Paloh lalu mengutip film Clint Eastwood yang juga dijadikan perumpamaan oleh Yudi Latif yang memberi ciri tiga bentuk politik identitas, yaitu good, bad, dan ugly. Politik identitas disebut baik ketika ia menjadi ciri bagi sebuah partai atau kelompok politik.
Setiap kelompok memang akan melahirkan identitasnya masing-masing. Setiap kelompok bahkan harus melahirkan identitasnya. Kelompok politik yang baik adalah kelompok yang mampu membangun identitas diri yang kemudian menjadi pembeda antara ia dengan kelompok yang lain.
BACA JUGA: Revolusi Akhlak
Namun, identitas itu tidak membuatnya merasa eksklusif atau tidak mau mengenal yang lain. Sebaliknya, mereka tetap mampu bersikap inklusif, bersedia berinteraksi, dan siap mengenal hal yang berbeda dengan kelompoknya. Kelompok tersebut menyadari bahwa manusia adalah agen multi-identitas. Ada identitas suku, organisasi, agama, politik, hingga identitas kebangsaan yang dimiliki oleh masyarakat.
Kata Paloh, politik identitas yang tidak baik atau bad adalah mereka yang bersikap eksklusif dan tidak mau mengenal yang lain. Mereka membatasi diri dalam berteman atau bekerja sama. Mereka tidak mengganggu namun cara pandang dan berpikirnya menjadi sempit. Melihat sesuatu selalu dari sudut pandangnya, kurang empati.
Sedangkan politik identitas yang buruk atau ugly adalah sesuatu yang dapat merusak. Praktik politik semacam ini tidak hanya picik, tetapi juga membodohi masyarakat yang dapat membuat perpecahan masyarakat. Ia berdiri di atas kesadaran bahwa identitasnya-lah yang paling unggul dan kelompoknya-lah yang paling benar. Maka, identitas lain tidak hanya harus menjadi nomor dua akan tetapi juga harus dikalahkan atau ditiadakan jika perlu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi