Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 20:36 WIB
Surabaya
--°C

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gerakan Rakyat Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Fiskal

KEMPALAN: Wakil Ketua Umum Gerakan Rakyat, Yusuf Lakaseng menyampaikan peringatan keras kepada pemerintah terkait tren pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS.

“Beberapa hari ini kita lihat rupiah kita terus terdepresiasi jatuh dan sekarang angkanya sudah 18 ribu rupiah. Ini tidak bisa dianggap main-main. Walaupun pemerintah kita selalu bicara bahwa kita baik-baik saja, karena fundamental ekonomi kita bagus, tapi faktanya tidak seperti itu,” ujar Yusuf di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menurut Yusuf, langkah Bank Indonesia (BI) melalui intervensi cadangan devisa, menaikkan suku bunga, hingga penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sudah maksimal, namun belum mampu menahan depresiasi.

“Maka kita harus dengan jujur mengatakan bahwa ada faktor domestik yang juga dominan di sini. Semua pihak atau banyak pihak sudah menyampaikan bahwa kejatuhan rupiah sesungguhnya ini menggambarkan ada krisis kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi kita. Ada semacam lubang hitam dalam ekonomi domestik kita,” jelasnya.

Lebih lanjut, Yusuf membeberkan sejumlah indikator domestik sebagai pemicu sentimen negatif pasar, salah satunya lonjakan defisit fiskal pada kuartal pertama yang mencapai 240 triliun, atau membengkak 140 persen dibandingkan periode tahun lalu.

“Ada defisit fiskal yang cukup lebar di kuartal pertama sampai Rp240 triliun, 140 persen lebih besar dari periode waktu yang sama di tahun sebelumnya atau tahun 2025,” tutur Yusuf.

Selain tekanan dari eksternal seperti konflik Selat Hormuz, posisi utang luar negeri Indonesia juga dinilai berada dalam fase mengkhawatirkan jika diukur dari kapasitas pendapatan negara alias Debt Service Ratio (DSR), bukan sekadar rasionya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Tetapi melihat utang kita bukan hanya berapa rasionya terhadap PDB, yang paling penting sebenarnya adalah rasionya terhadap pendapatan kita atau DSR-nya atau yang disebut Debt Service Ratio. Rasio utang terhadap pendapatan kita, jika cicilan bunga, cicilan pokok ditambahkan beban pembayaran utang kita, itu sudah mencapai bahkan 47 persen dari pendapatan kita. Itu artinya hampir setengah fiskal kita dipakai untuk menyicil bunga utang dan pokoknya. Ini alarm bahaya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Yusuf pun secara khusus menyoroti alokasi anggaran yang sangat besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

“MBG mungkin harus dirasionalisasi, tidak dihentikan, tapi betul-betul hanya diperuntukkan mereka yang membutuhkan. Di daerah 3T, di kantong-kantong kemiskinan yang banyak terjadi stunting, cukup di situ saja. Mungkin anggarannya cukup 20 triliun saja,” ucap Yusuf.

“Begitupun juga koperasi Desa Merah Putih, mungkin tidak seluruhnya 80 ribu yang ada terbangun, bukan itu saja dulu yang diteruskan, diujicobakan. Jika memang berhasil mengangkat perekonomian di tingkat desa, maka diteruskan. Jika tidak, dihentikan,” tambahnya.

Yusuf berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar komitmen investasi internasional oleh Presiden Prabowo Subianto dapat segera terealisasi menjadi arus modal masuk yang riil demi menstabilkan kembali nilai tukar rupiah.

“Kami berharap suara ini didengarkan agar kemudian kepercayaan investor itu kembali sehingga modal atau capital outflow itu yang kabur, yang sudah meninggalkan pasar saham kita, pasar obligasi kita, itu bisa kembali. Sehingga komitmen-komitmen investasi yang sudah didapatkan oleh Presiden Prabowo karena sudah berkunjung ke banyak negara itu betul-betul diwujudkan secara real, bukan hanya komitmen, sehingga menstabilkan kembali rupiah kita, kemudian menyebabkan ekonomi ini kembali berjalan normal,” tutup Yusuf.

Heboh, Beredar Isu Ada Menteri Yang Akan Ditangkap

Para wakil menteri, kepala badan dan menteri lainnya telah dan akan merasakan hilangnya kebebasan. Mengalami tekanan psikologis hebat akibat menanggung malu karena stigmatisasi koruptor dari masyarakat.

Oleh: Tarmidzi Yusuf Kolumnis

KEMPALAN: Tampaknya Prabowo Subianto bersih-bersih tidak hanya berhenti di BGN dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Tiga pimpinan BGN dan dua Wakil menteri telah diciduk oleh Kejaksaan Agung dan KPK.

Ada isu gress. Heboh. Kita gosok-gosok saja biar makin siip. Seorang menteri diisukan tengah dibidik aparat penegak hukum. Orang dekat Presiden Prabowo kembali dibidik. Wait and see!

Kabarnya, tidak berhenti di Silmy Karim, Dadan Hindayana dan kawan-kawan. Semoga. Dipetahannya Lodewijk Pusung, inner circle Presiden Prabowo sebagai bukti bersih-bersih dimulai dari orang dekat presiden.

Kabarnya, ada beberapa menteri yang sedang dibidik. Bahkan menteri yang dimaksud masuk dalam jajaran pimpinan Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran. Menteri yang berkeringat di Pilpres 2024.

Isu itu juga menyebutkan, menteri yang berlatar belakang pengusaha itu dikabarkan asetnya di tiga negara sudah disita oleh aparat penegak hukum. Benarkah? Kita tunggu saja gercep (gerak cepat) penegak hukum.

Bersih-bersih inner circle alias lingkaran dekat Presiden Prabowo berlanjut. Beberapa menteri yang konon ikut berkeringat memenangkan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka itu dalam waktu dekat akan berurusan dengan aparat penegak hukum.

Mungkin pula akan mengikuti jejak Immanuel Ebenezer, Silmy Karim, Dadan Hindayana merasakan pengapnya penjara. Selama ini mereka hidup mewah.

Dua wakil menteri ditangkap KPK. Pada Agustus tahun lalu Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer alias Noel ditangkap KPK dalam kasus dugaan korupsi dan pemerasan dalam pengurusan sertifikasi atau lisensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan.

Noel adalah Ketua Joman (Jokowi Mania) ditangkap KPK pada 20 Agustus 2025. Noel yang juga Ketua Relawan Prabowo Mania ini divonis 4,5 tahun penjara oleh Majelis Hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat pada Kamis, 4 Juni 2026.

Sembilan bulan kemudian. Tepatnya, 3 Juni 2026 menyusul Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Silmy Karim terpaksa menyerahkan diri ke KPK setelah anak buahnya kena OTT KPK.

Pada 4 Juni 2026, Silmy Karim resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan KPK. Silmy Karim ditahan atas dugaan tindak pidana korupsi berupa pemerasan dan gratifikasi dalam pengurusan dokumen keimigrasian serta izin tinggal warga negara asing (WNA).

Prabowo – Gibran belum genap 2 tahun berkuasa. Dua wakil menteri diciduk KPK. Pejabat setingkat menteri, yaitu Kepala BGN, Dadan Hindayana dan dua Wakil Kepala BGN, Lodewijk Pusung dan Sony Sonjaya kini merasakan penderitaan tidur di “hotel” prodeo.

Para wakil menteri, kepala badan dan menteri lainnya telah dan akan merasakan hilangnya kebebasan. Mengalami tekanan psikologis hebat akibat menanggung malu karena stigmatisasi koruptor dari masyarakat.

Menariknya, dimulai dari orang dekat Presiden Prabowo. Orang dekat saja disikat. Apalagi menteri, wakil menteri dan kepala badan bahkan gubernur pun yang tidak dekat dengan Presiden Prabowo tinggal menunggu waktu bakal mengikuti jejak Dadan Hindayana dan kawan-kawan.

Semoga saja! Ini bukan lip service di tengah makin terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah sudah di atas Rp 18.000/USD. Bukan pula pengalihan isu untuk menutupi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

*) Tarmidzi Yusuf, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Layanan Pembayaran Visa dan Mastercard di Kuba akan Berhenti Beroperasi Mulai 6 Juni

KEMPALAN: Layanan pembayaran yang dioperasikan oleh Visa dan Mastercard akan berhenti berfungsi di Kuba mulai 6 Juni, demikian ungkap Bank Sentral Kuba pada Rabu (3/6).

Dalam siaran persnya, bank sentral tersebut menyatakan bahwa sebuah bank asing telah mengumumkan akan menghentikan hubungan komersial dengan Fincimex S.A., perusahaan jasa keuangan dan pengiriman uang Kuba, yang memproses transaksi-transaksi tersebut.

Pihak bank sentral mengatakan bahwa gangguan itu berkaitan langsung dengan Perintah Eksekutif 14404, yang ditandatangani oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 1 Mei, sebagai bagian dari strategi Washington untuk menekan rakyat Kuba.

Imbasnya, Kuba tidak akan dapat memperoleh pendapatan dari penjualan barang dan jasa melalui kartu pembayaran internasional seperti Visa dan Mastercard, kata bank sentral tersebut, seraya menambahkan bahwa metode pembayaran lain untuk transaksi valuta asing di Kuba tetap tersedia, termasuk uang tunai, kartu prabayar nasional, serta kartu internasional seperti Mir dan UnionPay.

BGN Lakukan Efisiensi Anggaran, Perkuat Tata Kelola dan Tingkatkan Efektivitas Program Makan Bergizi Gratis

JAKARTA-KEMPALAN: Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penguatan tata kelola, efisensi anggaran, penajaman sasaran penerima manfaat, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan program berjalan lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, dalam Konferensi Pers Badan Gizi Nasional yang digelar di Kantor Pusat BGN, Kamis (4/6/2026).

Konferensi pers tersebut menjadi momentum konsolidasi awal jajaran pimpinan baru BGN dalam menyusun arah kebijakan dan langkah strategis pelaksanaan program ke depan.

Menurut Nanik, fokus utama BGN saat ini adalah memastikan setiap anggaran dan sumber daya yang digunakan mampu menghasilkan dampak yang optimal bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi gizi.

“Fokus kami saat ini adalah memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami melakukan penataan pelaksanaan program agar kualitas layanan dapat terus ditingkatkan,” ujar Nanik.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, BGN melakukan penataan kembali berbagai aspek pelaksanaan program.

Langkah yang dilakukan meliputi refocusing penerima manfaat agar intervensi gizi lebih terarah kepada kelompok prioritas, moratorium sementara pembangunan dapur baru serta optimalisasi dapur yang telah beroperasi agar bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Selain itu, BGN juga memperkuat pembinaan dan standardisasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna memastikan seluruh dapur memenuhi standar keamanan pangan, mutu layanan, serta kualitas sumber daya manusia yang ditetapkan.

Melalui langkah tersebut, BGN ingin memastikan setiap makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat memenuhi standar gizi dan keamanan yang baik.

Menurut Nanik, penataan pelaksanaan program juga dilakukan untuk menjawab tantangan pemerataan layanan di berbagai daerah.

“Saat ini masih terdapat konsentrasi dapur yang tinggi di wilayah aglomerasi, sementara sejumlah daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih membutuhkan penguatan layanan. Karena itu kami melakukan penataan agar pemerataan manfaat program benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh anak Indonesia,” jelasnya.

Untuk memperluas jangkauan layanan, BGN tengah menyiapkan berbagai skema implementasi MBG yang lebih adaptif di wilayah 3T.

Pendekatan yang dilakukan tidak semata-mata melalui pembangunan fasilitas baru, tetapi juga dengan mengoptimalkan sarana yang telah tersedia, seperti kantin sekolah, dapur umum, maupun fasilitas komunitas yang memenuhi persyaratan operasional program.

BGN juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk badan usaha milik negara, sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), yayasan, dan berbagai pihak lainnya yang ingin berpartisipasi dalam mendukung perluasan layanan MBG di wilayah yang membutuhkan.

Dalam kesempatan yang sama, Nanik menegaskan bahwa kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama dalam proses konsolidasi yang saat ini dilakukan BGN.

“Kami ingin memastikan setiap dapur menghasilkan makanan yang aman, sehat, dan bergizi. Karena itu, pembenahan standar operasional, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan pengawasan menjadi agenda utama kami,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menyampaikan bahwa penguatan tata kelola akan dilakukan melalui peningkatan sistem pengendalian internal, integrasi data, validasi informasi, serta pengembangan sistem yang lebih terstruktur dan terukur.

Menurutnya, tata kelola yang baik harus dibangun melalui sistem yang kuat sehingga pelaksanaan program bisa berjalan secara akuntabel, transparan, dan berkelanjutan.

“Kami akan memperkuat integrasi data dan sistem informasi agar setiap kebijakan dapat didukung oleh data yang valid. Selain itu, berbagai rekomendasi dari lembaga pengawas akan menjadi bagian dari upaya penyempurnaan tata kelola yang sedang kami lakukan,” ujarnya.

Dalam penajaman sasaran program, BGN juga memperkuat intervensi kepada kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sebagai kelompok strategis dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. (*)

Pemilu Asimetris Siti Zuhro

Revisi UU Pemilu mulai dibahas DPR. Usulan pilkada asimetris dan sistem campuran memunculkan perdebatan baru tentang masa depan demokrasi Indonesia menuju Pemilu 2029.

Oleh: Ahmadie Thaha

KEMPALAN: Kalau ada yang mengira persiapan Pemilu 2029 belum dimulai karena belum terlihat baliho sebesar lapangan futsal atau spanduk yang melintang dari tiang listrik ke pohon mangga, mungkin ia sedang tertipu oleh ketenangan permukaan.

Di luar, Senayan tampak biasa-biasa saja. Tidak ada parade bendera. Tidak ada konvoi pengeras suara. Tidak ada wajah tersenyum ukuran tiga lantai yang menjanjikan masa depan cerah sambil menyembunyikan tagihan masa lalu.

Namun, di dalam gedung DPR, dapur sudah menyala. Melalui media sosial resmi parlemen, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjanjikan pembahasan revisi UU Pemilu yang terbuka, hati-hati, dan melibatkan partisipasi publik yang seluas-luasnya.

Tetapi kolom komentar justru memperlihatkan pekerjaan rumah yang lebih besar daripada sekadar menyusun pasal demi pasal.

Sebagian netizen mempertanyakan mengapa RUU Perampasan Aset berjalan lebih lambat. Sebagian lain curiga perubahan aturan akan lebih menguntungkan partai dan caleg. Ada pula yang menyebutnya sekadar pergantian topeng para penguasa. Di situlah persoalannya.

Demokrasi bukan hanya soal menghasilkan aturan yang baik, melainkan juga membangun keyakinan bahwa aturan itu dibuat untuk kepentingan rakyat, bukan sekadar untuk para pemain politik.

Sementara perdebatan berlangsung di dunia maya, di dalam ruang-ruang rapat parlemen persiapan Pemilu 2029 terus berjalan. Jam demi jam, hari demi hari, akademisi, peneliti, pengamat, dan kelompok masyarakat sipil bergantian akan memberikan pandangan.

Yang dibahas bukan nama calon presiden atau calon gubernur. Yang sedang dimasak jauh lebih mendasar: aturan mainnya.

Karena dalam politik, yang paling menentukan seringkali bukan siapa pemainnya, melainkan siapa yang menggambar lapangan, menentukan ukuran gawang, dan menyusun peraturannya.

Salah satu suara yang menarik datang dari peneliti senior BRIN, Prof. Siti Zuhro. Ia mengusulkan pilkada asimetris. Gagasannya sederhana tapi konsekuensinya bisa besar. Tidak semua daerah harus menggunakan mekanisme yang sama. Ada yang memilih langsung, ada yang melalui DPRD, bahkan ada yang dapat menggunakan mekanisme lain sesuai karakteristik daerah masing-masing.

Logikanya cukup mudah untuk dipahami. Indonesia bukan negara kecil yang bisa dijelajahi sambil menyeruput kopi dari ujung ke ujung. Indonesia adalah Negara kepulauan raksasa dengan kemampuan fiskal, kualitas birokrasi, dan juga budaya politik yang sangat beragam.

Masalahnya, sesuatu yang logis belum tentu mudah diterima. Selama dua dekade terakhir, masyarakat terbiasa dengan satu keyakinan: semakin langsung rakyat memilih, semakin demokratis sistem itu dianggap. Karena itu, setiap usulan yang mengurangi unsur pemilihan langsung hampir selalu dicurigai sebagai langkah mundur, meskipun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di sinilah perdebatan menjadi menarik. Jika menoleh ke Asia, demokrasi ternyata tidak hadir dalam satu bentuk tunggal.

Jepang memilih gubernur dan walikota secara langsung, tapi sistem legislatifnya memadukan unsur distrik dan proporsional. Korea Selatan juga menerapkan pemilihan langsung, namun partai politik tetap menjadi institusi yang sangat menentukan.

