Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 22:50 WIB
Surabaya
--°C

Bawang Yawuyoko

“Diberi pupuk kotoran hewan?” tanya saya lagi.

“Juga tidak”.

Itulah tanah Wamena. Tanah Jayawijaya. Yang umumnya di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut. Atau lebih tinggi lagi. Petaninya tidak mengenal pupuk. Tidak ada yang jual pupuk. Tanamannya tetap tumbuh subur.

Juga tidak ada saluran irigasi. Curah hujan cukup sekali. Sepanjang tidak ada perubahan iklim. Mungkin sampai traktor masuk Wamena. Atau mobil bensin kian banyak di sana. Tambah lagi pembangkit listrik fosil.

Maka baiknya mobil listrik dimulai dari Wamena. Sekalian sepeda motornya. Tidak boleh lagi ada penjualan mobil dan motor bensin di sana. Mumpung listriknya juga dari tenaga air. Kalau kelak tidak lagi cukup masih bisa membendung sungai Wamena. Bisa menghasilkan listrik sebesar berapa mega pun pun. Cukup untuk 9 kabupaten di Jayawijaya.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

BACA JUGA: Ginjal Duoria

Lebih satu jam saya ngobrol asyik dengannya.

Pemuda Disway itu pamit. Senin besok mau kembali ke Wamena. Lewat Jayapura.

Namanya: Faruq Aten Asso. Umur 27 tahun. Ia Islam sejak lahir, di pegunungan Jayawijaya. Demikian juga kakak perempuan dan adik laki-lakinya. SD-nya pun di madrasah ibtidaiah di kampung itu. Lalu dapat beasiswa ke pesantren di Parung. Dari Parung ia kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Tidak tamat. Lalu menyelesaikan kuliah di universitas swasta dengan mahasiswa terbesar di Indonesia: Universitas Pamulang.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.