Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 12:34 WIB
Surabaya
--°C

Ekspor Satu Pintu dan Ujian Keberanian Prabowo

Sejarah akan menilainya dari satu pertanyaan sederhana, yaitu: apakah Indonesia berhasil menghentikan kebocoran devisa dan mengembalikan manfaat kekayaan alamnya kepada negara dan rakyat.

Oleh: Ir. Gunawan Adji, PhD

KEMPALAN: Pelemahan rupiah dan penurunan IHSG belakangan ini tidak harus dibaca sebagai kegagalan kebijakan. Pasar keuangan selalu bereaksi terhadap ketidakpastian, terutama ketika pemerintah menjalankan reformasi besar yang berpotensi mengubah tata kelola ekonomi yang telah berlangsung puluhan tahun.

Rencana ekspor satu pintu untuk komoditas strategis lahir dari keprihatinan atas praktik under-invoicing dan transfer pricing yang diduga telah merugikan negara dalam jumlah sangat besar.

Jika kebocoran devisa dan penerimaan negara memang terjadi selama puluhan tahun, maka reformasi tidak boleh berhenti hanya karena muncul gejolak pasar jangka pendek.

Penurunan rupiah sekaligus IHSG saat ini bersifat transisi dan jangka pendek. Kondisi ini dapat disebut sebagai masa ketidakpastian akibat reformasi yang berpotensi mengubah tata kelola ekonomi nasional.

Investor, eksportir, dan pelaku pasar masih menunggu bentuk akhir implementasi kebijakan serta dampaknya terhadap arus perdagangan dan investasi. Karena itu, volatilitas pasar merupakan sesuatu yang wajar dalam tahap awal untuk sebuah perubahan besar.

Penilaian yang sesungguhnya baru dapat dilakukan pada fase berikutnya, yaitu masa pembuktian, dalam rentang enam bulan hingga dua tahun ke depan.

Sesungguhnya, gagasan pengelolaan ekspor secara terpusat bukanlah hal baru di dunia. Arab Saudi berhasil memaksimalkan manfaat ekspor minyak melalui Saudi Aramco yang berada di bawah kendali negara. Botswana mampu menjadikan kekayaan berlian sebagai motor pembangunan nasional melalui pengelolaan yang terpusat dan terkontrol.

Sementara Selandia Baru berhasil memperkuat posisi ekspor produk susunya melalui Fonterra yang menguasai sebagian besar perdagangan internasional sektor tersebut.

Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan ekspor yang lebih terkoordinasi bisa berhasil bila didukung tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel.

Keberhasilan reformasi harus diukur secara objektif: apakah devisa hasil ekspor meningkat, penerimaan negara bertambah, praktik manipulasi perdagangan berkurang, cadangan devisa menguat, serta manfaat sumber daya alam semakin besar kembali kepada negara dan rakyat.

Jika indikator-indikator tersebut membaik, pasar akan menyesuaikan diri dan kepercayaan investor akan kembali.

Karena itu, Presiden Prabowo Subianto tidak perlu ragu. Sudah saatnya amanat Pasal 33 UUD 1945 ditegakkan secara lebih konsisten melalui kebijakan yang bisa memastikan pengelolaan sumber daya alam benar-benar sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Salah satu langkah yang patut diuji adalah melanjutkan kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis.

Yang terpenting pada masa transisi ini adalah menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi yang erat antara Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Bank Indonesia. Sinergi fiskal dan moneter diperlukan agar gejolak pasar jangka pendek tidak mengganggu tujuan besar reformasi.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan menilai kebijakan ini dari pergerakan rupiah atau IHSG dalam beberapa bulan pertama.

Sejarah akan menilainya dari satu pertanyaan sederhana, yaitu: apakah Indonesia berhasil menghentikan kebocoran devisa dan mengembalikan manfaat kekayaan alamnya kepada negara dan rakyat.

Jika jawabannya ya, maka gejolak yang terjadi hari-hari ini akan dikenang hanya sebagai bagian dari proses menuju kedaulatan ekonomi yang lebih kuat.

*) Ir. Gunawan Adji, PhD, Peneliti/Rektor UNSURI 2016-2020

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Gerakan Rakyat Targetkan Rampungkan Struktur 38 Provinsi dan Daftar ke Kemenkum Juni 2026

KEMPALAN: Ketua Umum (Ketum) Partai Gerakan Rakyat (PGR) Sahrin Hamid menargetkan penyelesaian pembentukan struktur kepengurusan di 38 provinsi seluruh Indonesia, serta mendaftarkan badan hukum ke Kementerian Hukum (Kemenkum) pada Juni 2026.

Hal tersebut diungkapkan saat acara serah terima berkas legalitas partai politik (parpol) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di DC Cafe Reborn Bakmi Jawa, Sleman, Jumat (5/6/2026).

“Semua bekerja keras dari Aceh, dari Sabang sampai Merauke di Papua Selatan di sana dari Pulau Rote di NTT sampai Miangas di Sulawesi Utara, semua bekerja keras membangun partai ini, dan In Sya Allah pada bulan Juni ini dari 38 provinsi kita akan menyelesaikan 38 provinsi itu dan bulan ini juga, bulan Juni tahun 2026 In Sya Allah kita daftarkan Partai Gerakan Rakyat di Kementerian Hukum Republik Indonesia,” ujar Sahrin.

Sahrin menekankan bahwa PGR memiliki identitas berbeda dari partai politik kebanyakan. Menurutnya, Gerakan Rakyat murni lahir dari arus bawah, tanpa campur tangan kekuatan finansial besar maupun kendali dari keluarga tertentu.

“Ini adalah satu-satunya partai politik yang tidak dilahirkan oleh elite politik, Saudara-saudara Ini adalah satu-satunya partai politik yang tidak dimodali oleh oligarki Ini adalah partai politik yang bukan dari satu keluarga Ini adalah partai politik yang bukan dari satu korporasi,” tuturnya.

“Di Jogja dapat SKT, dapat kantor-kantor DPC, dapat kantor-kantor DPD, dapat pengurus-pengurus itu semua dengan tenaga sendiri, dengan kekuatan sendiri, dengan keringat sendiri keringat dan upaya rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta itu sendiri. Oleh karena itu, inilah sebenarnya, inilah sejatinya adalah partainya rakyat,” tambah Sahrin.

Lebih lanjut, Sahrin mengingatkan seluruh jajaran kader agar tetap memegang teguh komitmen perjuangan. Ia berpesan, ketika Gerakan Rakyat resmi diakui dan berhasil menempatkan wakilnya di jajaran legislatif maupun eksekutif, mereka tidak melupakan asal-usulnya sebagai partainya rakyat.

“Oleh karena itu, In Sya Allah nanti ketika telah menjadi partai politik secara resmi dan ketika nanti mengemban amanat di parlemen, mengemban amanat di eksekutif, janganlah sekali-kali mengkhianati rakyat,” tegasnya.

Gerakan Rakyat sendiri menargetkan penyelesaian SKT Kanwil Kemenkum di 38 provinsi dalam waktu dekat, guna memantapkan langkah menuju legalitas badan hukum partai politik di Kementerian Hukum Republik Indonesia (Kemenkum RI).

Hingga kini, tercatat sudah 20 provinsi mengantongi SKT, meliputi Jawa Barat, NTB, NTT, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Banten, Papua Barat Daya, DKI Jakarta, Lampung, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Riau, Yogyakarta, Aceh, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Panggung Setara Para Juara: PORKAB Disabilitas Sidoarjo 2026 Menembus Batas Dunia

SIDOARJO-KEMPALAN: Gelora olahraga di Sidoarjo kembali membara, bukan sekadar tentang medali, melainkan tentang pembuktian martabat dan talenta tanpa batas. Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Disabilitas Sidoarjo 2026 resmi bergulir pada 9–10 Juni 2026. Ajang tahunan ini menjadi kawah candradimuka bagi para atlet disabilitas berbakat untuk meniti jalan menuju panggung paralimpik dunia.

Sidoarjo selama ini dikenal sebagai tulang punggung kontingen Jawa Timur dan Indonesia dalam mendulang prestasi di berbagai ajang besar, mulai dari Peparpenas, Peparnas, ASEAN Para Games, hingga Paralimpiade. Saat ini, dua pahlawan olahraga Sidoarjo, Ken Swagumilang (para-archery) dan Ubaidillah Amsyar (para-renang), bahkan tengah menjalani tryout di luar negeri untuk mengasah taji mereka di level internasional. PORKAB 2026 menjadi fondasi penting untuk melahirkan penerus estafet emas tersebut.

Berikut adalah jadwal dan disiplin olahraga yang memicu adrenalin di PORKAB Disabilitas Sidoarjo 2026:

Jadwal Pertandingan PORKAB Disabilitas Sidoarjo 2026

Cabang Olahraga (Cabor)Lokasi PertandinganTanggal Pelaksanaan
Para-AtletikStadion Jenggolo Sidoarjo09 Juni 2026
Para-RenangKolam Renang Sendang Delta Sidoarjo09 Juni 2026
Para-BocciaGOR Indoor Sidoarjo10 Juni 2026
Para-BulutangkisGOR Indoor Sidoarjo10 Juni 2026
Para-Tenis MejaGOR Indoor Sidoarjo10 Juni 2026
Para-CaturGOR Indoor Sidoarjo10 Juni 2026

Penanggung Jawab PORKAB Disabilitas NPCI Sidoarjo 2026 sekaligus Sekretaris NPCI Sidoarjo, Muhammad Ayodya Putra Prasetya, menegaskan bahwa ajang ini memiliki misi strategis jangka panjang.

“Ini adalah agenda rutin tahunan untuk mencari bibit-bibit baru yang belum terserap dan terakomodir. Output-nya jelas, yaitu persiapan matang untuk mengikuti Peparprov maupun event lain, baik single event maupun multi-event,” ujar pria yang akrab disapa Yuda ini.

Yuda menaruh harapan besar pada generasi baru ini agar mampu mereplikasi kesuksesan para senior mereka. “Semoga adik-adik yang bertanding di PORKAB Disabilitas 2026 ini bisa mengikuti jejak Mas Ken Swagumilang yang sudah go international, bersama Mas Ubaidillah Amsyar yang sudah mengharumkan nama Sidoarjo, Jawa Timur, dan Indonesia di mata dunia,” tambahnya dengan penuh optimisme.

Dukungan penuh juga datang dari jajaran pemerintahan. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kadisporapar) Sidoarjo sekaligus Pembina NPCI Sidoarjo, Yudhi Iriyanto, menyatakan komitmen totalnya terhadap ekosistem olahraga inklusif ini.

“PORKAB Disabilitas ini bukan sekadar kompetisi, melainkan investasi besar Sidoarjo untuk prestasi olahraga nasional dan global. Kami di Disporapar bersama NPCI Sidoarjo berkomitmen penuh menyediakan fasilitas, pembinaan, dan hak yang setara bagi atlet difabel. Kesuksesan Ken dan Ubaidillah di kancah internasional adalah bukti nyata bahwa sistem pembinaan kita berjalan di jalur yang benar. PORKAB tahun ini harus menjadi pemantik lahirnya ‘Ken dan Ubaidillah baru’ yang siap mengguncang podium dunia,” tegas Yudhi Iriyanto.

Melalui sinergi kuat antara pemerintah, pengurus, dan semangat juang para atlet, PORKAB Disabilitas Sidoarjo 2026 membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari impian, melainkan awal dari sebuah narasi kepahlawanan yang baru.(M Fasichullisan/Ambari Taufiq).

Turbulensi Menuju Kebangkitan atau Kehancuran Bangsa?

Yang tidak kalah penting bagaimana para bandit-bandit itu dikendalikan. Tanpa mengendalikan mereka, nasib kebijakan ini akan seperti MBG. Ada positifnya, tapi di lapangan amburadul dan tidak karuan.

Oleh: Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

KEMPALAN: Pertumbuhan ekonomi ditentukan diantaranya oleh sehat tidaknya iklim investasi. Setidaknya ada tiga faktor untuk menilai iklim investasi: Pertama, kepastian hukum. Kedua, perlindungan aset. Ketiga, tingkat korupsi.

Kalau ketiga faktor ini bagus, maka negara itu sedang dalam keadaan sehat untuk investasi. Apalagi jika ada stimulus tambahan seperti kemudahan birokrasi, (juga) relaksasi pajak dan sejenisnya, dunia investasi akan semakin sehat dan menarik bagi para investor.

Bagaimana dengan iklim investasi di Indonesia saat ini? Kita bisa lihat dua hal. Pertama, nilai tukar rupiah. Kedua, IHSG. Rupiah hari ini melemah. Nilai tukar rupiah ke dolar hari ini tembus Rp 18.166.

Ini terburuk sepanjang sejarah pasca reformasi. Apa artinya? Banyak pemilik dolar tarik uangnya keluar dari Indonesia.

Bukankah neraca perdagangan kita surplus? Mengapa rupih tetap melemah? Betul! Neraca perdagangan tahun 2025 dan 2026 surplus. Impor kita tahun 2025 US $ 241,86 miliar, Ekspor kita US $ 282,91. Ada surplus US $ 41,05 miliyar.

Pada tahun 2026 (Januari-April) impor kita US $ 86,51 miliar dan nilai Ekspor kita US $ 92,15 miliar. surplus US $5,64 milyar. Tapi, kenapa rupiah melemah? Diduga penyebabnya di antaranya karena uang hasil ekspor itu disimpan di luar negeri. Gak balik ke Indonesia. Jadinya, minus.

Belum lagi kasus un-invoicing dan under-invoicing. Modus maling semacam ini tidak akan terjadi tanpa melibatkan pihak yang punya otoritas. Siapa mereka? Oknum aparat dan orang yang punya akses kekuasaan. Tanpa kedua pihak ini, para eksportir tidak akan pernah bisa lolos.

Kondisi IHSG terus merosot tajam. Terburuk dalam lima tahun terakhir. Dalam 10 bulan terakhir, IHSG minus 30-an persen. Dari 8.017 tanggal 15 Agustus 2025, hari ini merosot di angka 5.400-an. Turun 2.600-an poin. Kenapa turun?

Karena Net Sell jauh lebih besar dari Net Buy. Terutama oleh investor asing. Kenapa investor asing Net Sell besar-besaran? Selain faktor saham gorengan, karena iklim investasi Indonesia dinilai sedang tidak sehat. Apa penyebab iklim investasi tidak sehat?

Nah, ini yang menjadi pokok pembahasan yang mau dijelaskan di tulisan ini.

Berpedoman setidaknya pada tiga faktor terkait sehat tidaknya iklim investasi, mari kira urai satu persatu. Pertama, terkait kepastian hukum. Saat ini pemerintah sedang membuat kebijakan ekspor satu pintu.

Pemerintah telah menerbitkan PT. Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Semua ekspor harus dilakukan melalui DSI. Apa tujuannya? Supaya tidak ada un-invoicing dan under-invoicing. Juga meminimalisir uang lari dan disimpan di luar negeri.

Tapi, kebijakan monopoli DSI ini bukan tanpa masalah. Lalu, apa masalahnya?

Banyak perusahaan yang sudah kontrak dengan perusahaan importir dari luar. Apakah ini harus batal? Belum lagi soal harga. Dengan sistem ekpor satu pintu, DSI menjadi pihak yang punya otoritas menentukan kebijakan harga.

Ini akan membuat tidak nyaman bagi para pengusaha. Meski ada acuan harga global, tetap saja DSI bisa melakukan intervensi.

Ekspor satu pintu belum utuh sistemnya. Tentu masih akan mengalami berbagai persoalan dan perbaikan. Bongkar pasang. Ini akan dipahami sebagai tidak adanya kepastian regulasi yang membuat investor tahan diri. Bahasa gaulnya: “kabur dulu ah…”.

Gak tahu apa harus kabur ke Yaman atau Yordania. Kalimat terakhir ini bercanda. Jangan baper.

Kedua, soal perlindungan aset. Sekarang ini, PT Agrinas, perusahaan di bawah PT. Danantara sedang gencar-gencarkan melakukan perampasan aset. Terutama aset tambang dan sawit.

Jutaan hektar tambang dan sawit disita dan diambli alih oleh PT Agrinas. Gak peduli itu milik perusahaan taipan atau punya rakyat. Dianggap berada di dalam aset negara, ambil paksa. TNI disiagakan untuk mengawal, dan bahkan ikut pula mengelolanya.

Para pengusaha takut. Investor takut. Bagi negara: No negosiable. Tidak ada lagi kompromi! Apakah aset-aset itu sekarang tetap berjalan? Tidak semuanya.

Banyak juga yang berhenti. Bagaimana nasib karyawan dan para petani sawitnya? Di sinilah munculnya persoalan baru, yaitu pengangguran dan turunnya (dengan) pendapatan yang berpengaruh pada perputaran ekonomi yang melambat.

Ketiga, soal korupsi. Dalam buku berjudul “Power and Prosperity” Mancur Alson, pemikir politik dari Nort Dacota Amerika membagi dua katagori bandit.

Yaitu Roving Bandit dan Stationary Bandit. Roving Bandit itu bandit yang keliling untuk merampok. Sedang stationary bandit itu bandit menetap dan istiqamah merampok di suatu negara atau institusi.

Bahwa baik Roving Bandit maupun Stationary Bandit, keduanya ada di Indonesia. Jumlahnya tidak terhingga. Ada di semua institusi maupun lingkaran kekuasaan.

Modusnya dua. Kolektif kolegial sehingga membentuk mafia, dan STS alias Tahu Sama Tahu, karena kolega. Kalau bandit kurang berbagi alias makan sendiri, baru disikat. Ini berjalan dari satu rezim ke rezim setelahnya.

Jika rezim yang sekarang bisa berantas ini, setidaknya meminimalisirnya, maka berbagai kebijakan baru akan bekerja sesuai arah yang diharapkan. Jika tidak, khususnya kebijakan besar terkait ekspor satu pintu dan perampasan aset akan menimbulkan turbulensi yang hebat di lapangan.

Regulasi baru dan perampasan aset yang masif di rezim ini telah menciptakan transisi perubahan. Sebagainana umumnya, transisi seringkali melahirkan akan ketidakstabilan, bahkan turbulensi.

Apakah turbulensi ekonomi ini terkendali? Jika tidak terkendali, akan membuat para investor lari dan tidak kembali. Akibatnya  ledakan sosial dan politik akan terjadi.

Tapi jika terkendali, Indonesia punya prospek perubahan yang optimis.  Dengan catatan, kebijakan itu terencana dengan baik, kuat sistemnya, dijalankan oleh SDM profesional, dan terukur cara kerjanya.

Yang tidak kalah penting bagaimana para bandit-bandit itu dikendalikan. Tanpa mengendalikan mereka, nasib kebijakan ini akan seperti MBG. Ada positifnya, tapi di lapangan amburadul dan tidak karuan.

Jika ini yang terjadi, penguasa akan kehilangan trust. Menggunakan analisisnya Harold Lasswell, terutama berkaitan dengan “Who Says What dan With What Effect” maka apapun yang disampaikan oleh penguasa akan direspon negatif.

Dan saat ini, trend negatif lebih besar dari positifnya. Hal biasa di masa transisi. Pertanyaannya: apakah masa transisi ini akan berakhir pada stabilitas, atau justru akan terjadi turbulensi yang semakin parah karena lemah di perencanaan?

*) Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Trump Desak Iran Hentikan Peluncuran Rudal dan Akan Hubungi PM Israel agar Tidak Membalas

KEMPALAN: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (7/6) mendesak Iran agar berhenti meluncurkan rudal ke Israel dan kembali ke meja perundingan setelah Teheran menembakkan serangkaian rudal balistik terbaru.

“Apa yang akan saya sarankan kepada Iran: Anda telah menembakkan rudal Anda, sudah cukup,” ujar Trump kepada Fox News. “Kembali ke meja (perundingan) dan buat kesepakatan.”

Trump juga mengeklaim bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan sebelum Iran meluncurkan rudal-rudal itu sebelumnya pada hari yang sama.

“Kami hampir (mencapai kesepakatan). Saya kira perjanjian akan ditandatangani pada Senin (8/6), Selasa (9/6), atau Rabu (10/6) dalam pekan mendatang. Dan, sekarang hal ini (serangan ini) malah terjadi,” ujarnya.

“Hal ini tentu saja tidak akan membantu (proses) perundingan,” tutur Trump.

Dalam sesi wawancara lainnya dengan outlet media AS, Axios, Trump menyampaikan dirinya akan menelepon Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan mendesaknya agar tidak membalas serangan rudal Iran.

“Saya akan menelepon Bibi sekarang dan memintanya agar tidak membalas. Keduanya telah menikmati momen menyenangkan mereka. Israel telah melancarkan serangannya, dan Iran juga sudah melancarkan serangannya. Kami tidak memerlukan serangan lainnya,” imbuh Trump.

Menurut CNN, Iran menembakkan sedikitnya 10 rudal balistik ke Israel dalam sedikitnya tiga gelombang terpisah pada Minggu. Militer Israel menuturkan semua rudal tersebut berhasil dicegat.

Dua narasumber Israel yang pernyataannya dikutip oleh CNN mengatakan bahwa Israel akan memberikan respons yang “kuat” terkait serangan itu, sehingga memicu kekhawatiran perihal eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.

Ketika “The President’s Men” Mengalahkan Peraih Adhi Makayasa

Apakah ini pertanda lahirnya generasi elit militer baru yang akan mendominasi struktur kepemimpinan TNI dalam satu dekade mendatang? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya.

Oleh: Dr. Selamat Ginting Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)

KEMPALAN: Pada penutupan Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVI Tahun 2026 di lembaga pendidikan tertinggi Angkatan Darat, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), pada 3 Juni 2026 lalu, muncul fakta menarik yang memancing diskusi di kalangan militer dan pengamat politik.

Peraih Adhi Makayasa Akademi Militer 2011, Mayor (Czi) Henric Pardamean Hutagalung, hanya berada di peringkat kedua prestasi belajar terbaik. Peringkat pertama justru diraih Letkol (Inf) Denny Sopyan, rekan seangkatannya di Akmil yang kini dikenal sebagai salah satu pengawal Presiden Prabowo Subianto.

Pada kategori penulisan Kertas Karya Perorangan (Taskap), situasi serupa kembali terjadi.

Peraih Adhi Makayasa Akmil 2012, Mayor (Inf) Egy Satria Binthara, menempati posisi kedua. Adapun posisi pertama diraih Letkol (Inf) Teddy Indra Wijaya yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Kabinet.

Teddy bagaikan “Superman“, menjadi Seskab tanpa cuti pendidikan, langsung di saat bersamaan mengikuti pendidikan reguler Seskoad.

Bukan cuma itu, dia juga mengambil pendidikan doktoral di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB). Publik bertanya, bagaimana dia bisa membagi waktunya dan bisa meraih lulusan Taskap terbaik Seskoad?

Yang jelas Teddy, Denny, dan Henric sama-sama lulusan Akmil 2011. Di ruang publik, fenomena ini dapat dibaca secara sederhana: “orang-orang Presiden mengalahkan para peraih Adhi Makayasa.” Namun, apakah sesederhana itu? Jawabannya: belum tentu.

Meritokrasi Militer

Dalam tradisi militer modern, Adhi Makayasa merupakan simbol keunggulan akademik, kepemimpinan, mental, dan jasmani ketika seorang taruna lulus dari akademi. Tapi, penghargaan itu diberikan pada titik awal karier, bukan jaminan  seseorang akan selalu menjadi yang terbaik sepanjang perjalanan dinas.

Karier militer seperti maraton, bukan lomba lari 100 m. Perwira yang cemerlang di akademi belum tentu menjadi yang terbaik ketika memasuki jenjang pendidikan pengembangan, penugasan operasi, jabatan staf, maupun kepemimpinan (dalam) lapangan.

Namun sebaliknya, ada perwira yang berkembang pesat setelah bertahun-tahun pengalaman bertugas.

Dari sudut pandang profesional militer, “kemenangan” Denny Sopyan dan Teddy Indra Wijaya justru menunjukkan sistem pendidikan Seskoad masih memberikan ruang bagi kompetisi terbuka.

Jika seorang perwira yang dekat dengan Presiden meraih prestasi terbaik karena memang unggul dalam penilaian akademik dan intelektual secara fair, maka hal itu merupakan bagian dari meritokrasi. Namun jika tidak fair, hal ini akan menjadi persoalan dan memunculkan persepsi yang merugikan Angkatan Darat.

Politik Persepsi di Militer

Dalam ilmu politik, persepsi seringkali sama pentingnya dengan realitas. Denny Sopyan dikenal sebagai bagian dari lingkar pengamanan Presiden. Teddy Indra Wijaya bahkan lebih menonjol karena menduduki jabatan politik strategis sebagai Sekretaris Kabinet sekaligus tetap berasal dari lingkungan militer.

Ketika dua figur yang diasosiasikan dengan pusat kekuasaan dan mendapatkan kenaikan pangkat lebih cepat dari teman seangkatannya, kemudian memperoleh prestasi tertinggi saat mengikuti pendidikan Seskoad dengan tetap memegang jabatan lingkaran presiden, sebagian kalangan akan bertanya: apakah ini murni prestasi akademik atau ada faktor kedekatan dengan kekuasaan?

Pertanyaan semacam ini hampir selalu muncul dalam organisasi birokrasi maupun militer di berbagai negara. Semakin dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula sorotan terhadap setiap keberhasilannya.

Oleh karena itu, tantangan terbesar bukan dengan membuktikan mereka pintar, melainkan memastikan seluruh proses penilaian berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Munculnya Elit Baru Militer

Fenomena ini juga dapat dibaca dari perspektif regenerasi elit militer. Dalam sejarah Indonesia, selalu muncul kelompok perwira yang tumbuh bersama seorang presiden.

Pada masa Soeharto dikenal jaringan perwira yang memiliki kedekatan dengan Presiden. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono muncul pula kelompok perwira yang berkembang bersama pemerintahan SBY.

Bahkan pada era Joko Widodo muncul istilah Geng Solo, perwira-perwira yang pernah berdinas di Solo sejak Jokowi menjadi Walikota Solo dan kelak kariernya bagai meteor.

Kini pada era Prabowo Subianto, mulai terlihat kemunculan generasi baru perwira yang memiliki akses langsung ke pusat pengambilan keputusan nasional. Akses tersebut memberikan keuntungan besar.

Mereka memperoleh pengalaman strategis yang tidak selalu didapatkan oleh perwira lapangan biasa. Mereka berinteraksi dengan isu geopolitik, diplomasi pertahanan, keamanan nasional, dan proses pembuatan kebijakan negara.

Pengalaman seperti itu secara alamiah meningkatkan kapasitas intelektual dan strategis seorang perwira ketika mengikuti pendidikan seperti Seskoad.

Dengan kata lain, kedekatan dengan Presiden tidak otomatis menghasilkan prestasi. Namun kedekatan itu bisa memberikan pengalaman dan wawasan yang menjadi modal kompetitif.

Kepemimpinan TNI Masa Depan

Dalam tradisi Angkatan Darat, prestasi di Seskoad seringkali menjadi salah satu indikator penting dalam pemetaan karier menuju jabatan strategis. Tidak berarti lulusan terbaik pasti menjadi Kepala Staf Angkatan Darat atau Panglima TNI.

Namun rekam jejak akademik di Seskoad merupakan salah satu variabel yang diperhatikan dalam sistem pembinaan karier.

Oleh karena itu, keberhasilan Denny Sopyan maupun Teddy Indra Wijaya dapat dibaca sebagai sinyal keduanya masuk dalam radar elit militer masa depan. Hal yang sama berlaku bagi Henric Pardamean Hutagalung dan Egy Satria Binthara.

Menempati posisi kedua di lembaga pendidikan sekelas Seskoad tetap merupakan pencapaian luar biasa yang menunjukkan kualitas intelektual dan profesional yang tinggi.

Kesimpulan

Pada akhirnya, fenomena ini tidak harus dibaca sebagai kekalahan para peraih Adhi Makayasa, melainkan sebagai bukti kompetisi dalam tubuh TNI berlangsung jauh lebih kompleks daripada sekadar reputasi masa taruna.

Namun dari sisi politik, muncul pesan yang juga tidak kalah penting: kelompok perwira yang berada di sekitar Presiden Prabowo bukan hanya memiliki akses kekuasaan, tetapi juga mulai menunjukkan kapasitas akademik dan intelektual yang kompetitif di lembaga pendidikan militer tertinggi.

Dengan catatan, jika penilaiannya fair.

Apakah ini pertanda lahirnya generasi elit militer baru yang akan mendominasi struktur kepemimpinan TNI dalam satu dekade mendatang? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya.

Tetapi satu hal jelas, dalam politik dan militer, kedekatan dengan pusat kekuasaan akan selalu menarik perhatian.

Ketika “the president’s men” berhasil mengungguli para peraih Adhi Makayasa, peristiwa itu tidak lagi sekadar soal nilai akademik, melainkan juga tentang pembacaan arah regenerasi kekuasaan di tubuh militer Indonesia.

*) Dr. Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Rupiah Murah, Rasuah Meriah

Ketidakpercayaan dan sikap ragu investor semakin tinggi melihat perilaku korup pemerintah. Kebijakan keuangan berbasis utang, investasi, dan pemborosan atas nama efisiensi anggaran telah menggerus kedaulatan dan kehormatan negara. 

Oleh: Yusuf Blegur

KEMPALAN: Lahirnya kebijakan Danantara, MBG, KDMP, kenaikan pajak, dan penghapusan subsidi secara gradual serta beragam langkah-langkah politik dan ekonomi destruktif lainnya.

Harus dilihat publik sebagai konsolidasi KKN yang terstruktur, sistematis, dan juga masif. Dilakukan pemerintah demi menumpuk kekayaan pribadi dan kelompoknya serta upaya menyiapkan kesinambungan kekuasaan dalam pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2029.

Sepanjang sejarah kehadiran Indonesia dan pemerintahan berlaku, baru kali ini rupiah sebagai mata uang negara mengalami titik terendah dan cenderung akan terus mengalami penurunan drastis.

Menembus Rp 18.000 per USD, sebuah angka fantastis yang menunjukkan betapa rupiah semakin tak berharga sekaligus rakyat tak berdaya dan bangsa yang sudah terhina.

Mengapa demikian? Masalahnya, Indonesia bukan negara miskin, bukan yang letak geografis dan geopolitik tidak strategis dan bukan tak punya kekayaan alam serta sumber daya manusia potensial.

Ini soal pemimpin dan pejabat negara yang disorientasi kebangsaan, tentang behaviornya elit politik yang berkhianat pada nasionalisme dan patriotisme.

Kebijakan dari pemerintah yang menjadikan pajak sebagai tulang punggung pembangunan terasa begitu menyakitkan. Rakyat diperas dari hasil keringatnya, tak ubahnya upeti di zaman kolonial.

Sementara hasil pengelolaan sumber daya alam yang eksploitatif tidak pernah dipublikasikan secara transparan, kapabel dan akuntabel serta signifikan untuk kesejahteraan rakyat.

Sepertinya negara berada dalam transformasi penjajahan lama ke modern, dari sifat yang sama dengan wajah baru, dari pelaku global hingga orang lokal. Negara ini benar-benar mengandalkan pajak untuk pembangunan dan rakyat yang harus menanggungnya.

Rakyat yang membiayai negara dan pejabat yang menikmati kekayaannya. Rakyat diliputi derita dan sengsara, penguasa dan segelintir pengusaha yang berpesta pora.

Korupsi merajalela dalam pemerintahan, rakyat terus menjadi korban kebijakan serampangan. Sistem kakistokrasi menjadi andalan rezim yang telah melahirkan kebodohan dan kemiskinan struktural, seiring sejalan berlangsungnya kekuasaan yang korup, manipulatif, dan destruktif.

Pengelolaan kekayaan negara oleh pemimpin dan pejabat yang tak kompeten bukan sekadar tak efisien dan efektif, lebih dari itu terlalu menyimpang dan membahayakan perekonomian nasional.

Bahwa kebijakan sektor keuangan tak lagi berbasis pada kemampuan mengelola moneter dan fiskal yang sehat. Pemerintah terus membuat infra struktur ekonomi yang menghambur-hamburkan uang. Kebijakan keuangan dikeluarkan berbasis utang dan bertendensi korupsi. Ekonomi terancam bangkrut, rakyat mengalami depresi, dan negara terancam chaos.

Rupiah murah dan rasuah meriah. Rezim hanya fokus melakukan konsolidasi politik dan ekonomi demi meraih kemenangan pemilu legislatif dan presiden berikutnya.

Segala cara sedang dilakukan untuk menumpuk kekayaan sekaligus menyiapkan pembiayaan pemilu yang menjamin kekuasaan berkesinambungan. Korupsi dan perilaku tiran rezim bermetamorfosis sebagai proses dan tujuan bernegara.

Pemerintah telah membangun kedigdayaan dan rakyat yang harus menanggung kepiluan. Iklim investasi melemah akibat perilaku korup dan ‘abuse of power‘.

Ketidakpercayaan dan sikap ragu investor semakin tinggi melihat perilaku korup pemerintah. Kebijakan keuangan berbasis utang, investasi, dan pemborosan atas nama efisiensi anggaran telah menggerus kedaulatan dan kehormatan negara. 

Kabinet pemerintahan gemuk yang sejatinya merupakan bagi-bagi kue kekuasaan kebablasan tanpa kontrol.

Danantara, MBG, KDMP, kenaikan pajak perusahaan, dan penghapusan subsidi gradual berdampak ‘rush money‘ pada dunia bisnis internasional dan semakin terpuruknya ekonomi UMKM lokal dan pekerja kelas bawah serta rakyat pada umumnya.

Akibatnya nyata dari rupiah melemah dan rasuah meriah, Indonesia  memasuki situasi dan kondisi yang layak disebut ‘goverment less and failed state‘.

Sekali lagi, selamat menikmati rupiah yang kian melemah dan rasuah semakin meriah.

*) Yusuf Blegur, Kolumnis dan Mantan Presidium GMNI

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Refleksi Kritis Atas Pemikiran Emha Ainun Nadjib: Menyoal Oligarki, Etika Politik dan Restorasi Konstitusi

negarawan dan berlandaskan moral-spiritual.

Oleh: S. Purwadi Mangunsastro

KEMPALAN: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), seorang budayawan dan intelektual publik, acapkali membedah problem sosial, politik, dan budaya kebangsaan. Dalam salah satu diskursusnya, beliau menyoroti fenomena degradasi moral, dominasi oligarki, dan pudarnya identitas bangsa akibat pragmatisme.

Menyimak gagasan tersebut, terdapat diskursus kritis yang mendesak untuk bisa digarisbawahi, terutama terkait penyimpangan sistem politik saat ini dari cita-cita awal kemerdekaan.

Berikut adalah telaah mendalam, evaluasi, dan relevansi dari gagasan tersebut:

1. Kritik Sosial dan Budaya

Kritik:

Terjadi pergeseran nilai dari spiritualitas dan akhlak menuju materialisme pragmatis. Masuknya kekuatan modal (oligarki) dinilai tidak hanya menguasai ranah ekonomi, tetapi juga merambah politik, sehingga menggerus nilai-nilai Pancasila.

Evaluasi:

Demokrasi prosedural yang berbiaya mahal (seperti penggunaan sistem quick count berbasis IT) telah membuka ruang bagi transaksionalisme politik terjadi di Indonesia. Kesenjangan antara kepentingan rakyat dan pemodal menjadi ekses yang mengkhawatirkan.

Selain itu, masalah oligarki yang sering dikaitkan secara eksklusif dengan etnis tertentu sebenarnya merupakan masalah sistemik lintas-golongan. Ini mengakar akibat lemahnya penegakan hukum dan kaderisasi partai, yang berpotensi merusak moral aparat negara di semua tingkatan.

2. Etika Politik dan Oligarki

Kritik:

Rusaknya etika politik dan politisasi program pro-rakyat menjadi penyebab utama kegagalan dalam mewujudkan keadilan sosial (Sila ke-5).

Evaluasi:

Diagnosa ini sangat relevan dengan realitas politik transaksional sekarang ini. Kampanye populis kerap dijadikan “topeng” untuk melanggengkan kepentingan kelompok tertentu. Demokrasi yang berbiaya tinggi menciptakan ketergantungan politikus terhadap para penyandang dana, yang pada akhirnya melahirkan oligarki.

3. Solusi: Restorasi Konstitusi

Gagasan:

Kembali ke UUD 1945 Asli dan Pancasila 18 Agustus 1945, disertai adendum untuk menyesuaikan dengan dinamika zaman.

Evaluasi:

Wacana kembali kepada UUD 1945 Asli adalah perdebatan klasik. Di satu sisi, konstitusi asli memiliki semangat kekeluargaan yang kuat; namun di sisi lain, aturan ini pernah membuka celah otoritarianisme dan masa jabatan presiden tanpa batas.

Pemisahan jabatan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan (seperti dalam sistem semi-presidensial) dinilai lebih ideal untuk fungsi checks and balances. Kepala Negara dapat berfokus pada pengawalan ideologi dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), sedangkan Kepala Pemerintahan fokus pada teknokrasi birokrasi.

4. Konsekuensi Sistemik dan Restrukturisasi Politik

Gagasan:

Restrukturisasi ini menuntut format yang radikal, meliputi: Presiden dipilih MPR, pembatasan jumlah partai politik, penerapan hak recall, dan penunjukan Kepala Negara oleh lembaga tinggi negara.

Evaluasi:

1. Presiden Dipilih MPR dan Pembatasan Partai:

Gagasan ini merupakan tawaran untuk kembali ke format Demokrasi Pancasila era Orde Baru guna menekan ongkos pemilu. Namun, risikonya adalah hilangnya hak pilih langsung rakyat dan rawannya politik transaksional di tingkat elite.

2. Hak Recall:

Secara teori ideal untuk mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Dalam praktiknya, mitigasi risiko mutlak diperlukan agar hak recall tidak menjadi alat sandera partai politik terhadap anggotanya, melainkan benar-benar untuk melindungi aspirasi konstituen.

Kesimpulan

Gagasan ini menawarkan antitesis radikal terhadap sistem demokrasi liberal yang berjalan saat ini, sekaligus mencerminkan kerinduan akan kepemimpinan yang negarawan dan berlandaskan moral-spiritual.

Namun, transisi dari sistem demokrasi langsung saat ini menuju sistem perwakilan MPR memerlukan mitigasi risiko yang sangat besar.

Karena itu, jika gagasan ini diimplementasikan, keberadaan pemerintahan transisi yang terencana dan  terkontrol dengan baik menjadi sebuah keniscayaan.

*) S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara, Jakarta.

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Kanan Dalam

Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik pada zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear.

Oleh: Dahlan Iskan

KEMPALAN: Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi Menkeu.

Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya mendapat tugas baru sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi Menteri Keuangan pada akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya.

Mereka itu sama-sama ekonom Universitas Indonesia tetapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra).

Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas pada akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang.

Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Joko Widodo ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD 5.000.

Merosotnya jumlah kelas menengah tersebut sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh.

Kalau benar Chatib Basri akan menjadi Menteri Keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo Subianto yang tampak sekarang.

Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat – khususnya di kurs rupiah dan bursa saham?

Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD 5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori “jebakan kelas menengah”.

Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia telah belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan.

Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam – bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu.

Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar.

Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tetapi berdiskusi.

Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik – yang diberitakan kian kurus badannya.

Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter.

Tetapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual – salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya.

Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu.

Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah.

Siapa tahu muncul ”kemenangan baru”: keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat.

Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu.

Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik pada zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear.

Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian pada keluarga. Tetapi keluarga besar Indonesia menunggunya.

Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau – seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan.

Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara. (Disway)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.