Pemuda Disway itu juga sering didatangi tetangga. Untuk dimintai tolong mencangkul di tanah tetangga. Ia juga selalu menyediakan diri untuk itu.
Tidak ada upah yang harus dibayarkan. Cukup diberi minum dan makan siang. Minumnya pun cukup air putih.
Diambil dari sungai terdekat. Tidak perlu direbus.
Untuk makan siang mereka disediakan ubi. Bukan ubi jalar atau singkong. Ubi Jayawijaya. Orang di Jakarta menyebutnya talas.
Di Wamena disebut hepuru atau hepiri.
BACA JUGA: Karakter Kepercayaan
Talas Wamena enaknya luar biasa. Saya suka kangen talas Jayawijaya.
Kerja tanpa upah di tanah tetangga sebelah seperti itu sudah berlangsung turun-temurun. Tidak ada perasaan apa pun di antara mereka kecuali hidup harus saling membantu. Gotong royong yang asli justru masih hidup di Wamena. Di sana tidak disebut gotong royong. Mereka menyebutnya yawuyoko.
“Sampai kapan yawuyoko akan bertahan? Sampai traktor masuk Wamena?” tanya saya. Saya membayangkan kalau suatu saat traktor masuk ke lahan perladangan Jayawijaya polusi pun merambat ke sana. Juga suara bising. Pegunungan sejuk nan damai itu pun terusik.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi