Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 22:50 WIB
Surabaya
--°C

Bawang Yawuyoko

Di Jayawijaya ia punya masjid. Kalau Jumat ia yang berkhotbah. Waktu peringatan Maulid Nabi dua minggu lalu ia menyelenggarakan acara adat setempat: bakar batu.

Di sana, acara bakar batu sangat spesial. Natal bakar batu. Kematian, bakar batu. Perkawinan bakar batu. Iduladha bakar batu. Ada yang untuk ulang tahun pun bakar batu.

Saya pernah disambut acara bakar batu di sana. Orang sekampung berkumpul. Di tanah ladang yang lapang. Tanpa peduli agamanya apa. Yang penting sama-sama berkulit hitam dan berambut keriting. Pun kalau ada pendatang. Yawuyoko lebih penting dari perbedaan keyakinan. Mereka saling bantu.

BACA JUGA: Kerelaan Anda

Upacara bakar batu tidak bisa dilakukan sendirian. Harus orang banyak.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Pekerjaan pertama: menggali tanah. Bikin kubangan. Cukup dalam. Lebih 1 meter. Lalu mengumpulkan kayu kering.

Bahan bakar itu ditumpuk di bagian paling bawah kubangan.

Di atas hamparan tumpukan kayu bakar itu ditumpuki batu. Berlapis. Sampai rapat. Kayu pun dibakar. Sampai batunya berwarna merah –saking panasnya.

Di atas batu panas itulah daging di-jejer-jejer. Lalu ditimbun alang-alang. Tebal. Barulah ditutup dengan tanah.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.