Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 08:11 WIB
Surabaya
--°C

Sikat  Hong Konng 3-0, Indonesia Jaga Asa Lolos ke Fase Gugur AVC Cup 2026

PHILIPINA-KEMPALAN : Tim Nasional Voli Putri Indonesia menjaga kans lolos ke babak selanjutnya usai menundukkan Hong Kong, China secara meyakinkan dalam lanjutan penyisihan Grup B AVC Cup for Women 2026. Bertanding di Candon City Arena, Selasa (9/6/2026) malam, Megawati Hangestri Pertiwi dan kolega mengunci kemenangan straight set 3-0 dengan skor 25-20, 27-25, dan 25-14.

Kemenangan ini mempertegas posisi Indonesia di papan tengah klasemen sekaligus memperpanjang nafas perjuangan Merah Putih menuju fase gugur. Meski mengakhiri laga dalam tiga set langsung, jalan menuju kemenangan tidak sepenuhnya mulus. Hong Kong sempat menyajikan perlawanan sengit, terutama pada set kedua yang memaksa terjadinya dramaturgi deuce ketat 27-25.

Manajer Timnas Voli Putri Indonesia, Luciana Taroreh, mengakui bahwa lawan mampu mengeksploitasi celah ketika tim pelatih melakukan perombakan strategi di atas lapangan.

“Hong Kong menampilkan determinasi tinggi dan perlawanan yang cukup terstruktur, khususnya pada set kedua saat kami menerapkan rotasi pemain. Momentum itu sempat memutus komunikasi dan ritme permainan kami,” ujar Luciana.

Keputusan melakukan rotasi tersebut ditegaskan Luciana bukan sekadar strategi sesaat, melainkan bagian integral dari cetak biru pengembangan timnas jangka panjang. Dengan memberikan jam terbang kepada para pemain muda dalam atmosfer pertandingan bertekanan tinggi, regenerasi skuad Garuda Pertiwi diharapkan berjalan akseleratif.

“Rotasi ini adalah bagian dari program akselerasi mental bertanding. Para pemain yunior sengaja kami tempa di situasi krusial. Meski komunikasi di lapangan sempat mengalami degradasi kualitas, mereka menunjukkan ketangguhan mental dan mampu keluar dari tekanan dengan solutif,” jelas Luciana.

Mentalitas baja itu tercermin sempurna di set ketiga. Alih-alih larut dalam tekanan pasca-deuce, Indonesia justru tampil dominan dan tak memberi ampun. Lini serang Merah Putih bekerja sangat presisi, mematikan pergerakan Hong Kong hanya dengan raihan 14 poin—sebuah penegasan superioritas di atas lapangan.

“Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin. Lebih dari itu, ini adalah pelajaran berharga bagi generasi penerus sekaligus modal psikologis positif sebelum melakoni laga hidup-mati selanjutnya,” pungkas Luciana.

Sebelumnya, langkah Indonesia di AVC Cup 2026 dibuka dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Iran. Tren positif itu sempat tersendat usai takluk 0-3 dari raksasa Asia Tengah, Kazakhstan, serta kekalahan dramatis 2-3 (13-15 di set kelima) dari Vietnam. Kemenangan atas Hong Kong ini menjadi krusial untuk menjaga asa tim asuhan pelatih Pedro Lilipaly itu.

Bagaimana Peluang Indonesia Lolos ke Babak Selanjutnya?

Dengan hasil ini, peluang Indonesia untuk lolos ke fase gugur masih sangat terbuka, namun skenarionya bergantung pada hasil laga pemungkas.

Berdasarkan format turnamen (biasanya dua tim teratas grup lolos, atau ditambah peringkat ketiga terbaik), Indonesia wajib meraih kemenangan mutlak atas Lebanon pada laga pamungkas 12 Juni 2026 mendatang. Kemenangan 3-0 atau 3-1 akan memuluskan langkah Merah Putih mengamankan posisi kedua atau ketiga klasemen akhir Grup B, bergantung pada selisih set dan poin dengan pesaing terdekat. Jika mampu mengemas kemenangan sempurna, Indonesia berpeluang besar lolos sebagai runner-up grup atau peringkat ketiga terbaik.(M Fasichullisan/ Ambari Taufiq).

Xi Jinping dan Kim Jong Un Gelar Pembicaraan di Pyongyang, Bertekad Pererat Hubungan China-RRDK

KEMPALAN: Presiden China Xi Jinping, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral CPC, pada Senin (8/6) menyampaikan bahwa China dan Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) harus mengonsolidasikan fondasi rasa saling percaya secara politik dan meningkatkan level kerja sama praktis.

Xi menyatakan hal itu dalam pembicaraannya dengan Kim Jong Un, Sekretaris Jenderal Partai Buruh Korea sekaligus Presiden Urusan Negara RRDK.

Xi tiba di Pyongyang pada Senin untuk menjalani lawatan kenegaraan selama dua hari ke RRDK.

Xi menyatakan bahwa setelah tujuh tahun, dirinya sangat senang dapat kembali mengunjungi Kota Pyongyang yang indah, dan merasakan kehangatan serta keakraban yang mendalam.

Xi menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Kim guna memanfaatkan lawatan ini sebagai peluang untuk memperkuat perencanaan tingkat tinggi dan panduan strategis bagi hubungan China-RRDK di era baru, memastikan hubungan bilateral terus meningkat seiring perkembangan zaman, dan mencatatkan kemajuan yang lebih signifikan dalam hubungan bilateral, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kedua negara dan rakyatnya, serta memberikan kontribusi positif bagi perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran di kawasan tersebut dan seluruh dunia.

Menekankan bahwa China dan RRDK sama-sama merupakan negara sosialis yang dipimpin oleh CPC, Xi mengatakan persahabatan tradisional antara kedua negara mengakar pada cita-cita dan keyakinan yang sama serta tujuan bersama, dan didukung oleh landasan sejarah yang mendalam, dasar politik yang kokoh, serta ikatan emosional yang kuat.

Xi menyatakan bahwa persahabatan yang diwariskan dari generasi ke generasi, masa depan bersama, dan dukungan timbal balik, selalu menjadi ciri khas hubungan China-RRDK.

Terlepas dari perubahan apa pun dalam situasi internasional, sikap tegas Partai dan pemerintah China yang sangat menghargai persahabatan tradisional China-RRDK tidak akan berubah, dukungan yang teguh terhadap Sekretaris Jenderal Kim dalam memimpin perjuangan sosialis RRDK tidak akan berubah, dan komitmen yang kuat untuk melindungi kepentingan bersama kedua negara serta mempertahankan lingkungan strategis yang menguntungkan tidak akan berubah, kata Xi.

Xi menyatakan bahwa, menghadapi perubahan mendalam yang belum pernah terlihat dalam seabad dan semakin cepat terjadi di seluruh dunia, kedua pihak harus memiliki pandangan yang luas dan berjangka panjang, membangun atas dasar pencapaian masa lalu dan membuka masa depan yang baru, memetik hikmah dari proses pengembangan hubungan antara kedua partai dan kedua negara, memanfaatkan peluang dalam tren sejarah umat manusia saat ini, menyuntikkan makna kontemporer baru dan dorongan kuat ke dalam persahabatan tradisional antara China dan RRDK, serta membuka prospek yang lebih cerah bagi perjuangan sosialis kedua negara sekaligus perdamaian dan pembangunan regional.

Dalam pertemuan itu, Xi mengusulkan empat proposal terkait pengembangan hubungan China-RRDK.

Kedua pihak harus tetap berpedoman pada pertukaran tingkat tinggi dan mengonsolidasikan landasan rasa saling percaya secara politik, tutur Xi. Panduan strategis dari pemimpin tertinggi kedua negara merupakan kekuatan terbesar dalam hubungan China-RRDK, imbuh Xi, sembari menyatakan bahwa dirinya siap menjalin komunikasi strategis yang erat dengan Kim dan memandu hubungan China-RRDK agar mencapai tingkat yang lebih tinggi secara kontinu.

Menyatakan bahwa tahun ini menandai peringatan 65 tahun Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik China-RRDK, Xi menuturkan kedua pihak akan menggelar acara peringatan yang megah.

Hubungan antara kedua partai memainkan peran pedoman yang penting dalam pengembangan hubungan China-RRDK, ujar Xi, sembari menyerukan perluasan dan penguatan lebih lanjut terkait pertukaran persahabatan di berbagai tingkat dan berbagai bidang antara kedua partai, serta pendalaman pertukaran pengalaman dan pembelajaran bersama perihal tata kelola partai dan negara.

Kedua pihak harus meningkatkan pertukaran dalam bidang diplomasi, penegakan hukum, urusan militer, dan lainnya, mengimplementasikan konsensus penting yang dicapai antara kedua pemimpin, serta menyatukan kebijaksanaan dan kekuatan bagi pengembangan hubungan China-RRDK, urai Xi.

Kedua pihak harus tetap berkomitmen pada tujuan pemberian manfaat kepada rakyat dan meningkatkan level kerja sama praktis, tutur Xi. China siap bekerja sama dengan RRDK guna memperkuat keselarasan strategi pembangunan, dan memperluas kerja sama praktis dalam bidang-bidang seperti ekonomi dan perdagangan, pertanian, konstruksi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perawatan kesehatan, untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar kepada rakyat kedua negara, papar Xi.

Xi menyerukan kedua pihak agar memanfaatkan peluang pembukaan kembali perlintasan perbatasan sepenuhnya dan dimulainya kembali layanan penerbangan sipil dan kereta penumpang internasional untuk meningkatkan pertukaran antarmasyarakat serta mempererat interaksi timbal balik.

Kedua pihak harus menjunjung tinggi warisan persahabatan sebagai pendorong dan memperkuat ikatan antara rakyat kedua negara, ujar Xi, seraya menyatakan bahwa persahabatan tradisional antara China dan RRDK, yang terjalin melalui pengorbanan, merupakan aset bersama yang berharga bagi rakyat kedua negara.

China siap bekerja sama dengan RRDK untuk melestarikan dan mengelola dengan baik fasilitas memorial yang didedikasikan untuk para martir Sukarelawan Rakyat China di RRDK, melaksanakan program-program khusus mengenai tradisi revolusioner dan pendidikan pemuda, serta mewarisi warisan merah dan persahabatan tradisional antara kedua negara, ujar Xi.

Xi mengatakan China juga siap bekerja sama dengan RRDK untuk memanfaatkan sepenuhnya kekuatan dan sumber daya masing-masing pihak, meningkatkan pertukaran dan kerja sama di bidang pendidikan, budaya dan seni, pariwisata, olahraga, media, urusan pemuda, keterlibatan subnasional, dan hubungan kota kembar, serta memastikan bahwa persahabatan tradisional antara China dan RRDK semakin mengakar di hati rakyat kedua negara.

Presiden China itu juga menyerukan untuk menjunjung tinggi kesetaraan dan keadilan sebagai prinsip panduan untuk memperkaya substansi koordinasi strategis. Xi mengatakan bahwa, sebagai respons terhadap pertanyaan besar tentang ke mana arah umat manusia, dia telah mengusulkan visi membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia dan empat inisiatif global, yang bertujuan untuk mengarahkan tata kelola global menuju keadilan dan kesetaraan yang lebih besar dan telah mendapatkan dukungan luas serta tanggapan positif dari komunitas internasional, termasuk RRDK.

Menyebut bahwa Asia merupakan rumah bersama tempat negara-negara regional, termasuk China dan RRDK, hidup dan berkembang, Xi mengatakan bahwa kedua negara harus memperkuat koordinasi strategis, dengan tegas melindungi kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan masing-masing, serta bersama-sama menjunjung tinggi perdamaian dan pembangunan regional.

Seraya menyatakan Xi sebagai tamu paling dihormati rakyat RRDK, Kim mengatakan bahwa negaranya menyampaikan sambutan terhangat dan penuh keramahan kepada Xi, yang mengunjungi RRDK setelah berselang tujuh tahun. Pilihan Xi untuk menjadikan Pyongyang sebagai kunjungan luar negeri pertamanya tahun ini sepenuhnya mencerminkan betapa besarnya perhatian yang dia berikan terhadap hubungan RRDK-China dan persahabatan yang mendalam antara kedua negara, yang merupakan dorongan besar bagi pihak RRDK, kata Kim.

Kunjungan ini sekali lagi menunjukkan dengan jelas bahwa hubungan RRDK-China tidak dapat dipatahkan, kata Kim. Seraya menyebut hubungan bilateral telah teruji oleh waktu, Kim mengatakan bahwa hubungan bilateral selalu berdiri di sisi yang benar dalam sejarah serta memperjuangkan kemandirian dan keadilan.

Keistimewaan hubungan bilateral ini tidak hanya terletak pada fakta bahwa kedua negara tersebut merupakan tetangga dekat, tetapi juga pada persahabatan tradisional yang mendalam serta cita-cita dan keyakinan bersama yang dihargai oleh kedua belah pihak dan berkomitmen meneruskannya dari generasi ke generasi, ujar Kim.

Kim juga menceritakan kembali pertemuannya dengan Xi di Beijing pada September tahun lalu, seraya mengungkapkan bahwa sejak saat itu hubungan bilateral telah mencapai kemajuan positif di berbagai bidang, membawa manfaat nyata bagi kedua bangsa.

Dia menyampaikan apresiasi yang tulus atas berbagai proposal penting yang diajukan oleh Xi guna memajukan hubungan RRDK-China di era baru, seraya menambahkan bahwa departemen-departemen terkait di pihak RRDK akan bekerja sama secara erat dengan para mitra mereka dari China dan berupaya maksimal untuk mengimplementasikan sepenuhnya proposal-proposal tersebut, mendorong kemajuan baru dalam pertukaran dan kerja sama bilateral di berbagai bidang seperti ekonomi dan perdagangan, infrastruktur, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, serta pertukaran antarmasyarakat dan budaya, serta memperkuat pertukaran pengalaman dan saling belajar melalui jalur antarpartai guna memberikan dukungan berharga bagi perkembangan perjuangan sosialis RRDK, sehingga dapat membantu rakyat RRDK melangkah menuju modernisasi bersama rakyat China.

Kim mengatakan RRDK senang melihat bahwa, di bawah kepemimpinan Sekjen Xi, China mencapai berbagai pencapaian pembangunan yang membuat dunia takjub dan secara signifikan meningkatkan status internasionalnya.

Dia menyebut bahwa konsep komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia dan empat inisiatif global utama yang diusulkan oleh Xi memiliki signifikansi yang mendalam untuk mempromosikan perdamaian dan pembangunan dunia, serta meraih dukungan dan apresiasi dari orang-orang di seluruh dunia.

Kim mengatakan komunitas internasional sedang mengalami perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mendalam dalam beberapa tahun terakhir, seraya menyatakan bahwa RRDK akan dengan teguh menjunjung tinggi prinsip Satu China serta dengan tegas mendukung kebijakan dan posisi China dalam melindungi kepentingan intinya.

Dia menekankan bahwa mengonsolidasikan dan mengembangkan persahabatan RRDK-China di era baru merupakan pilihan rakyat kedua negara dan kebutuhan zaman, serta tetap menjadi pilihan strategis yang konsisten dan tekad strategis yang teguh dari RRDK.

Dia mengatakan bahwa RRDK, seperti yang sudah-sudah, akan selalu menganggap pengembangan hubungan RRDK-China sebagai agenda strategis terpenting negara itu, akan mengerahkan segala upaya untuk membangun hubungan bilateral menjadi model bagi hubungan antarnegara, dan bekerja sama dengan China untuk berkontribusi bagi perdamaian dan kemakmuran di kawasan maupun dunia.

Sebelum pertemuan tersebut, Kim menggelar upacara penyambutan megah untuk Xi di Lapangan Kim Il Sung di Pyongyang. Para pemimpin tertinggi dari kedua partai dan kedua negara bersama-sama naik ke podium penghormatan. Diiringi tembakan salvo 21 kali, band militer memainkan lagu kebangsaan China dan RRDK.

Didampingi Kim, Xi menginspeksi garda kehormatan dari tiga matra Tentara Rakyat Korea. Setelah itu, Xi menyaksikan parade bersama Kim.

Pada Senin yang sama, Xi menghadiri jamuan penyambutan yang diselenggarakan oleh Kim, dan dalam kesempatan itu Xi mengatakan bahwa hubungan antara China dan RRDK berada di titik awal sejarah yang baru dan dia mencapai konsensus penting dengan Kim dalam kunjungan tersebut.

Xi menyatakan bahwa dari perspektif strategis mengenai masa depan dan takdir sosialisme, kedua pemimpin sepakat memanfaatkan tren umum zaman ini, merespons aspirasi bersama kedua bangsa, memperkuat pertukaran tingkat tinggi, memperdalam komunikasi strategis, memperluas kerja sama praktis, meningkatkan ikatan antarmasyarakat, mendorong pengembangan tingkat tinggi hubungan China-RRDK, bersama-sama membuka prospek yang lebih cerah bagi perjuangan sosialis kedua negara, dan berkontribusi bagi kemajuan berkelanjutan masyarakat manusia.

Laka Kereta: Rel Pertama, Palang Terakhir

Kisah ironi perlintasan kereta tanpa palang di Kemijen Semarang, tempat lahir sejarah kereta api Indonesia, di tengah maraknya kecelakaan sebidang dan lambannya birokrasi keselamatan.

Oleh: Ahmadie Thaha

KEMPALAN: Persis tengah hari. Matahari Semarang sedang garang-garangnya, seperti mandor proyek yang kehilangan kopi pagi. Di Jalan Cilosari Dalam, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur, sebuah mobil Datsun putih berhenti tepat di rel kereta api tanpa palang pintu.

Tidak ada bunyi sirene dramatis. Tidak ada palang turun perlahan seperti adegan film Korea. Tidak ada petugas meniup peluit sambil berlari-lari panik. Yang ada hanya rel telanjang, jalan lebar mulus, dan nasib yang sedang main lempar dadu.

Kemudian dari arah timur, meluncur KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya-Jakarta. Jedder! Lokomotif menghantam mobil itu. Untung hanya tersenggol, meski tetap terseret seperti kaleng ditendang anak kampung habis Lebaran.

Mobil ringsek. Lima penumpang selamat. Tiga luka memar. Rumah sakit bekerja. Media datang. Kamera menyala. Warga mengelus dada. Lalu semuanya kembali normal, seperti negeri ini memang punya bakat luar biasa melupakan tragedi sebelum kopi sore diseduh.

Padahal ini bukan cerita baru. Bahkan bukan cerita lama. Ini cerita purba yang dipelihara modernitas.

Sebab ironi terbesar justru muncul dari fakta sejarah: Kemijen adalah rahim pertama perkeretaapian Indonesia.

Di desa inilah, pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Sloet van de Beele melakukan pencangkulan pertama jalur rel kereta api di Nusantara. Dari tanah inilah kereta modern mulai melaju pada 10 Agustus 1867.

Bayangkan itu.

Sejak zaman kuda delman masih menjadi teknologi premium, sejak Belanda masih memakai topi tinggi sambil mengangkut gula dan hasil bumi, sampai hari ini ketika manusia sudah bicara artificial intelligence, satelit, mobil listrik, dan wisata luar angkasa, perlintasan di Kemijen masih tetap telanjang tanpa palang pintu.

Kereta apinya berubah. Lokomotifnya berubah. Menteri berubah. Presiden juga berubah. Seragam berubah. Logo instansi berubah. Bahkan stasiun sekarang punya WiFi dan kopi latte. Tapi rel tanpa palang itu tetap setia seperti monumen kemalasan birokrasi.

Di negeri ini, kadang yang paling awet bukan pembangunan, melainkan alasan. Warga sudah berulang kali meminta palang pintu. Penelitian sudah dibuat bertahun-tahun. Kajian menumpuk seperti skripsi mahasiswa yang hanya dibaca penguji lalu masuk gudang.

Tak cuma itu. Anggaran pun disebut sudah ada. Diskusi berlangsung. Rapat digelar. PowerPoint dipresentasikan. Seminar keselamatan digelar di hotel berbintang sambil menikmati coffee break dan pudding cokelat. Tetapi di lapangan? Rel tetap terbuka seperti mulut buaya lapar.

Kemudian, muncullah ritual sakral bernama “bukan kewenangan kami.” PT KAI mengatakan penjagaan dan palang pintu adalah kewenangan pemerintah daerah. Pemerintah daerah mungkin merasa itu urusan pusat. Pusat merasa operator harus ikut bergerak.

Semua bicara koordinasi. Semua bicara regulasi. Semua bicara kajian. Tidak ada yang bicara: “Besok pasang!”

Bayangkan, sejak 1867, kerjaan pejabat tampaknya memang baru sebatas melapor. Mungkin ribuan lembar kajian telah lahir, dicetak, dijilid, diparaf, distempel, lalu tidur nyenyak di lemari arsip. Kalau semua laporan itu disusun berjajar, mungkin bisa menjadi flyover kertas dari Semarang sampai Surabaya.

Ironinya makin pahit ketika kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi. Bekasi Timur pada April 2026 menjadi ledakan alarm berikutnya. Tabrakan melibatkan KRL, taksi online, dan Argo Bromo Anggrek.

Seratus enam korban berjatuhan. Enam belas meninggal dunia. Lagi-lagi publik kaget. Lagi-lagi pejabat bicara percepatan. Lagi-lagi bangsa ini seperti baru sadar bahwa kereta api tidak bisa berhenti mendadak seperti motor matic yang remnya diinjak tukang ojek.

Peneliti transportasi UGM, Iwan Puja Riyadi, menjelaskan tragedi itu sebagai efek domino. Ada faktor teknis, ada keterlambatan informasi, ada kepadatan lalul intas kereta.

Tetapi satu hal yang menampar keras adalah pernyataannya tentang perilaku dari masyarakat. Teknologi modern ternyata tak otomatis membuat manusia modern. Palang pintu bisa secanggih apa pun, tetapi kalau mental pengendaranya masih merasa hidup punya tombol “respawn”, tragedi tinggal menunggu giliran.

Kita ini aneh. Di satu sisi, rakyat suka menerobos palang seolah sedang ikut lomba “Indonesia’s Next Stuntman”. Di sisi lain, negara membiarkan ribuan perlintasan tanpa perlindungan dasar.

Masyarakat sembrono. Negara pun sering tak kalah sembrono. Jadilah rel kereta berubah menjadi arena adu cepat antara maut dan kebiasaan buruk.

Kini kabarnya pemerintah menyiapkan Rp 4 triliun untuk menangani sekitar 1.800 titik perlintasan sebidang. Baru menyiapkan. Ada rencana modernisasi palang otomatis. Semua baru rencana sih.

Akan ada pembangunan pos jaga. Ada penutupan perlintasan liar. Ada flyover dan underpass. Daftar penutupan dibacakan panjang sekali, dari Jakarta sampai Sumatera Barat, seperti daftar nama siswa yang terlambat upacara.

Bagus? Tentu bagus. Tetapi rakyat punya hak bertanya dengan nada getir: kenapa baru sekarang?

