SURABAYA-KEMPALAN: Di balik hiruk-pikuk pusat kota, tepatnya di kawasan Bringin Indah, Surabaya Barat, sebuah revolusi sunyi tengah berlangsung. Di sanalah Dwi Kistiono, Ketua Umum Pengprov Modern Pentathlon Indonesia (MPI) Jawa Timur, membangun sebuah fasilitas latihan unik yang layak disebut sebagai Ninja Warrior versi Indonesia. Bukan sekadar arena, ini adalah pernyataan sikap: bahwa pembinaan atlet tak perlu menunggu tangan negara.
Dengan dana pribadi dan rancangan sendiri, Dwi mengubah lahan sederhana di Jalan Raya Bringin Indah menjadi pusat latihan obstacle modern pentathlon berukuran 6 x 20 meter yang didominasi konstruksi besi. Keberadaan arena ini menjadi oase di tengah kelangkaan fasilitas khusus cabor yang menuntut penguasaan lintas disiplin—anggar, menembak, lari, renang, serta obstacle.
“Ini saya niatkan untuk persiapan PON 2028. Agar atlet-atlet Jawa Timur sangat siap,” ujar Dwi dengan nada mantap. Saat ini, empat rintangan telah terpasang. Dalam waktu dekat, dua rintangan baru akan ditambahkan di bagian tengah untuk meniru dinamika pertandingan nasional yang kerap berubah.
Valent Kurniawan, atlet nasional modern pentathlon andalan Jawa Timur sekaligus putra legenda Persebaya, Hengky Kurniawan, menyambut hadirnya arena ini dengan apresiasi mendalam.
“Selain membanggakan, arena ini mempermudah saya mengembangkan keterampilan. Tidak perlu lagi mencari lokasi jauh-jauh. Dari sini, persiapan menuju event nasional dan internasional jadi lebih terstruktur,” ujar Valent dengan mata berbinar.
Yang membuat berita ini eksklusif adalah: Arena ini tidak hanya untuk atlet profesional. Dwi merancangnya agar dapat diakses para pemula dan penghobi tantangan. Sebab, filosofi modern pentathlon adalah keberanian menguasasi banyak medan—sebuah metafora dari perjuangan hidup itu sendiri.
“Pelan-pelan. Yang penting kebutuhan latihan atlet terpenuhi. Ini untuk puslatda mandiri menuju PON 2028,” tegas Dwi, yang juga terlibat langsung merancang setiap sudut arena.
Meski masih dalam tahap penyempurnaan, arena di Bringin Indah ini telah menjadi simbol baru kemandirian olahraga Indonesia: dari pinggiran kota, menuju podium nasional. (M Fasichullisan / Ambari Taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi