Kamis, 25 Juni 2026, pukul : 07:43 WIB
Surabaya
--°C

Tiga Toga, Satu Keluarga, Satu Pesan Besar: Ketika Anang, Ashanty, dan Azriel Membuktikan Bahwa Belajar Tak Mengenal Usia

Oleh : Slamet Sugianto (Alumni FISIP UNAIR Angkatan 1987)

KEMPALAN: Sabtu pagi, 20 Juni 2026, Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C Universitas Airlangga Surabaya menjadi saksi sebuah pemandangan yang jarang terjadi dalam sejarah wisuda perguruan tinggi Indonesia.

Di antara ribuan wisudawan yang memenuhi ruangan, tiga nama dipanggil hampir bersamaan. Mereka bukan hanya berasal dari keluarga yang sama, tetapi juga menjadi simbol bahwa pendidikan adalah perjalanan sepanjang hayat.

Mereka adalah Ashanty Hastuti, Anang Hermansyah, dan Azriel Hermansyah.

Tiga generasi dalam satu keluarga berdiri di panggung wisuda yang sama.

Momen tersebut segera menjadi perhatian nasional. Berbagai media, mulai dari Detik, Kompas, Antara, Okezone, Sindonews, RCTI+, KapanLagi, Ngopibareng, Ketik, Duta, Telusur, hingga media lokal dan nasional lainnya mengangkat kisah ini sebagai salah satu peristiwa wisuda paling inspiratif tahun 2026.

Namun di balik foto-foto toga yang viral, terdapat cerita yang lebih dalam daripada sekadar kelulusan akademik.

Keluarga 3A

Publik mengenal mereka sebagai keluarga selebritas.

Namun pada hari itu, identitas sebagai artis, penyanyi, tokoh publik, dan figur media seakan ditanggalkan.

Yang tampak hanyalah tiga mahasiswa yang berhasil menuntaskan perjuangan akademiknya.

Ashanty menyelesaikan Program Doktor (S3) Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan IPK 3,94.

Anang Hermansyah menuntaskan Program Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan IPK 3,96.

Sementara Azriel Hermansyah meraih gelar Magister Ilmu Politik dengan IPK 3,57.

Prestasi tersebut menjadi lebih istimewa karena dicapai secara bersamaan dalam satu periode wisuda Universitas Airlangga.

Bahkan, menurut pengakuan Ashanty, Anang sengaja menunda wisudanya selama tiga bulan agar dapat merayakan momen kelulusan bersama istri dan anaknya.

Keputusan itu mungkin sederhana.

Namun di situlah makna keluarga menemukan bentuknya.

Air Mata Seorang Ibu

Saat didaulat menjadi perwakilan wisudawan, Ashanty menyampaikan pidato yang menyentuh banyak orang.

Di hadapan para dosen, keluarga, dan ribuan wisudawan, ia mengakui bahwa perjalanan menuju gelar doktor bukanlah jalan yang mudah.

BACA JUGA  Bola: Kecil-kecil Cape Verde

Sebagai seorang ibu, istri, pebisnis, dan figur publik, ia berkali-kali menghadapi kelelahan dan keinginan untuk menyerah.

Namun setiap kali itu pula ia kembali bangkit.

“Berdiri di podium rasanya seperti mimpi yang terwujud melalui kerja keras yang panjang,” ungkapnya. Ia mengakui bahwa proses penelitian, penulisan disertasi, ujian, hingga sidang doktoral mengajarkannya tentang ketahanan diri dan kerendahan hati.

Pidato itu tidak hanya berbicara tentang akademik.

Ia berbicara tentang perjuangan seorang perempuan yang tetap memilih bertumbuh di tengah banyaknya peran yang harus dijalankan.

Anang dan Pesan Tentang Belajar Sepanjang Hayat

Di usia yang tidak lagi muda, Anang menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika seseorang mencapai kesuksesan.

Musisi, anggota parlemen, pengusaha, sekaligus tokoh publik itu justru kembali duduk di bangku kuliah.

Bahkan setelah meraih gelar magister, ia langsung menyatakan komitmennya untuk melanjutkan studi doktoral di Universitas Airlangga.

Baginya, pendidikan bukan tentang gelar.

Yang terpenting adalah bagaimana ilmu tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.

Pesan itu terasa relevan di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan hanya dari popularitas atau materi.

Anang justru menunjukkan bahwa belajar adalah bentuk investasi karakter yang tidak pernah berakhir.

Azriel dan Generasi Baru yang Memilih Akademik

Di tengah citra kehidupan selebritas yang identik dengan dunia hiburan, Azriel menghadirkan warna berbeda.

Ia memilih jalur akademik.

Putra Anang dan Krisdayanti tersebut berhasil menyelesaikan Program Magister Ilmu Politik.

Pencapaiannya memperlihatkan bahwa generasi muda dari keluarga publik figur tetap memiliki kesadaran untuk membangun kapasitas intelektual.

Kehadiran Azriel dalam prosesi wisuda bersama kedua orang tuanya menghadirkan simbol estafet pendidikan lintas generasi.

Ayah, ibu, dan anak.

Belajar bersama.

Berjuang bersama.

Lulus bersama.

Saat Rektor Menghibur Wisudawan

BACA JUGA  Tragedi Yuvi Cileunyi

Salah satu momen yang banyak diberitakan media adalah ketika pihak Universitas Airlangga memberikan ruang khusus bagi keluarga 3A untuk ikut memeriahkan suasana wisuda.

Mereka bahkan tampil menghibur para wisudawan dan tamu undangan yang hadir.

Suasana formal akademik berubah menjadi lebih hangat.

Tepuk tangan dan senyum mengiringi penampilan keluarga tersebut di atas panggung.

Peristiwa itu memperlihatkan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat mengejar ilmu, tetapi juga ruang yang merayakan perjalanan hidup dan pencapaian manusia.

Lebih Dari Sekadar Berita Selebritas

Mudah sekali melihat peristiwa ini hanya sebagai berita hiburan.

Namun sesungguhnya terdapat pesan sosial yang jauh lebih besar.

Di tengah rendahnya minat baca, tingginya budaya instan, dan kecenderungan masyarakat mengejar popularitas cepat, keluarga Anang-Ashanty menunjukkan contoh yang berbeda.

Mereka memilih kembali ke ruang kelas.

Mereka memilih membaca, meneliti, menulis, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas akademik.

Mereka membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang baru lulus sekolah.

Pendidikan adalah milik siapa saja yang masih memiliki semangat belajar.

Inspirasi Bagi Indonesia

Wisuda bersama keluarga 3A mungkin hanya berlangsung beberapa jam.

Namun pesan yang ditinggalkannya akan jauh lebih lama.

Bahwa keluarga terbaik bukan hanya yang hidup bersama, tetapi juga yang bertumbuh bersama.

Bahwa orang tua terbaik bukan hanya yang menyuruh anak belajar, tetapi yang ikut belajar bersama anaknya.

Bahwa kesuksesan sejati bukan ketika seseorang berhenti belajar karena merasa sudah berhasil, melainkan ketika ia terus belajar karena ingin menjadi lebih bermanfaat.

Di panggung wisuda Universitas Airlangga itu, Indonesia menyaksikan sesuatu yang lebih berharga daripada tiga gelar akademik.

Indonesia menyaksikan teladan.

Teladan bahwa ilmu pengetahuan, kerja keras, dan dukungan keluarga tetap menjadi fondasi utama untuk membangun masa depan.

Dan mungkin itulah makna sesungguhnya dari tiga toga yang berdiri berdampingan di atas satu panggung.[]

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.