Taiwan bahkan dianggap sebagai salah satu demokrasi paling maju di Asia dengan kombinasi pemilihan langsung, penguatan partai, dan penegakan hukum pemilu yang ketat.

Sementara itu Singapura menawarkan model yang berbeda. Pemilu berlangsung teratur dan kompetitif, tetapi stabilitas pemerintahan menjadi prioritas utama. Sebagian memujinya sebagai demokrasi yang efektif.

Sebagian lain menganggapnya terlalu terkendali.

Pelajaran pentingnya sederhana: negara-negara demokratis di Asia menggunakan beragam desain kelembagaan. Tidak ada satu resep yang otomatis cocok untuk semua tempat.

Karena itu, ketika Prof. Siti Zuhro mengusulkan pilkada asimetris, yang sedang diperdebatkan bukan sekadar cara memilih gubernur atau bupati. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah demokrasi harus selalu seragam atau justru perlu menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat yang diaturnya.

Perdebatan menjadi semakin menarik saat ia juga mengkritik sistem proporsional terbuka yang berlaku saat ini. Kritik tersebut sebenarnya sudah lama bergema di kalangan akademisi. Banyak yang menilai pemilu legislatif telah berubah menjadi perlombaan popularitas dan kemampuan finansial.

Partai memang mengusung calon. Tapi yang sering bertarung bukan lagi gagasan partai, melainkan baliho, pencitraan, dan isi kantong. Tidak jarang ada persaingan sesama kader dalam satu partai justru lebih keras daripada persaingan dengan lawan politiknya.

Dari sinilah muncul usulan Mixed Member Proportional atau MMP, sistem yang menggabungkan keterwakilan wilayah melalui distrik dengan keterwakilan partai melalui proporsional. Sistem ini digunakan di sejumlah demokrasi mapan seperti Jerman dan Selandia Baru.

Tujuannya bukan sekadar mengganti rumus pemilu. Tujuannya adalah menjaga kedekatan wakil dengan pemilih sekaligus memperkuat partai sebagai institusi politik.

Bagi sebagian orang, perdebatan ini mungkin terdengar sangat teknis dan bisa membosankan. Padahal justru di sinilah masa depan politik ditentukan.

Desain pemilu menentukan siapa yang berpeluang masuk parlemen, bagaimana biaya politik itu bekerja, dan siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari sebuah kontestasi.

Karena itu jangan heran jika ruang rapat Komisi II DPR hari-hari ini jauh lebih menentukan daripada seribu baliho yang kelak memenuhi jalan raya.

Pemilu 2029 nanti sesungguhnya sedang dimulai sekarang. Bukan di lapangan kampanye. Bukan di panggung debat. Melainkan di ruang-ruang rapat dengan berpendingin udara, tempat pasal demi pasal dirumuskan dengan bahasa yang terdengar kering, tetapi dampaknya bisa menentukan arah republik selama bertahun-tahun.

Rakyat biasanya baru ramai ketika baliho mulai bermunculan. Padahal, masa depan pemilu seringkali sudah dibentuk jauh sebelumnya, ketika yang terlihat hanya tumpukan dokumen, presentasi PowerPoint, dan para ahli yang berbicara dengan nada datar.

Di situlah ironi demokrasi bekerja. Pesta rakyat selalu dimulai dari rapat para perancang pesta.

Dan ketika rakyat datang ke TPS pada 2029 nanti, mungkin hanya sedikit rakyat yang menyadari bahwa menu yang mereka santap hari itu sesungguhnya telah dimasak sejak sekarang.

*) Ahmadie Thaha, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Jokowi Layak Sandang Gelar “Tukang Ngibul” Nasional

Selain itu yang tidak kalah dan menjadi catatan penting adalah Jokowi semakin membuktikan dirinya sebagai pembohong sejati. Jokowi layak menjadi Bapak Pembohong Indonesia.

Oleh: Yusuf Blegur

KEMPALAN: Identifikasi Jokowi sebagai sosok pemimpin sarat KKN yang terlanjur kental dalam benak publik. Semakin lengkap dengan status Jokowi menyandang Gelar Bapak Kebohongan Nasional atau Tukang Ngibul Nasional.

“Saya akan kembali ke kota saya, ke Solo, Jadi orang biasa dan Saya akan aktif di bidang lingkungan hidup”.

Begitu salah satu narasi dari sekian banyak yang terlontar dari mulut Joko Widodo yang identik dengan kebohongan dan terus berulang hingga membuat banyak kalangan muak dan mengebiri nalar publik.

Itu adalah ucapan Jokowi usai menjabat presiden. Seperti biasa, pernyataan yang kerap tak terbukti hingga sekarang.

Pasalnya, Jokowi terus menunjukkan eksistensinya dalam bidang politik. Sama seperti masih menjabat presiden, banyak melakukan intervensi yang seharusnya justru bukan kewenangannya atau otoritasnya yang dilakukan melampaui batas-batas norma, etika, dan hukum.

Pidato Jokowi yang menegaskan dirinya akan kunjungi seluruh Indonesia untuk Partai Solideritas Indonesia (PSI). Semakin membuktikan dirinya memang punya nafsu besar dan penuh ambisi, terutama terkait urusan politik dan kekuasaan.

Demi meraih jabatan dan kekuasaan kembali entah untuk dirinya sendiri ataupun anaknya melalui partai politik. Jokowi lagi-lagi tak malu mengingkari omongannya sendiri. Nafsu besar dan penuh ambisi. Sehingga Jokowi seperti sosok hipokrit dan penganut machiavellis.

Jokowi seperti pemimpin dengan kebiasaan buruk dan jahat penuh kemunafikan, dan pengkhianatan.

Selain itu yang tidak kalah dan menjadi catatan penting adalah Jokowi semakin membuktikan dirinya sebagai pembohong sejati. Jokowi layak menjadi Bapak Pembohong Indonesia.

Sudah tak terhitung kebohongan yang dilakukan Jokowi sejak masa kampanye, ketika menjabat, dan hingga usai lengser dari jabatan presiden.

Dalam satu dekade bahkan mungkin lebih, Jokowi dipenuhi kebohongan baik dalam ucapan dan tindakan. Boleh jadi bahkan dalam pikirannya juga sudah dipenuhi kebohongan.

Publik kerap menampilkan pelbagai meme atau flyer yang berisi list atau daftar kebohongan Jokowi dalam banyak platform media sosial seperti WA, Tik Tok, Facebook, IG, X, dll.

Negara sepertinya layak membangun prasasti atau patung Jokowi sebagai Bapak Kebohongan Nasional.

*) Yusuf Blegur, Kolumnis dan Mantan Presidium GMNI

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Prabowo Bersih-bersih BGN: Loyalis Diborgol, Awal Pemberantasan Korupsi?

Diborgol dan ditahannya pendukung setia Presiden Prabowo, Lodewijk Pusung kabar gembira bagi pegiat anti korupsi. Prabowo tak pandang bulu. Tapi, bikin ketar-ketir koruptor yang masih banyak bergentayangan di republik ini.

Oleh: Tarmidzi Yusuf

KEMPALAN: Kecurigaan publik akhirnya terungkap. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana yang terkenal dengan pernyataan kontroversialnya tentang BGN potong 19.000 sapi tiap hari, akhirnya, kita menyaksikan diborgol dan menggunakan rompi merah muda, rompi koruptor.

Bukan hanya Dadan Hindayana. Dua Wakil Kepala BGN, Lodewijk Pusung dan Sony Sonjaya. Purnawirawan jenderal tentara dan polisi ini berakhir tragis. Bukan hanya dicopot dari jabatan. Berakhir di “hotel” prodeo Kejaksaan Agung.

Penulis sendiri kenal dengan Lodewijk Pusung. Pak Pusung biasa kami sapa. Mendapat kenaikan pangkat kehormatan dari Jenderal bintang dua Angkatan Darat (Mayjen) jadi Jenderal bintang tiga (Letjen).

Pemberian bintang kehormatan tersebut menunjukkan kedekatan Jenderal Pusung dan Presiden Prabowo Subianto.

Luar biasanya Pak Pusung di mata Prabowo Subianto. Penganugerahan bintang kehormatan Letnan Jenderal Pusung diberikan langsung oleh Presiden Prabowo  pada upacara resmi yang dilaksanakan pada 2 Oktober 2025 di geladak KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 di perairan Teluk Jakarta.

Lodewijk Pusung dikenal loyalis Prabowo Subianto. Pilpres 2019, penulis bersama Pak Pusung sering bersama. Sama-sama berjuang di Jawa Barat untuk Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Pak Pusung orang Gerindra. Penulis, Ketua Umum JAMIL PAS (Jawa Barat Memilih Prabowo-Sandi).

Terus terang penulis sedih, prihatin dan terkejut karena tidak menyangka melihat pemberitaan di media. Jenderal yang kami kenal bersahaja itu, kemarin 3 Juni 2026 diborgol dan berompi merah muda keluar dari gedung bundar Kejaksaan Agung.

Pak Pusung mungkin lupa atau mungkin sudah berada di zona “menikmati”. Prabowo sudah “pasang” mata dan telinga di BGN.

Nanik S. Deyang per September 2025 diangkat jadi Wakil Kepala BGN. “Mata” dan “telinga” Prabowo di BGN mengantarkan Nanik S. Deyang naik jabatan dari wakil kepala menjadi orang nomor satu di BGN menggantikan Dadan Hindayana.

Diborgol dan ditahannya pendukung setia Presiden Prabowo, Lodewijk Pusung kabar gembira bagi pegiat anti korupsi. Prabowo tak pandang bulu. Tapi, bikin ketar-ketir koruptor yang masih banyak bergentayangan di republik ini.

Kita berharap bersih-bersih di BGN awal dari bersih-bersih Indonesia dari korupsi. Masih banyak institusi negara dan BUMN – termasuk pejabatnya yang ditengarai korupsi. Korupsi Indonesia akut dan membudaya.

Hal ini bisa dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia berada di skor 34 (pada skala 0 hingga 100). Skor 0 berarti sangat korup, sedangkan skor 100 berarti sangat bersih. Tingkat global, Indonesia menempati peringkat ke-109 dari 180 negara.

Semoga saja BGN bukan akhir pemberantasan korupsi tak pandang bulu. Lodewijk Pusung trigger. Siapa saja bisa diborgol dan dijebloskan ke “hotel” prodeo.

*) Tarmidzi Yusuf, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Ninja Warrior ala Surabaya: Dwi Kistiono Membangun Mimpi Pentathlon dari Pinggiran Kota

SURABAYA-KEMPALAN: Di balik hiruk-pikuk pusat kota, tepatnya di kawasan Bringin Indah, Surabaya Barat, sebuah revolusi sunyi tengah berlangsung. Di sanalah Dwi Kistiono, Ketua Umum Pengprov Modern Pentathlon Indonesia (MPI) Jawa Timur, membangun sebuah fasilitas latihan unik yang layak disebut sebagai Ninja Warrior versi Indonesia. Bukan sekadar arena, ini adalah pernyataan sikap: bahwa pembinaan atlet tak perlu menunggu tangan negara.

Dengan dana pribadi dan rancangan sendiri, Dwi mengubah lahan sederhana di Jalan Raya Bringin Indah menjadi pusat latihan obstacle modern pentathlon berukuran 6 x 20 meter yang didominasi konstruksi besi. Keberadaan arena ini menjadi oase di tengah kelangkaan fasilitas khusus cabor yang menuntut penguasaan lintas disiplin—anggar, menembak, lari, renang, serta obstacle.

“Ini saya niatkan untuk persiapan PON 2028. Agar atlet-atlet Jawa Timur sangat siap,” ujar Dwi dengan nada mantap. Saat ini, empat rintangan telah terpasang. Dalam waktu dekat, dua rintangan baru akan ditambahkan di bagian tengah untuk meniru dinamika pertandingan nasional yang kerap berubah.

Valent Kurniawan, atlet nasional modern pentathlon andalan Jawa Timur sekaligus putra legenda Persebaya, Hengky Kurniawan, menyambut hadirnya arena ini dengan apresiasi mendalam.

“Selain membanggakan, arena ini mempermudah saya mengembangkan keterampilan. Tidak perlu lagi mencari lokasi jauh-jauh. Dari sini, persiapan menuju event nasional dan internasional jadi lebih terstruktur,” ujar Valent dengan mata berbinar.

Yang membuat berita ini eksklusif adalah: Arena ini tidak hanya untuk atlet profesional. Dwi merancangnya agar dapat diakses para pemula dan penghobi tantangan. Sebab, filosofi modern pentathlon adalah keberanian menguasasi banyak medan—sebuah metafora dari perjuangan hidup itu sendiri.

“Pelan-pelan. Yang penting kebutuhan latihan atlet terpenuhi. Ini untuk puslatda mandiri menuju PON 2028,” tegas Dwi, yang juga terlibat langsung merancang setiap sudut arena.

Meski masih dalam tahap penyempurnaan, arena di Bringin Indah ini telah menjadi simbol baru kemandirian olahraga Indonesia: dari pinggiran kota, menuju podium nasional. (M Fasichullisan / Ambari Taufiq)

Setelah Copot Kepala BGN, Copot Kepala Polri, Dong…!

Kini posisi juga sama, Listyo menodongkan pistol kepada Prabowo demi Jokowi, PSI, dan Gibran. Mampukah Prabowo bertindak sama seperti menembak Dadan Hindayana, Kepala BGN?

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Baik kasus penyimpangan dari kerja BGN yang merusak program unggulan Prabowo Subianto MBG maupun kinerja Polri dalam menangani kasus dugaan ijazah palsu Joko Widodo yang berbelit-belit dan menggaggu program kerakyatan Prabowo, maka penindakan adalah suatu keniscayaan.

Jika BGN berlanjut dengan penggeledahan, maka Kapolri awalnya cukup dengan pencopotan. Ini adalah tuntutan publik.

Ketidakbecusan Dadan Hindayana dan pimpinan lainnya menjadi pelajaran penting. MBG dijadikan sarang perampokan dana rakyat dan membuka celah adanya sabotase kesuksesan. Bersih-bersih harus segera dilakukan sebelum rakyat marah dan memaksa penghentian program.

Begitu juga dengan Kepolisian yang disamping menujukkan kerja tidak profesional juga telah memberi citra buruk bagi pemerintahan Prabowo.

Kriminalisasi lewat delik fitnah dan pencemaran adalah sabotase politik melalui penegakan hukum. Jokowi yang semestinya diproses hukum malah dilindungi, sebaliknya lawan politik pencari kebenaran dan keadilan justru yang dijadikan tersangka.

Wajah Prabowo tentu tercoreng oleh rekayasa model mafia ini. Reforrmasi Kepolisian dimulai dari penggantian Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Tanpa itu ya hanya omon-omon berbusa-busa.

Dadan Hindayana orang Garut ahli serangga itu kini mati kutu. Dulu menjadi perawat pohon cemara udang Prabowo yang terkena hama. Kemudian ia menjadi “serangga” hama MBG yang menyebabkan keracunan massal.

Alumnus IPB ini kontroversial karena pernah menganjurkan minum susu 2 liter per hari dan menjalankan MBG di bulan Ramadhan. Kini setelah dipecat Dadan bersiap-siap untuk hidup di penjara bersama serangga-serangga.

Kapolri juga serangga yang merusak institusi Polri. Penerus “democratic policing” Tito Karnavian adalah loyalis Jokowi banget. Sigit adalah bawahan Prabowo tetapi posisinya di atas karena jasa dan kepanjangan tangan Jokowi, guru Prabowo.

Berani menentang Presiden di kasus kerusuhan Agustus 2025, menolak menjadi Menteri Kepolisian, lebih memilih jadi barisan petani, siap melawan sampai titik darah penghabisan, serta mampu membungkam Komisi Percepatan Reformasi Polri. Rekomendasi Komisi dibuat tumpul.

Listyo menjadi hama bangsa, banyak perwira dilompati. Pasukan Brimob-nya brutal dan dibenci rakyat apalagi mahasiswa pendemo. Bawaslu, Jalan Tol KM 50, dan Kanjuruhan menjadi saksi bisu tindakan brutal Brimob.

Listyo terlalu lama menjabat Kapolri. Tidak lazim dan selalu unjuk kesaktian. Indonesia berada di bawah sepatu polisi saat Listyo Sigit Prabowo memimpin. Dulu Dwi Fungsi ABRI kini Multi Fungsi Polri.

Ketika Prabowo terancam dalam kasus MBG maka tidak ada pilihan selain “kill or to be killed” dan akhirnya Dadan, Pusung, dan Sony ditembak Prabowo.

Kini posisi juga sama, Listyo menodongkan pistol kepada Prabowo demi Jokowi, PSI, dan Gibran. Mampukah Prabowo bertindak sama seperti menembak Dadan Hindayana, Kepala BGN?

Atau sebaliknya Prabowo yang kini ditembak? Door. “To be or not to be, that is the question“.

*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.