Kamis, 4 Juni 2026, pukul : 17:53 WIB
Surabaya
--°C

Setelah Copot Kepala BGN, Copot Kepala Polri, Dong…!

Kini posisi juga sama, Listyo menodongkan pistol kepada Prabowo demi Jokowi, PSI, dan Gibran. Mampukah Prabowo bertindak sama seperti menembak Dadan Hindayana, Kepala BGN?

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Baik kasus penyimpangan dari kerja BGN yang merusak program unggulan Prabowo Subianto MBG maupun kinerja Polri dalam menangani kasus dugaan ijazah palsu Joko Widodo yang berbelit-belit dan menggaggu program kerakyatan Prabowo, maka penindakan adalah suatu keniscayaan.

Jika BGN berlanjut dengan penggeledahan, maka Kapolri awalnya cukup dengan pencopotan. Ini adalah tuntutan publik.

Ketidakbecusan Dadan Hindayana dan pimpinan lainnya menjadi pelajaran penting. MBG dijadikan sarang perampokan dana rakyat dan membuka celah adanya sabotase kesuksesan. Bersih-bersih harus segera dilakukan sebelum rakyat marah dan memaksa penghentian program.

Begitu juga dengan Kepolisian yang disamping menujukkan kerja tidak profesional juga telah memberi citra buruk bagi pemerintahan Prabowo.

Kriminalisasi lewat delik fitnah dan pencemaran adalah sabotase politik melalui penegakan hukum. Jokowi yang semestinya diproses hukum malah dilindungi, sebaliknya lawan politik pencari kebenaran dan keadilan justru yang dijadikan tersangka.

BACA JUGA  Tantangan Terbesar Presiden Prabowo: Bagaimana Menjelaskan Visi Besarnya Kepada Rakyat

Wajah Prabowo tentu tercoreng oleh rekayasa model mafia ini. Reforrmasi Kepolisian dimulai dari penggantian Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Tanpa itu ya hanya omon-omon berbusa-busa.

Dadan Hindayana orang Garut ahli serangga itu kini mati kutu. Dulu menjadi perawat pohon cemara udang Prabowo yang terkena hama. Kemudian ia menjadi “serangga” hama MBG yang menyebabkan keracunan massal.

Alumnus IPB ini kontroversial karena pernah menganjurkan minum susu 2 liter per hari dan menjalankan MBG di bulan Ramadhan. Kini setelah dipecat Dadan bersiap-siap untuk hidup di penjara bersama serangga-serangga.

Kapolri juga serangga yang merusak institusi Polri. Penerus “democratic policing” Tito Karnavian adalah loyalis Jokowi banget. Sigit adalah bawahan Prabowo tetapi posisinya di atas karena jasa dan kepanjangan tangan Jokowi, guru Prabowo.

Berani menentang Presiden di kasus kerusuhan Agustus 2025, menolak menjadi Menteri Kepolisian, lebih memilih jadi barisan petani, siap melawan sampai titik darah penghabisan, serta mampu membungkam Komisi Percepatan Reformasi Polri. Rekomendasi Komisi dibuat tumpul.

BACA JUGA  Gelombang Pembangkangan di Kubu Trump dan Tanda-Tanda Krisis Internal Republik

Listyo menjadi hama bangsa, banyak perwira dilompati. Pasukan Brimob-nya brutal dan dibenci rakyat apalagi mahasiswa pendemo. Bawaslu, Jalan Tol KM 50, dan Kanjuruhan menjadi saksi bisu tindakan brutal Brimob.

Listyo terlalu lama menjabat Kapolri. Tidak lazim dan selalu unjuk kesaktian. Indonesia berada di bawah sepatu polisi saat Listyo Sigit Prabowo memimpin. Dulu Dwi Fungsi ABRI kini Multi Fungsi Polri.

Ketika Prabowo terancam dalam kasus MBG maka tidak ada pilihan selain “kill or to be killed” dan akhirnya Dadan, Pusung, dan Sony ditembak Prabowo.

Kini posisi juga sama, Listyo menodongkan pistol kepada Prabowo demi Jokowi, PSI, dan Gibran. Mampukah Prabowo bertindak sama seperti menembak Dadan Hindayana, Kepala BGN?

Atau sebaliknya Prabowo yang kini ditembak? Door. “To be or not to be, that is the question“.

*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.