KEMPALAN: SAAT perang saudara terjadi di Amerika pada awal abad ke-19, tiga orang pemburu hadiah sayembara berusaha membunuh bandit Meksiko, Tuco Ramirez yang menjadi penjahat ‘’wanted’’ yang diburu dengan hadiah besar bagi yang bisa menangkapnya.
Tapi, Ramirez bukan penjahat kaleng-kaleng, dia sangat tangguh dan jago memainkan senjata. Ramirez pun berhasil membunuh dua orang yang memburunya dan melukai seorang lagi yang juga ikut memburunya. Pada ujung perburuan‘’orang baik’’ akhirnya menang dan mendapatkan hadiah.
Para penggemar film pasti ingat film lama ‘’The Good, The Bad, and The Ugly’’ yang dibintangi oleh Clint Eastwood pada 1966. Clint Eastwood adalah ‘’The Good’’, orang baik yang memakai keterampilan senjatanya untuk membela kebenaran. Sementara Tuco Ramirez adalah ‘’The Ugly’’, penjahat yang mengacau dan meresahkan dan menjadi buron karena kejahatannya.
BACA JUGA: Damai
Ada juga tokoh ‘’The Bad’’ yang menggambarkan seorang tentara yang sekaligus menjadi pembunuh bayaran yang sedang memburu seseorang yang melarikan uang dalam jumlah besar. Tokoh-tokoh dengan berbagai karakter yang bertentagan itu saling bersaing dan kemudian saling membunuh, tapi pada akhirnya ‘’sang lakon yang menang’’, The Good menjadi pahlawan.
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengutip kisah film itu ketika memberikan pidato pengukuhan doktor honoris causa yang diterimanya dari Universitas Brawijaya, Malang Senin (25/7). Paloh mengatakan bahwa dua pemilihan presiden Indonesia telah melahirkan polarisasi yang merupakan dampak dari politik identitas. Kendati demikian, politik identitas tak selalu negatif.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi