak merugikan?

Ini berbeda dengan SWF China, Arab, atau Singapura. Mereka membangun dana kekayaannya dari tabungan kas negara atau cadangan devisa. Artinya mereka punya uang tunai lebih dulu, baru investasi. Tapi Danantara dibangun dari aset—BUMN yang masih beroperasi, belum likuid.

Jadi kalau Danantara macet bayar utang ini–amit-amit lagi–, tebak siapa yang bakal disuruh tanggung jawab? Bisa-bisa APBN yang jadi jaminan terakhir. Atau kalau lebih parah lagi, aset BUMN yang disita kreditor. Dan saat itu terjadi, yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi kita semua.

Malaysia pernah punya sejarah. Kasus MD1 juta. Memang detailnya tidak pernah terbuka. Tapi yang bocor ke publik adalah ketika utang itu bermasalah, negara ujung-ujungnya harus turun tangan. Entah itu melalui dana talangan atau restrukturisasi, tapi ujungnya dari kas negara juga. Jadi sebenarnya skema senior unsecured tanpa jaminan itu bukan berarti aman. Ia hanya mengalihkan risiko dari kreditor ke negara, tanpa persetujuan eksplisit dari rakyat.

Perlu Transparansi

Saya pribadi tidak anti dengan global bond. Danantara butuh duit besar untuk investasi. Tapi transparansi nggak bisa ditawar. Kalau memang dokumen penerbitan harus dirahasiakan dari publik karena alasan kompetisi bisnis, setidaknya DPR harus diberi akses secara tertutup.

Mereka bisa membuat mekanisme khusus: komite yang dilantik, bersumpah kerahasiaan, lalu memeriksa term sheet dan covenant utang itu sebelum dieksekusi. Bukan setelah tanda tangan, lalu rakyat cuma bisa komentar di media sosial.

Tanpa mekanisme seperti itu, skema 144A/Reg S bukan lagi alat efisiensi. Ia menjadi celah. Celah untuk utang rahasia yang suatu hari bisa membebani kita semua tanpa pernah kita sadari. Semoga pemerintah mendengarkan. (*)

Jakarta, 5 Juni 2026

Penulis adalah Ketua Komite Tetap Hubungan Antar Lembaga Negara dan Pemerintahan KADIN Jawa Timur / Pendiri Pusat Studi Pembangunan berbasis Pancasila

Merawat Lingkungan Sebagai Fondasi Kehidupan

Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini yaitu untuk menjaga dan memulihkan lingkungan adalah bentuk bakti tulus kita kepada ibu pertiwi, sekaligus investasi terbaik bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk di muka bumi.

Oleh: Hamid Nabhan

KEMPALAN: Setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebuah momen global yang pada tahun 2026 ini mengusung semangat menginspirasi dari alam demi iklim dan masa depan kita bersama.

Peringatan ini sejatinya bukan sekadar seremonial, melainkan adalah panggilan mendalam bagi seluruh umat manusia untuk merenungkan kembali kedudukan kita di tengah alam semesta serta menyadari bahwa lingkungan hidup bukanlah sekadar latar tempat kita berpijak.

Tapi juga fondasi mutlak yang menopang setiap denyut kehidupan, kesejahteraan sosial, dan kesehatan fisik serta mental manusia.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Mahatma Gandhi, bahwa bumi sebenarnya telah menyediakan cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan segelintir orang.

Sebuah pesan abadi yang mengingatkan kita, alam sesungguhnya berkecukupan bagi kita semua, asalkan kita tidak dikuasai oleh keinginan berlebihan yang hanya menguntungkan sebagian pihak saja.

Lingkungan hidup merupakan sistem kehidupan yang sangat kompleks dan juga sempurna, di mana setiap unsur saling berkaitan dan menopang satu sama lain.

Hutan yang rimbun berfungsi sebagai paru-paru bumi yang menyediakan oksigen, sungai dan danau menjadi sumber air bersih yang menghidupi jutaan makhluk, tanah yang subur menjadi tempat tumbuhnya pangan, dan udara yang bersih menjadi syarat utama kelangsungan napas kita.

Berdasarkan pandangan Fauna & Flora International, manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan sehingga apa pun yang menimpa alam pasti akan berbalik berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri.

Keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya bukan hanya kekayaan semata, melainkan jaring pengaman kehidupan yang menjernihkan udara, menyaring air, menyuburkan tanah, menyerap karbon, dan menjaga kestabilan iklim, di mana hilangnya satu spesies saja dapat mengganggu keseimbangan seluruh sistem yang ada.

Lebih dari separuh aktivitas ekonomi global bergantung langsung pada kelestarian alam, miliaran manusia menggantungkan hidupnya pada hasil hutan dan sumber daya alam lainnya, menjadikan alam sebagai tulang punggung peradaban manusia sejak awal sejarah.

 Peran lingkungan bagi kesehatan manusia sangatlah fundamental sebagaimana ditegaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, bahwa lingkungan yang sehat adalah prasyarat utama kesehatan manusia yang optimal.

Data menunjukkan bahwa hampir seperempat dari seluruh beban penyakit di dunia ini berkaitan dengan kondisi lingkungan, dan kerusakan alam menjadi penyebab utama dari jutaan kematian dini setiap tahunnya akibat polusi udara, air yang tercemar, dan perubahan iklim.

Alam bukan hanya menjaga kesehatan fisik dengan menyediakan sumber obat-obatan alami, di mana sebagian besar obat modern dan tradisional berasal dari tumbuhan, namun juga berfungsi sebagai terapi mental yang ampuh; berada di lingkungan yang asri terbukti mampu menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kualitas fungsi otak dan kestabilan emosi manusia.

Ruang terbuka hijau dan ekosistem yang utuh juga berperan sebagai benteng pertahanan alami yang melindungi kita dari berbagai ancaman bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga dampak dahsyat badai yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Namun realitas yang kita hadapi saat ini sangatlah memprihatinkan. Bumi telah mengirimkan berbagai sinyal bahaya yang nyata dan semakin jelas, mulai dari naiknya permukaan air laut, pencairan gletser, kebakaran hutan yang meluas, hingga gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah dunia.

Para ilmuwan dalam laporan kesenjangan emisi memperingatkan bahwa suhu bumi kemungkinan besar akan melampaui batas kritis satu setengah derajat Celcius dalam kurun waktu satu dekade ke depan jika tidak ada perubahan mendasar yang dilakukan saat ini.

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini diperparah oleh pola pembangunan yang kurang memperhatikan prinsip keberlanjutan, padahal menurut lembaga proyek pembangunan PBB, infrastruktur memiliki pengaruh terhadap lebih dari sembilan puluh persen target pembangunan berkelanjutan.

Ketika perencanaan pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan utuk kelestarian alam, hal ini justru menjadi salah satu penyebab utama hancurnya habitat alami, terpecahnya ekosistem, meningkatnya tingkat polusi, dan juga menyumbang sebagian besar emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.

Dampak dari kerusakan ini tidak lagi menjadi ancaman di masa depan, melainkan sudah kita rasakan secara nyata saat ini juga.

Ekosistem yang rusak menyebabkan hilangnya sumber daya alam yang menjadi penopang hidup, membuat air bersih semakin langka, tanah semakin kehilangan kesuburannya, dan hasil tangkapan laut semakin menurun yang memicu krisis pangan.

Perubahan iklim yang terjadi mengubah pola penyebaran penyakit menular, juga meningkatkan risiko kekurangan gizi, dan memicu kematian akibat suhu ekstrem, dengan proyeksi ratusan ribu kematian tambahan setiap tahun dalam beberapa dekade mendatang akibat dampak lingkungan ini.

Ketidakseimbangan alam juga berpotensi memicu konflik sosial akibat persaingan memperebutkan sumber daya yang semakin terbatas serta menurunkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Kendati demikian, harapan belum sepenuhnya hilang dan masih terbuka lebar selama kita mau bertindak sekarang. Solusi yang paling mendasar terletak pada perubahan cara pandang dan pola pembangunan yang kita terapkan.

Kita harus berani beralih menuju pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif, di mana kemajuan ekonomi tidak lagi berjalan berlawanan dengan kelestarian alam, melainkan saling mendukung satu sama lain.

Perencanaan yang tepat mampu menciptakan sistem yang melindungi ekosistem, menekan emisi karbon, dan memberi layanan dasar yang sehat bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan sekitarnya.

Pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi satu kesatuan utuh juga perlu diterapkan, mengingat kesehatan kita sangat bergantung pada kesehatan alam di sekitar kita.

Tanggung jawab menjaga lingkungan ini bukan hanya beban bagi pemerintah atau kalangan aktivis semata, melainkan kewajiban moral untuk setiap individu yang menghuni bumi ini.

Langkah sederhana seperti dengan mengurangi penggunaan plastik, menghemat pemakaian air dan energi, membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, hingga mendukung kebijakan dan produk yang ramah lingkungan adalah bentuk nyata kontribusi kita dalam menjaga keseimbangan alam.

Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa merusak lingkungan itu sama artinya dengan merusak rumah tempat kita tinggal dan perlahan menghancurkan masa depan generasi penerus.

Melestarikan alam bukanlah berarti menghambat kemajuan, melainkan untuk memastikan bahwa kemajuan tersebut dapat dinikmati secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelayakan hidup di masa mendatang.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mari kita renungkan kembali pesan mendalam bahwa alam sejatinya tidak membutuhkan manusia untuk terus bertahan hidup, tapi manusialah yang sangat bergantung pada alam untuk tetap mampu bernapas dan melanjutkan kehidupan.

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, jagalah bumi karena bumi itu adalah ibumu.

Pesan mulia ini mengingatkan kita bahwa seperti halnya seorang ibu yang selalu senantiasa menyayangi, memelihara, dan juga memberi kehidupan kepada anak-anaknya, demikian pula bumi merawat dan menghidupi kita semua.

Maka, menyakiti dan merusak bumi sama artinya dengan menyakiti dan durhaka kepada ibu yang telah melahirkan dan memelihara kita sejak awal.

Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini yaitu untuk menjaga dan memulihkan lingkungan adalah bentuk bakti tulus kita kepada ibu pertiwi, sekaligus investasi terbaik bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk di muka bumi.

Menjaga agar bumi tetap menjadi tempat yang layak, sehat, dan indah untuk ditinggali oleh kita semua dan generasi yang akan datang.

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Tidak Mati

MBG terlihat akan jalan terus. Anggaran yang dibelanjakan sudah terlalu besar. Ekosistem sudah mulai terbentuk meski masih di tahap awalnya. Perbaikan terus dilakukan.

Oleh: Dahlan Iskan

KEMPALAN: Model komunikasi Presiden Prabowo Subianto terlihat baru: sehari setelah mencopot Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, sebuah acara besar diadakan di gedung pertemuan besar dan mewah di Sentul. Yang dihadirkan para pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gedung berkapasitas 10.000 orang itu penuh sesak: mereka adalah penggerak dan pelaksana dapur MBG.

Jelaslah bahwa MBG tidak akan dibatalkan. Masyarakat pun kelihatannya merasa terpuaskan oleh pemecatan dan penangkapan Kepala BGN beserta dua wakilnya. Banyak yang usul diberikan hukuman tambahan kepada mereka: kepala mereka dipukuli dengan panci dan wajan.

Bahwa biayanya sangat besar, Presiden Prabowo sedang berusaha cari uang: menyatukan ekspor batu bara dan sawit lewat satu pintu Danantara Sumberdaya Indonesia.

Bagi rakyat, yang penting, kelihatannya, jangan jadikan uang besar itu sebagai barang jarahan para pimpinan BGN/MBG. Soal uangnya dari mana bukan tugas rakyat untuk memikirkannya.

Satu per satu mulai ditemukan cara kontrol sederhana atas mutu MBG. Bahwa setidaknya sudah dua jenis makanan yang ditemukan cara kontrolnya: telur dan ayam. Telur tidak boleh didadar. Harus direbus.

“Kalau didadar bisa dicampuri macam-macam,” ujar presiden di acara di Sentul itu. “Campuran tepungnya bisa lebih banyak,” ujar presiden, yang disambut teriakan serentak dari sebagian besar yang hadir: “betuuuuuul….”.

Telur itu juga tidak boleh dipotong dua atau tiga. Harus satu butir telur. “Kalau perlu difoto,” ujar presiden. Maksudnya kalau di sajian menu ditemukan telur dadar dan telur yang tidak utuh bisa dilaporkan.

Juklak kedua: untuk menu ayam, ayamnya dipotong berapa. Di dekat podium presiden ada sajian dua piring ayam goreng yang dipotong-potong. Di piring yang kanan satu ayam dipotong 14. Di piring kiri satu ayam dipotong 8.

Presiden minta agar kamera media menampilkan potongan ayam itu dari atas, agar jelas. Lalu emak-emak dari dapur MBG diminta naik panggung. Mereka berebut ke podium, menyaksikan potongan ayam itu dari dekat. Presiden pun mengajak emak-emak itu untuk membicarakan potongan itu.

Akhirnya satu “kesepakatan” diambil: dipotong 14 terlalu kecil, dipotong delapan terlalu besar. Maka sebaiknya satu ayam dipotong antara 10 sampai 12 potong tergantung besar-kecil ayamnya. Ayam yang dijual di pasar selama ini beratnya antara 1 sampai 1,2 kg (setara dengan ayam hidup antara 1,2 kg sampai 1,5 kg).

Di panggung itu presiden seperti seorang penyuluh dapur MBG. Yang hadir pun terlihat antusias. Kepentingan dapur MBG adalah agar anggaran satu porsi yang ditentukan pemerintah jangan banyak berkurang di proses pengurusannya.

Menurut ilmu gizi, untuk anak SD, kebutuhan proteinnya sekitar 35-50 gram sehari. Berarti satu ayam dipotong 10 sampai 12 masih cukup. Asal, juga ada tambahan protein dari telur, tempe atau tahu. Dan susu.

Rasanya enam bulan ke depan fokus pimpinan baru BGN ke soal telur yang jangan didadar dan ayam yang jangan jadi 14 potong. Tapi tahun depan harus lebih maju lagi: bagaimana MBG menjadi pendorong bergeraknya ekonomi di desa. Agar biaya yang besar dari APBN itu tidak habis begitu saja.

Memang sampai sekarang ini juga belum ada juklaknya: siapa penanggung jawab pengaitan MBG dengan perputaran ekonomi di desa. Kalau itu diserahkan ke BGN terlalu jauh. Kalau diserahkan ke menteri pertanian terlalu detail.

Diserahkan ke bupati setempat? Apakah ada bupati yang mau berpikir teknokratis dan manajerial seperti itu?

Sebenarnya ideal sekali ada koordinasi di satu kabupaten: berapa telur dan ayam dibutuhkan oleh seluruh dapur MBG di satu kabupaten itu. Lalu perlu sayur apa saja dan berapa banyak.

Apakah sudah ada peternak telur dan daging ayam di kabupaten itu. Bagaimana pula mengatur distribusinya. Ini pekerjaan mulia tetapi njelimet. Pasti bisa. Asal mau.

MBG terlihat akan jalan terus. Anggaran yang dibelanjakan sudah terlalu besar. Ekosistem sudah mulai terbentuk meski masih di tahap awalnya. Perbaikan terus dilakukan.

Kalau keputusan sudah dibuat, kalau dikritik seperti apa pun tidak juga dibatalkan, maka pilihannya hanya satu: harus all out, termasuk mencari jalan bagaimana kian efisien. Kuncinya: efisien atau mati. (Disway)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.