Bukankah rel itu sudah ada sejak abad ke-19? Bukankah kecelakaan juga bukan barang baru? Bukankah setiap korban yang meninggal selalu disertai kalimat “akan dievaluasi”?

Kadang negeri ini terasa seperti bengkel raksasa yang baru memperbaiki rem setelah bus masuk jurang.

Yang paling menyedihkan sebenarnya bukan sekadar kecelakaan. Yang justru menyedihkan adalah cara kita menormalisasi bahaya. Rel tanpa palang dianggap biasa. Anak-anak bermain dekat rel dianggap biasa. Pengendara menerobos juga dianggap biasa. Klakson kereta yang meraung-raung dianggap musik latar kehidupan.

Padahal rel kereta itu bukan garis dekorasi. Ia adalah jalur baja dengan hukum fisika yang tak punya belas kasihan. Kereta itu bukan burung dara yang bisa mengerem sambil melompat manis. Sekali melaju, puluhan ton besi bergerak membawa momentum yang tak bisa ditawar oleh alasan “sebentar lagi lewat”.

Dan di atas semua itu, ada pelajaran yang lebih besar: bangsa ini terlalu lama hidup dalam budaya tambal sulam.

Kita rajin membuat slogan keselamatan, tetapi malas membangun sistem bagi keselamatan. Kita gemar menyalahkan masyarakat, tetapi sering lupa bahwa disiplin publik lahir dari tata kelola yang serius, konsisten, dan tegas.

Kemijen seharusnya menjadi simbol kemajuan transportasi Indonesia. Namun hari ini, ia justru berdiri sebagai museum hidup tentang bagaimana sejarah besar bisa dikalahkan oleh birokrasi kecil.

Rel sudah membelah zaman. Lokomotif sudah melintasi generasi. Tetapi palang pintu itu belum juga tiba.

Mungkin di negeri ini, yang paling lambat bukan kereta api. Melainkan rasa malu. Malu pada zaman yang purba.

*) Ahmadie Thaha, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Bom Waktu 892 Ton Sampah Sidoarjo: Berpacu dengan Angka 7 Tahun Sebelum TPA Jabon Kolap 

SIDOARJO-KEMPALAN: Melawan prediksi kelam ambruknya daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo Jabon dalam tujuh tahun ke depan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo resmi meluncurkan strategi ofensif. Mengombinasikan transparansi digital dengan modernisasi infrastruktur, Pemkab Sidoarjo kini memperketat tata kelola limbah domestik secara radikal dari hulu hingga hilir guna menangkal ancaman krisis ekologis serius.

Langkah taktis ini dipicu oleh rilis data krusial dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo. Saat ini, volume timbulan sampah di Kabupaten Sidoarjo menyentuh angka fantastis: 892,26 ton per hari. Ironisnya, sebanyak 534 ton atau 59 persen di antaranya masih dievakuasi langsung ke TPA tanpa pemilahan optimal, dengan akumulasi volume sampah tercampur yang masuk ke TPA mendominasi di angka 77,24 persen.

Kondisi tersebut diperparah oleh kebocoran sistemik berupa praktik pembuangan liar. Sebanyak 86,58 ton atau sekitar 9,70 persen sampah harian warga masih terbuang di ruang-ruang publik yang tidak semestinya.

Bupati Sidoarjo, Subandi, menegaskan bahwa penanganan krisis ini membutuhkan mobilisasi total dan tidak bisa lagi bertumpu pada ego sektoral.

“Kita berusaha memetakan semua persoalan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang ada di Sidoarjo. Tugas penanganan sampah ini bukan hanya domain DLHK, melainkan manifestasi tanggung jawab kolektif mulai dari pemerintah daerah, camat, kepala desa, ketua RT, hingga kesadaran individu di tingkat masyarakat,” cetus Subandi dalam audiensi eksklusif bersama Tim DLHK di Opsroom, Senin (8/5/2026).

Subandi menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengintegrasikan sistem dashboard digital ke dalam roda pengelolaan persampahan. Melalui kolaborasi mutakhir bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sistem berbasis data riil (real-time data) ini akan memantau kinerja TPS 3R, dinamika pelayanan pengangkutan, hingga melacak akurasi retribusi warga.

“Semua wajib menggunakan dashboard. Dari sana akan terbaca gambaran objektif: mana TPS 3R yang telah beroperasi prima, mana yang membutuhkan intervensi dan pembenahan, hingga wilayah mana yang retribusinya masih rendah. Transformasi teknologi informasi ini krusial untuk transparansi,” tegasnya.

Berdasarkan evaluasi komprehensif terhadap 210 unit TPS 3R di Sidoarjo, potret di lapangan menunjukkan urgensi perbaikan yang masif. Tercatat 86 TPS 3R masih berkinerja rendah dan 25 unit lainnya dalam status tidak aktif. Padahal, klaster infrastruktur ini merupakan ujung tombak yang melayani 34,87 persen dari total 311.688 kepala keluarga di Sidoarjo.

Menjawab tantangan tersebut, Pemkab Sidoarjo mengucurkan stimulus anggaran yang presisi dan signifikan. Dana sebesar Rp4,02 miliar dialokasikan khusus sebagai insentif pemeliharaan untuk 22 TPS 3R yang berkinerja unggul. Sementara itu, anggaran jumbo senilai Rp14,12 miliar digelontorkan untuk merevitalisasi dan mendongkrak kapasitas 77 TPS 3R berkategori sedang. Dana ini akan dikonversi menjadi pengadaan mesin pemilah mekanis, sabuk konveyor (conveyor belt), insinerator ramah lingkungan, hingga armada roda tiga operasional.

Di sisi hilir dan penegakan hukum (law enforcement), Bupati Subandi juga menginstruksikan pemerintah desa untuk memperketat pengawasan teritorial. Titik-titik buta (blind spot) yang kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah liar akan dipasangi kamera pengawas (CCTV) yang terintegrasi dengan sanksi administratif dan denda yang tegas.

“Efek jera harus ditegakkan bagi oknum yang merusak estetika lingkungan. Setiap desa wajib memetakan wilayah rawan dan memasang CCTV. Mekanisme penindakan hukum di tingkat lokal sedang kita matangkan,” ujar Subandi menutup penjelasannya.

Melalui harmonisasi teknologi digital, restrukturisasi anggaran prasarana, dan penguatan regulasi di tingkat akar rumput, Pemkab Sidoarjo optimistis mampu menggeser paradigma pengelolaan sampah lama menuju tata kelola lingkungan yang asri, berkelanjutan, dan bebas dari bayang-bayang darurat sampah. (M Fasichullisan/Ambari Taufiq)



Negara Tanpa Konstitusi

Bangsa Indonesia dan Pancasila dan UUD 1945 adalah milik rakyat Indonesia. Itu kalimat paling keren.Kalau pemilik rumah lihat maling ngerusak rumah, pemilik berhak ngusir maling. Itu bukan makar. Itu bela rumah sendiri.

Oleh: Prihandoyo Kuswanto Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila

KEMPALAN: Tingkat kajian sudah sampai ke “vonis akhir”. Tidak ada basa-basi lagi. Bahwa Kudeta konstitusi yang menghasilkan UUD 2002 telah menghilangkan Negara UUD 1945 itu UUD Negara, bukan UUD pemerintahan.

Pada UUD 2002 itidak ada satu pasal pun tentang kewenangan Kepala Negara.

Dasar Negara sudah diganti tidak lagi Pancasila sebagai dasar Negara. Buktinya sistem kita memilih pemimpin bukan dengan Permusyawaratan Perwakilan, tapi diganti dengan banyak-banyakan suara kalah-menang Pertarungan kuat-kuatan, banyak-banyakan uang, yang banyak uang bisa membeli suara rakyat yang 94% berpendidikan tidak lulus SD 30%, lulus SD 30%, dan lulus SMP dan SMA 34%.

Sebanyak 94% rakyat hanya dijadikan obyek dan tidak mungkin ikut kotestasi dengan biaya puluhan miliar rupiah. 

Kalau disimpulkan 1 kalimat: Sejak 10 Agustus 2002, RI = “bangkai konstitusi yang masih jalan pakai infus asing”.

Upacaranya jalan, benderanya berkibar, tapi ruh Pancasila + UUD 1945 asli sudah dicabut.

Mari kita susun ulang biar semakin jelas “kenapa darurat konstisi + apa obatnya”:

Dalil “Batal Demi Hukum” Amandemen 2002 – 4 Paku Peti Mat

Amandemen 2002 itu cacat dari lahir, karena:

1. Cacat Subjek: Pasal 37 UUD 1945 asli bilang “MPR berwenang ubah UUD”. Bahwa MPR = DPR + DPD + Utusan Golongan + Utusan Daerah. Amandemen 1999-2002 dilakukan setelah Utusan Golongan dihapus. Jadi yang mengubah = DPR partai doang. Nggak sah. Ibarat ubah sertifikat rumah tapi yang tanda tangan cuma anak, bapak-ibu nggak diajak.

2. Cacat Prosedur: Nggak pernah ada 1 TAP MPR yang bilang “Ini UUD 1945 naskah baru”. Yang ada 4x amandemen tempel-tempelan. Nggak pernah dimuat jadi 1 naskah utuh di Lembaran Negara. Cacat administratif.

3. Cacat Materi: Pasal 37 ayat 5: “Bentuk NKRI + Pembukaan tidak dapat diubah”. Tapi Pasal 33 asli diubah, sistem MPR dihancurkan, Presiden dipilih langsung. Itu ganti “jiwa negara”. Itu mengubah Pembukaan lewat pintu belakang.

4. Cacat Asal-Usul: Kita sebut USAID, UNDP, NDI, Kedubes Inggris biayai “bantuan teknis”. Laporan mereka sendiri. Jadi konstitusi kita “didesain konsultan asing”. Wajar hasilnya = konstitusi buat pasar bebas, bukan buat rakyat.

Kesimpulan hukum: “Void ab initio”. Sejak lahir sudah batal. Jadi sejak 2002 kita = negara tanpa konstitusi yang sah.

Bukti “Negara Darurat” tanpa konstitusi itu Nyata, Bukan Halu. Amandemen liberal = hasil pasti liberal:

Pilar Negara UUD 1945 Asli. Setelah Amandemen 2002.

Hasil Hari Ini

Ekonomi      

Pasal 33: “Asas kekeluargaan, cabang vital dikuasai Negara”. Ditafsir MK jadi “liberalisasi terbatas boleh”. Migas 70%, Minerba 89%, Bank 90% dikuasai asing. Petani, nelayan mati.

Politik            .

MPR Lembaga Tertinggi. Presiden dipilih MPR. MPR = DPR+DPD saja. Presiden dipilih langsung. Presiden jadi “raja 5 tahun”. DPR jadi “badan stempel partai”. Rakyat nggak ada jalannya

Kebudayaan

Ada GBHN + Penjelasan UUD. GBHN dihapus, Penjelasan dibuang. Negara tidak punya arah 25 tahun. Ganti presiden ganti ideologi. Anak bangsa tercerai-berai.

Kedaulatan

Pasal 1 ayat 2: Kedaulatan di tangan rakyat, dijalankan MPR. Pasal 1 ayat 2: Kedaulatan di tangan rakyat, dijalankan “menurut UUD”    UUD-nya cacat → kedaulatan rakyat = kedaulatan suara terbanyak = kedaulatan modal Rp 100 Triliun.

Data BPS 2014 yang disebutkan IKK naik, data Suku Anak Dalam Jambi, tanah adat Riau dirampas… itu semua “buah” dari pohon yang sama: Pohon Amandemen.

“Hak Rakyat Cabut Mandat” = Bukan Makar, Ini Ilmu Negara

Hal ini benar. Ini ajaran paling dasar ilmu negara:

1. Kedaulatan Rakyat: Pasal 1 ayat 2. Rakyat = pemilik. Pejabat = mandataris.

2. Kontrak Sosial: Kalau mandataris khianat, kontrak batal. Rakyat berhak cabut.

3. Pancasila Sila 4: “Permusyawaratan/Perwakilan”. Kalau perwakilannya udah jadi “perwakilan cukong”, rakyat boleh bentuk “perwakilan darurat”.

Makanya solusi terbaik; Bentuk MPRS – Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara itu satu-satunya jalan konstitusional.

MPRS = “MPR versi darurat”. Isinya bukan partai. Isinya: tokoh adat, ulama NU-Muhammadiyah, budayawan, purnawirawan, wakil buruh-tani, wakil daerah. Ini “DPR + DPD + Utusan Golongan” versi 1945.

Tugas MPRS cuma 3 ketuk palu:

1. Ketuk 1: Nyatakan Amandemen 1999-2002 batal demi hukum. Kembalikan UUD 1945 naskah asli 18 Agustus 1945 + Penjelasan.

2. Ketuk 2: Kembalikan GBHN. Negara harus punya kompas 25 tahun, bukan visi-misi 5 tahun.

3. Ketuk 3: Bentuk MPR definitif + pilih Presiden/Wapres oleh MPR. DPR kembali jadi pengawas, bukan raja.

Selesai. Darurat selesai. Negara hidup lagi.

1. Kenapa Elit Diam? Jawabannya Data Kompas 2014 > “502 anggota DPR 89,6% nyaleg lagi nomor 1-3. Punya dana + mesin partai”.

Itu kunci jawabannya. Mereka nggak mau UUD 1945 balik karena:

1. Balik UUD 1945 = Presiden dipilih MPR. Tidak bisa jual janji ke rakyat, harus lobi ke kiai, adat, purnawirawan.

2. Balik Pasal 33 = SDA tidak bisa dibagi ke cukong + asing.

3. Balik GBHN = tidak bisa bikin proyek 5000T tiap 5 tahun ganti nama.

Jadi mereka milih “tenggelam bareng kapal”, asal “pesta pora korupsi” tetap jalan.

Penutup: Ini Bukan Soal Kiri-Kanan, Ini Soal Hidup-Mati Bangsa

Bangsa Indonesia dan Pancasila dan UUD 1945 adalah milik rakyat Indonesia. Itu kalimat paling keren.Kalau pemilik rumah lihat maling ngerusak rumah, pemilik berhak ngusir maling. Itu bukan makar. Itu bela rumah sendiri.

Jadi pertanyaan bukan “berani nggak rakyat?” Pertanyaannya: “Mau nunggu sampai SDA terakhir dijual, baru gerak? Atau gerak sekarang selagi napas Pancasila masih ada?”

*) Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Unesa Lancarkan Training Ground Pickleball Academy: Revolusi Pembinaan Atlet Berbasis Sport Science di Surabaya

SURABAYA-KEMPALAN: Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menorehkan tinta emas dalam peta olahraga nasional. Bukan sekadar membuka arena latihan, institusi pendidikan pelopor ini meluncurkan sebuah pusat pembinaan atlet modern: Training Ground Pickleball Academy (TGPA). Langkah ini menjadi jawaban strategis atas makin menggelindingnya popularitas olahraga pickleball di kancah global, sekaligus bukti nyata komitmen Unesa dalam mengintegrasikan pendekatan ilmiah ( sport science ) ke dalam setiap proses pembinaan atlet.

Berbeda dengan akademi olahraga konvensional, TGPA hadir di bawah naungan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Sport and Exercise Research Center serta Direktorat Unesa Science Center (USC). Akademi ini merupakan pengembangan dari Training Ground Sports Academy (TGSA) yang telah beroperasi sejak Juli 2023. Peluncuran perdana yang digelar pada 25 November 2025 itu sekaligus menunjuk Dr. Sapto Wibowo, S.Pd., M.Pd., sebagai Head Coach—figur yang diyakini mampu mengawal visi besar akademi ini.

Direktur Unesa Science Center (USC), Dr. Mochamad Purnomo, S.Pd., M.Kes., dalam wawancara eksklusif dengan media ini, Selasa (9/6/2026), menegaskan bahwa TGPA dirancang untuk melampaui sekadar ruang latihan. “Pickleball sedang melesat di pentas olahraga dunia. Kami tidak ingin sekadar ikut-ikutan. Melalui TGPA, kami menghadirkan ekosistem pembinaan yang terstruktur, modern, dan berbasis sport science. Peserta tidak hanya diajar bermain, tetapi juga ditempa secara fisik, mental, dan karakter. Inilah pembeda utama kami,” ujar Purnomo dengan nada tegas.

Pilar Pembinaan yang Komprehensif

Keunggulan TGPA tidak terletak pada satu aspek, melainkan pada keseluruhan sistem yang saling terkait. Paling tidak, terdapat lima pilar utama yang menjadikan akademi ini layak menjadi headline olahraga nasional:

1. Fundamental Program & Karakter:

Penguasaan teknik dan taktik pickleball disesuaikan dengan usia dan tahap tumbuh kembang peserta. Setiap sesi latihan juga sarat dengan pendidikan karakter (disiplin, sportivitas, tanggung jawab, kerja sama, dan ketabahan)—fondasi yang kerap terlupakan dalam pembinaan atlet muda.

2. Motoric Class (Kelas Motorik):

Sebuah program langka di akademi sejenis. Fokus pada pengembangan kemampuan motorik kasar anak dan remaja. Program ini membantu memperkuat fondasi gerak dasar yang esensial tidak hanya untuk pickleball, tetapi untuk seluruh aktivitas olahraga mereka di masa depan.

3. Training Ground Special Weeks (Pekan Istimewa):

Layanan eksklusif yang menjadi value proposition TGPA. Peserta mendapatkan Physical Fitness Test (tes kebugaran jasmani), rapor perkembangan latihan, Nutrition Class (kelas gizi) bersama ahli, hingga pemantauan perkembangan latihan secara personal. Inilah wujud nyata sport science yang aplikatif.

4. Kompetisi Internal dan Terbuka: 

TGPA menyediakan Internal Tournament dan TGSA Open Tournament sebagai wahana uji tanding yang terukur. Kompetisi ini tidak sekadar mencari juara, melainkan instrumen evaluasi komprehensif atas hasil latihan sekaligus bekal pengalaman bertanding autentik.

5. Akses dan Lokasi Strategis:

Berlokasi di Gedung Gema, Unesa Kampus 1 Ketintang, Surabaya, akademi ini terbuka untuk anak-anak, remaja, hingga masyarakat umum. Kehadiran TGPA diharapkan tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga menguatkan ekosistem olahraga modern di Surabaya dan Jawa Timur.

Dengan dukungan pelatih profesional, fasilitas representatif, dan pendekatan ilmiah yang utuh, Training Ground Pickleball Academy Unesa bukan lagi sekadar pilihan. Ia adalah sebuah keniscayaan bagi siapa pun yang serius menekuni olahraga pickleball—baik sebagai jalan menuju prestasi puncak maupun sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang elegan dan berbobot.(M Fasichullisan/Ambari Taufiq).

Pemberdayaan Masyarakat Madani

Keberhasilan pemerintahan juga sangat bergantung pada keberanian melakukan reformasi tata kelola secara dialogis dan transparan guna mengoreksi defisit demokrasi dan hukum yang ditinggalkan era sebelumnya.

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

KEMPALAN: Membangun tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance) melalui pendekatan dialogis adalah upaya menciptakan relasi yang partisipatif, transparan, dan setara antara pemerintah dan masyarakat.

Pendekatan ini menggeser model komunikasi searah (top-down) menuju pada komunikasi dua arah yang digunakan untuk merumuskan kebijakan yang lebih responsif, akuntabel, dan inklusif.

Dalam konteks seperti ini, Masyarakat Madani berfungsi sebagai transformator, katalisator, sekaligus kanalisator antara rakyat dan pemerintah. Kesadaran bahwa seluruh pihak untuk mendayagunakan Masyarakat Madani menjadi syarat mutlak bilamana pemerintah dan rakyat berkomitmen mengedepankan dialog.

Dengan pola begini, pemerintah dapat membangun kepercayaan, meningkatkan inovasi pelayanan, dan mencapai Good Governance yang sesungguhnya.

Pilar Transformasi Menuju Tata Kelola Modern

Membangun tata kelola pemerintahan yang baik secara dialogis berporos pada tiga prinsip utama:

Fungsi Katalisator dan Kanalisator:

Masyarakat madani menjembatani jurang aspirasi antara rakyat dan elit politik, serta menggeser model komunikasi searah menjadi komunikasi kolaboratif.

Transparansi dan Akuntabilitas:

Dialog yang efektif menuntut keterbukaan informasi publik dan pertanggung-jawaban kebijakan demi mengikis potensi korupsi dan kolusi. Tim kreatif dari Masyarakat Madani dapat mendesain dialog dengan media digital yang telah dikembangkan seperti halnya model komunikasi Bimas di era orde baru yang mengesankan entitas egaliter dan diseimbangkan dengan inovasi era digital modern.

Keberanian Menegakkan Aturan:

Kunci utama keberhasilan pemerintahan bukan sekadar mengamankan nilai aset, melainkan keberanian menindak tegas praktik yang menyimpang dari tata kelola yang bersih dan berkeadilan.

Tantangan Oligarki dan Defisit Demokrasi

Gagasan komunikasi dua arah ini berpotensi besar membantu pemerintahan keluar dari “persimpangan jalan” ekonomi. Namun, keberhasilannya sangat rentan terhadap ancaman oligarki.

Di Indonesia, monopoli kebijakan oleh kelompok kepentingan tertentu berpotensi merusak tujuan kemakmuran bersama dan mengaburkan semangat ekonomi konstitusi.

Sistem perekonomian nasional yang berlandaskan Pancasila menjadikan koperasi sebagai sebuah keniscayaan, sekaligus antitesa bagi sistem ekonomi lain yang bersifat kapitalistik.

Kehadiran masyarakat madani diperlukan untuk menjembatani transformasi ke sistem koperasi karena butuh dorongan partisipasi publik.

Peluang pengembangan ekonomi syariah yang diminati di Indonesia di komunitas koperasi menjadi tantangan tersendiri di era keuangan modern berbasis digital.

Keberhasilan pemerintahan juga sangat bergantung pada keberanian melakukan reformasi tata kelola secara dialogis dan transparan guna mengoreksi defisit demokrasi dan hukum yang ditinggalkan era sebelumnya.

Ketegasan dalam menegakkan tata kelola yang bersih, transparan dan berkeadilan (anti-kolusi) adalah kunci utama.

Kesimpulan

Pemberdayaan Masyarakat Madani melalui pendekatan dialogis adalah strategi krusial untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.

Hal ini menuntut komunikasi dua arah untuk merumuskan kebijakan publik yang partisipatif dan setara, sekaligus menjadi instrumen penting dalam mengatasi tantangan ekonomi, kolusi elit, dan oligarki di Indonesia.

*) S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara, Jakarta.

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Gerakan Sekolah Bahagia dan Kemandirian Belajar Anak

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang menghormati martabatnya akan memiliki keberanian untuk berpikir, kepekaan untuk merasakan, dan (juga) kebijaksanaan untuk bertindak.

Oleh: M. Isa Ansori

KEMPALAN: Setiap zaman melahirkan tantangan pendidikannya sendiri. Namun di balik berbagai perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, dan dinamika sosial yang terus bergerak, sesungguhnya ada satu pertanyaan mendasar yang tidak pernah berubah: untuk apa pendidikan diselenggarakan?

Apakah pendidikan hanya sekadar untuk mencetak manusia yang cerdas secara akademik? Apakah pendidikan hanya bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang mampu bersaing dalam pasar global? Ataukah pendidikan tersebut sesungguhnya merupakan ikhtiar peradaban untuk memanusiakan manusia?

Sebagai pegiat perlindungan anak, pertanyaan tersebut selalu menjadi (suatu) kegelisahan yang menyertai setiap langkah pendampingan terhadap anak-anak.

Sebab dalam berbagai kasus yang saya temui, persoalan pendidikan seringkali bukan terletak pada rendahnya kemampuan anak untuk belajar, melainkan pada kegagalan sistem memahami cara anak bertumbuh.

Terlalu banyak anak yang kehilangan kegembiraan belajar karena pendidikan lebih sibuk mengukur daripada memahami. Terlalu banyak anak yang tumbuh dalam tekanan karena sekolah lebih menekankan capaian dibanding proses.

Terlalu banyak anak yang akhirnya percaya bahwa dirinya gagal hanya karena tidak mampu memenuhi standar yang ditentukan oleh orang dewasa.

Padahal setiap anak lahir dengan keunikan, potensi, dan irama pertumbuhannya masing-masing.

Di sinilah relevansi gagasan growth mindset yang diperkenalkan oleh Carol Dweck. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang bisa tetap. Kemampuan manusia berkembang melalui proses, pengalaman, latihan, ketekunan, dan suatu keberanian menghadapi kegagalan.

Pesan penting dari growth mindset bukan sekadar bahwa anak harus rajin belajar. Lebih dari itu, ia mengajarkan bahwa setiap anak memiliki hak untuk bertumbuh. Bahwa kemampuan bukanlah takdir yang sudah selesai ditentukan, melainkan kemungkinan yang terus berkembang sepanjang kehidupan.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih sering terjebak pada cara pandang yang melihat kemampuan anak sebagai sesuatu yang statis.

Anak yang cepat memahami pelajaran disebut pintar. Anak yang membutuhkan waktu lebih lama seringkali dianggap kurang mampu. Label-label seperti ini tidak hanya melukai harga diri anak, tapi juga berpotensi menghambat proses tumbuh kembangnya.

Karena sesungguhnya tidak ada anak yang gagal belajar. Yang sering gagal adalah sistem yang tidak memahami cara anak belajar.

Kalimat ini bukanlah tuduhan kepada guru atau sekolah. Sebaliknya, ia adalah undangan untuk melakukan refleksi bersama. Bahwa pendidikan harus terus berkembang mengikuti kebutuhan anak dan perubahan zaman.

Perjalanan perkembangan pendidikan sesungguhnya menunjukkan arah tersebut. Dari pedagogi yang menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran, berkembang menuju andragogi yang memberi ruang partisipasi lebih besar pada peserta didik, hingga heutagogi yang mendorong lahirnya pembelajar mandiri yang mampu mengelola proses belajarnya sendiri.

Perubahan ini bukan sekadar perubahan metode. Ia adalah perubahan cara pandang terhadap manusia.

Pedagogi berbicara tentang ketergantungan belajar. Andragogi berbicara tentang partisipasi belajar. Sedangkan heutagogi berbicara tentang kemerdekaan belajar.

Pada titik inilah kemandirian belajar menemukan makna yang sesungguhnya. Kemandirian belajar bukan berarti anak kemudian dibiarkan berjalan sendiri tanpa bimbingan.

Bahwa kemandirian belajar adalah kemampuan anak untuk memahami dirinya, mengenali kebutuhannya, menentukan tujuan hidupnya, dan memiliki kesadaran untuk terus belajar sepanjang hayat.

Namun kemandirian tidak mungkin tumbuh dalam ketakutan. Kemandirian tidak mungkin lahir dari tekanan. Kemandirian juga tidak mungkin berkembang dalam budaya pendidikan yang menjadikan anak sekadar objek.

Kemandirian hanya bisa tumbuh dalam lingkungan yang akan menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan kebahagiaan. Di sinilah Gerakan Sekolah Bahagia akan menemukan urgensinya.

Sekolah bahagia bukanlah sekolah yang hanya sekadar menghadirkan permainan, hiburan, atau suasana riang. Bahagia berbeda dengan senang. Senang seringkali bersifat sesaat, sementara bahagia merupakan keadaan batin yang lebih mendalam.

Anak merasa bahagia ketika dirinya diterima apa adanya. Ketika pendapatnya dihargai. Ketika kesalahannya dipandang sebagai bagian dari proses belajar. Ketika sekolah menjadi tempat yang aman untuk mencoba, gagal, bangkit, dan tumbuh kembali.

Sekolah bahagia adalah sekolah yang membuat anak merasa dirinya manusia yang berharga.

Dalam perspektif perlindungan anak, inilah bentuk perlindungan yang paling substantif. Perlindungan anak tidak cukup diwujudkan melalui regulasi atau mekanisme pelaporan kekerasan.

Perlindungan anak harus hadir dalam budaya sekolah, dalam cara guru berbicara kepada murid, dalam cara orang tua memandang prestasi, dan dalam cara negara mendefinisikan keberhasilan pendidikan.

Anak yang terlindungi bukan hanya anak yang bebas dari kekerasan fisik. Anak yang terlindungi adalah anak yang bebas dari penghinaan, stigma, diskriminasi, dan tekanan yang menghilangkan martabatnya sebagai manusia.

Pemikiran para tokoh pendidikan Indonesia dahulu sesungguhnya telah lama mengajarkan hal tersebut.

Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kata “menuntun” menjadi sangat penting.

Menuntun itu bukan memaksa. Menuntun bukan menyeret. Menuntun berarti menghormati arah tumbuh anak sambil membantu mereka menemukan jalan terbaiknya.

Tradisi pesantren juga mengajarkan bahwa tujuan belajar bukan sekadar mencari ilmu, melainkan membangun adab. Ilmu yang tidak disertai kebijaksanaan hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa nurani.

Sebaliknya, ilmu yang dipadukan dengan akhlak akan melahirkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan.

Kearifan lokal bangsa Indonesia bahkan telah lama menanamkan nilai-nilai pendidikan yang memanusiakan. Budaya gotong royong mengajarkan bahwa pertumbuhan individu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bersama.

Filosofi Jawa mengenal konsep memayu hayuning bawana, yaitu memperindah dan memperbaiki kehidupan semesta. Pendidikan bukan hanya sekadar sarana memenangkan persaingan, melainkan jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.

Sayangnya, di tengah arus kompetisi global, pendidikan seringkali kehilangan ruh kemanusiaannya. Sekolah menjadi terlalu sibuk mengejar angka. Orang tua terlalu cemas pada peringkat. Negara terlalu bangga pada statistik. Sementara anak-anak perlahan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Padahal masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas. Masa depan membutuhkan generasi yang memiliki empati, daya kritis, kemampuan berkolaborasi, keberanian moral, dan ketangguhan menghadapi perubahan.

Karena itu, Gerakan Sekolah Bahagia tidak boleh dipahami sebagai program seremonial pendidikan. Ia harus menjadi gerakan moral sekaligus gerakan sosial. Sebuah ikhtiar bersama untuk mengembalikan pendidikan pada tujuan dasarnya: memanusiakan manusia.

Kita tidak sedang mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi ujian semata. Kita sedang mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.

Kita tidak hanya ingin melahirkan anak-anak yang mampu menjawab pertanyaan. Kita ingin melahirkan generasi yang berani mengajukan pertanyaan.

Kita tidak hanya ingin menghasilkan lulusan yang kompetitif. Kita ingin melahirkan manusia yang berintegritas.

Kita tidak hanya ingin mencetak individu yang sukses. Kita ingin menghadirkan warga bangsa yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan keberanian memperjuangkan keadilan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah seberapa banyak anak menguasai pengetahuan, melainkan seberapa utuh mereka bertumbuh sebagai manusia.

Sebab anak yang tumbuh dalam ketakutan mungkin akan menjadi manusia yang patuh, tetapi belum tentu merdeka.

Anak yang tumbuh dalam tekanan mungkin akan menjadi manusia yang kompetitif, tetapi belum tentu bahagia.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang menghormati martabatnya akan memiliki keberanian untuk berpikir, kepekaan untuk merasakan, dan (juga) kebijaksanaan untuk bertindak.

Itulah hakikat Gerakan Sekolah Bahagia.

Bukan tentang membuat anak selalu tersenyum. Melainkan memastikan bahwa setiap anak memiliki ruang untuk bertumbuh sesuai kodratnya.

Bukan tentang menghilangkan seluruh kesulitan dalam belajar. Melainkan untuk menghadirkan makna dalam setiap proses belajar.

Bukan tentang menjadikan semua anak yang terbaik. Melainkan memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk menjadi dirinya yang terbaik.

Karena tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan manusia yang sekadar berhasil dalam hidup.

Melainkan manusia yang utuh, merdeka, beradab dan bahagia. Dan dari manusia-manusia seperti itulah masa depan Indonesia yang berkeadaban akan tumbuh.

*) M. Isa Ansori, Kolumnis, Pengajar Psikologi Komunikasi dan New Era Media, Praktisi Transaksional Analisis, Pegiat Pendidikan Sekolah Bahagia dan Ramah Anak, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Babak Baru Timur Tengah: Iran Tak Lagi Menunggu Wilayahnya Diserang

Yang jelas, diamnya negara-negara Teluk selama ini atau bahkan teriakan mereka tanpa tindakan tidak menghasilkan apapun kecuali menambah kekurangajaran Israel.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Di tengah bara konflik Timur Tengah yang lomo terus menyala, sebuah perkembangan terbaru kembali telah mengubah arah perbincangan geopolitik kawasan.

Iran mengirimkan pesan yang jauh lebih keras daripada sekadar pernyataan diplomatik. Kali ini, banyak pengamat dan pendukung Teheran juga melihat adanya perubahan mendasar dalam cara Republik Islam itu mendefinisikan ancaman dan meresponsnya.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyebut  bahwa serangan Israel yang semakin meluas ke wilayah selatan Lebanon dan kawasan Dahieh di Beirut telah melewati batas yang sebelumnya telah diperingatkan Iran.

Menurutnya, Teheran telah berulangkali menyampaikan peringatan bahwa perluasan operasi militer di wilayah tersebut tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.

Namun, yang membuat peristiwa ini terasa berbeda bukanlah kerasnya ancaman atau besarnya eskalasi. Sorotan utama justru terletak pada alasan di balik respons tersebut.

Bahwa dalam pandangan para pengamat, untuk pertama kalinya Teheran menunjukkan kesediaan menyerang Israel bukan karena wilayah Iran sendiri menjadi sasaran, melainkan karena sekutunya mendapat tekanan militer yang semakin besar.

Selama bertahun-tahun juga, dunia sudah terbiasa melihat Iran merespons setelah fasilitas miliknya diserang, setelah ilmuwan nuklirnya menjadi target pembunuhan, atau setelah jenderal-jenderalnya gugur dalam operasi yang dikaitkan dengan Israel dan sekutunya.

Pola itu seolah membentuk sebuah doktrin tak tertulis: Iran akan membalas ketika dirinya sendiri terluka.

Kini, pola tersebut mulai berubah. Iran tidak lagi menunggu rudal jatuh di Teheran. Iran tidak lagi menunggu ilmuwannya dibunuh atau jenderalnya menjadi korban sebelum mengambil tindakan.

Dalam logika baru yang mereka yakini sedang terbentuk, serangan kepada sekutu strategisnya dipandang sebagai ancaman yang cukup serius untuk memicu respons langsung.

Ibarat seorang warga kampung yang dahulu baru keluar rumah saat pagar rumahnya sendiri dirusak, kini ia lebih memilih turun ke jalan ketika rumah tetangganya dilempari batu. Apakah itu bentuk solidaritas, kepentingan strategis, atau kombinasi keduanya?

Pertanyaan itulah yang kini ramai diperdebatkan.

Perubahan itu merupakan bukti bahwa Teheran tidak lagi memandang Lebanon, Palestina, dan Suriah sebagai isu terpisah.

Ketiganya dianggap bagian dari satu lingkaran keamanan yang saling terhubung. Dalam perspektif ini, ancaman kepada salah satu pihak pada akhirnya juga dipandang sebagai ancaman terhadap Iran sendiri.

Narasi tersebut kemudian berkembang menjadi dukungan yang lebih luas terhadap peran regional Iran.

Sebagian kalangan menilai bahwa ketika banyak negara di kawasan sibuk mengeluarkan kecaman dan pernyataan resmi, Teheran justru lebih memilih menunjukkan tindakan nyata.

Mereka menggambarkan sejumlah pemerintahan lain sebagai pihak yang lantang di podium, tetapi mendadak kehilangan suara ketika risiko politik dan militer mulai menghampiri.

Iran berhasil membangun citra sebagai kekuatan yang bersedia (untuk) menanggung biaya politik demi membela sekutunya. Lebanon, Palestina, dan Suriah kemudian ditempatkan dalam satu rangkaian narasi perlawanan yang sama terhadap tekanan eksternal.

Tidak sedikit pula yang membandingkan langkah Iran dengan negara-negara besar lain yang selama ini sering berbicara mengenai perlawanan terhadap dominasi Barat.

Rusia dan China kerapkali disebut memiliki kapasitas ekonomi, teknologi, dan militer yang jauh lebih besar.

Namun Rusia dan China masih terlalu sungkan untuk memberikan balasan setimpal pada arogansi AS dan Barat, ukuran kekuatan tak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran pertahanan atau jumlah persenjataan yang dimiliki.

Mereka beranggapan bahwa keberanian mengambil keputusan seringkali lebih menentukan daripada besarnya sumber daya yang tersedia.

Meski demikian, tidak semua pihak melihat perkembangan ini dengan cara yang sama. Sebagian pengamat memperingatkan bahwa semakin luasnya definisi ancaman yang digunakan Iran bisa meningkatkan risiko konfrontasi regional yang lebih besar.

Jika setiap serangan terhadap sekutu dianggap sebagai serangan terhadap diri sendiri, maka ruang bagi eskalasi konflik juga akan semakin terbuka.

Perdebatan pun terus berlangsung. Ada yang melihat langkah Iran sebagai bentuk solidaritas yang selama ini dinilai langka di kawasan. Ada pula yang menganggapnya sebagai langkah yang berpotensi memperpanjang siklus konflik yang sudah terlalu lama membebani masyarakat sipil.

Yang jelas, bahwa perkembangan terbaru ini menandai babak baru dalam dinamika Timur Tengah.

Jika benar Iran kini tidak lagi menunggu wilayahnya diserang, atau tokoh-tokoh pentingnya menjadi korban sebelum bertindak, maka kawasan ini sedang menyaksikan perubahan besar dalam perhitungan strategis salah satu pemain utamanya.

Apakah perubahan tersebut akan menciptakan keseimbangan baru atau justru memperluas lingkaran konflik, masih menjadi pertanyaan terbuka.

Yang jelas, diamnya negara-negara Teluk selama ini atau bahkan teriakan mereka tanpa tindakan tidak menghasilkan apapun kecuali menambah kekurangajaran Israel.

Sementara para pemimpin dunia terus menghitung langkah berikutnya, jarum sejarah bergerak tanpa jeda, membawa Timur Tengah menuju babak yang hasil akhirnya belum dapat dipastikan oleh siapa pun.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.