Kamis, 25 Juni 2026, pukul : 09:30 WIB
Surabaya
--°C

Proses Terwujudnya Garis Nasib

Sedangkan orang yang gagal apabila mendapat kesempatan akan direspons dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan yang pada akhirnya membiarkan kesempatan emas berlalu sia-sia.

Oleh: Hamka Suyana

KEMPALAN: Pembaca artikel Cahaya Sasyuik yang dicintai Allah. Apapun yang terjadi dalam kehidupan seseorang, disebut nasib atau garis tangan. Nasib itu merupakan bagian dari takdir yang diputuskan Allah.

Nasib bisa diubah tergantung pilihan manusia. Kemudian Allah menetapkan-Nya menjadi takdir mualaq atau takdir pilihan.

Allah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra‘d : 11)

Mungkin ada yang komentar begini, “Semua orang pasti memilih hidup sukses dan bahagia tapi kenapa banyak yang gagal meraihnya?”

Perlu diketahui. Apabila Allah tidak mengabulkan harapan yang dipilih, bisa jadi, karena kesalahan yang bersangkutan. Ia salah pilih ketika memilih nasib. Ingin bernasib baik, tapi memilih jalan menuju kegagalan.

Berikut ini adalah skema proses terwujudnya garis nasib.

Diawali dari perasaan itu, kemudian akan diolah dalam pikiran selanjutnya akan terwujud dalam tindakan, kemudian jika selalu dilakukan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang sudah terpateri di dalam hati akan menjadi watak atau karakter. Dengan sendirinya, karakter akan mengantarkan pada garis nasib.

BACA JUGA  Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Perasaan -> Pikiran -> Tindakan -> Kebiasaan -> Karakter -> Nasib

Apabila ingin mengubah nasib, cukuplah mensetting perasaan. Berusahalah selalu Bersyukur, khususnya 5 menit sebelum tidur dan 5 menit setelah bangun tidur.

Sebab, apa yang dirasakan ketika memikirkan sesuatu, itulah yang akan menjadi kenyataan.

Hal ini sesuai dengan janji Allah dalam hadits Qudsi, “Aku selalu mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Sesungguhnya setiap saat, Allah selalu memberi peluang, kesempatan dan petunjuk untuk meraih bahagia sukses, melalui pintu Nurani.

Berikut ini ciri-ciri peluang atau kesempatan yang diberikan Allah.

Munculnya niat, ide, gagasan yang baik yang terjadi secara spontan.

Jika peluang singkat atau momentum itu segera direspon dan ditindak lanjuti, niscaya jalan menuju kesuksesan sudah terbuka lebar.

Namun, apabila peluang baik yang muncul spontan diabaikan, maka hilanglah kesempatan emas menuju kesuksesan.

Orang yang sukses adalah orang yang peka menangkap sinyal peluang dan cekatan mengambil sikap, kemudian segera melakukan tindakan.

BACA JUGA  Tragedi Dialog UGM, Ketika Dua Bahasa Bangsa Tidak Lagi Saling Mengerti (Bag-2)

Sedangkan orang yang gagal apabila mendapat kesempatan akan direspons dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan yang pada akhirnya membiarkan kesempatan emas berlalu sia-sia.

Ingatlah kisah semua para penemu dunia. Mereka cekatan menindaklanjuti “petunjuk” Allah yang datang spontan.

Contohnya:

– Andaikata Archimedes tidak segera merespons fenomena air tumpah dari bak mandi, niscaya tak akan menemukan Hukum Berat Jenis Benda.

– Andaikata Newton tidak merespons fenomena apel yang jatuh dari pohonnya, niscaya ia tidak akan menemukan Hukum Gravitasi.

– Andaikata Sedijatmo tidak merespons kesaksian ayam jantan berdiri di tanah becek, niscaya ia tak akan menemukan konstruksi fondasi Cakar Ayam.

– Dan lain sebagainya.

Ingatlah, respons spontan ketika mendapat petunjuk Allah yang datangnya secara spontan dan seringkali tidak disukai, akan memengaruhi nasib tertentu terhadap peluang yang akan terjadi kemudian. 

 Salam Sasyuik. Semoga bahagia sukses selalu.

*) Hamka Suyana, Motivator Cahaya Sasyuik

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.