Pendukung Ahok menganggap kekalahan ini karena eksploitasi politik aliran yang memainkan isu agama. Pada putaran pertama pemilih Islam militan yang ketika itu dimotori oleh FPI (Front Pembela Islam) masih terpecah suaranya antara AHY dan Anies. Pada putara kedua pemilih Islam militan menjatuhkan pilihannya kepada Anies.
Pertarungan elektoral yang sangat keras meninggalkan bekas luka yang sangat dalam. Kedua kubu tidak bisa direkonsiliasikan dan terpecah menjadi cebong dan kampret yang terus melekat sampai sekarang. Anies dituding sebagai biang politik aliran dan secara sarkastis dijuluki sebagai ‘’Bapak Politik Aliran’’.
BACA JUGA: Media yang Punah
Sampai sekarang oleh pada pengritiknya Anies tetap diberi labelling politik aliran itu, meskipun dalam menjalankan pemerintahannya di DKI Anies berusaha menerapkan kebijakan yang inklusif. Labelling itu melekat dan kelihatannya akan tetap menjadi bahan rundungan terhadap Anies jika maju ke kontestasi pilpres 2024.
Identitas agama dan politik selalu menjadi isu yang panas di setiap kontestasi politik. Politik identitas dianggap sebagai bahaya bagi demokrasi dan banyak yang menganggapnya bisa membunuh demokrasi. Pandangan ini muncul dari perspektif liberal dan sekular yang memisahkan agama dari negara. Tetapi, di sisi lain para pendukung unifikasi agama dan negara menganggap bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari politik karena agama dianggap sebagai sumberi etika dan akhlak sekaligus sumber legitimasi yang transenden.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi