“Dari hasil pertanian?” tanya saya.
“Iya….,” katanya lirih, lantas tersenyum menunduk.
“Sampai kapan tanam bawang?”
“Sampai tidak laku lagi,” katanya. Habis menanam bawang ini ia akan menanam bawang lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Di sekeliling bawang itu ia tetap menanam hepuru. Itu bahan makanan pokok di sana. Tidak boleh tidak punya hepuru. “Kalau persediaan beras di rumah akan habis kita tidak punya rasa waswas. Tapi kalau hepuru akan habis kita cemas,” katanya.
BACA JUGA: Dari Li ke Li
Ia dan umumnya orang Wamena, lebih memilih makan hepuru daripada nasi. Nasi hanya dimakan sesekali.
Siang hari. Pagi dan malam lebih enak makan hepuru. Terutama makan malam. Tanpa lauk apa pun.
Bagaimana bisa; habis tanam bawang tanam bawang lagi? Sampai enam kali berturut-turut? Dan masih akan bawang lagi? Tidakkah hasilnya kian menurun?
“Hasilnya tetap sama. Tidak ada penurunan,” katanya.
“Diberi pupuk apa?” tanya saya.
“Tidak diberi pupuk apa-apa,” katanya. “Tidak ada yang jual pupuk di Wamena,” tambahnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi