Kamis, 25 Juni 2026, pukul : 21:23 WIB
Surabaya
--°C

Indonesia Belajarlah dari Iran (Bag-5)

Istana Inggris ternyata penyembah setan. Politisi Amerika dan barat lainnya juga begitu. Dunia ini bukan cuma tempat perang uang. Tetapi juga perang spiritual, hitam vs. putih.

Oleh: Sutoyo Abadi : 08/05/2026

KEMPALAN: Jangan Jadi Kacung Politik Amerika dan Zionis Israel. Bahwa Rekayasa Politik dimulai dengan peristiwa WTC 9/11 tahun 2001, yang menewaskan hampir 3000 orang.

Anehnya tidak ada Yahudi yang mati. Yang kaya dari peristiwa itu juga para Yahudi yang telah mengasuransikan bangunan tersebut tidak jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Polanya sama.

Mereka tetap menjadi yang kaya pada setiap musibah orang. Bahwa belakangan terungkap, peristiwa itu juga bagian dari rencana elit global untuk menjadikan Islam sebagai “kambing hitam”.

Islam menjadi tertuduh, pada tahun yang sama, penyerangan ke Afghanistan juga dimulai. Sebenarnya bukan tentang Osama Bin Laden. Melainkan pengamanan jalur minyak. Lalu konflik berlanjut ke negara lain.

Dua tahun setelah itu, pada 2003, mereka menyerang Irak, Libya, Suriah, dan Sudan menyusul kemudian. Terakhir Iran.

Paska 9/11, seperti disampaikan Jenderal Wesley Clark – mantan komandan NATO di Eropa, politisi Amerika Serikat sudah mendapat perintah dari elit global agar dalam 5 tahun segera menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan terakhir Iran (Al-Jazeera, 2003).

Namun tidak semua bisa diselesaikan dalam jangka tersebut.

Beberapa negara Islam dikudeta lewat agen-agen internal, seperti Sudan. Ada yang dibombardir secara langsung, seperti Afghanistan dan Irak. Beberapa lainnya (Libya, Suriah, dan Iran) harus dilemahkan pelan-pelan lewat berbagai sanksi ekonomi.

Bahkan untuk kasus Suriah, negara itu sempat di-back-up Iran, harus terlebih dahulu diciptakan mesin pembunuh ISIS untuk proses pelumpuhan. Isinya juga Mossad, yang dipadukan dengan para jihadis yang tidak mengerti peta perang.

BACA JUGA  Bukan Roy dan Tifa yang Harus Dipenjara, Tetapi Jokowi Sang Pendusta

Salah satu tokoh ISIS, Abu Muhammad Jolani Al-Shara, kini sudah menjadi presiden Suriah. Seperti raja-raja Arab lain, Jolani sedang memainkan fungsi secara baik sebagai presiden yang “manis” dan “islami”, yang tentunya patuh pada agenda Donald Trump dan Israel.

Patuh pada agenda jaringan dinasti elit global.

Pergantian kepemimpinan semacam ini juga tidak hanya di negara-negara Arab atau Islam. Di Amerika latin juga begitu. Seperti kasus kudeta internal terhadap Salvador Allende (Cile, 1973), intervensi langsung militer Amerika di Haiti (1915 dan 1994), tekanan politik terhadap Evo Morales (Bolivia, 2019), upaya kudeta terhadap Hugo Chavez (Venezuela, 2002), terakhir penangkapan langsung Nicolas Maduro (Venezuela, 2026).

Ceritanya bisa jadi beda. Lokasinya juga berlainan. Tetapi mekanismenya sama, lemahkan, kudeta, tangkap, bom atau bunuh. Lalu ganti dengan pemimpin yang bisa diatur. Yang punya kepentingan tetap sama elit keuangan global.

Itulah mengapa ada adagium: “Semua perang adalah perangnya para Bankir”. Bukan karena bankir ikut menjatuhkan bom. Tapi, merekalah yang membiayai perang. Mereka juga yang membangun ekonomi paska perang. Dalam hal ini, bankir zionis paling banyak meraup keuntungan.

Dengan target pergantian kepemimpinan di Iran, ada beberapa keuntungan yang ingin dicapai:

Pertama, perbankan Iran menjadi segaris dengan sistem imperium keuangan Rothschild. Kedua, pergerakan koloni Israel akan meluas, dan tidak ada lagi yang memperkuat gerakan perlawan di kawasan.

Ketiga, pinjaman IMF mulai diberlakukan, payment system diaktifkan.

BACA JUGA  Tiga Toga, Satu Keluarga, Satu Pesan Besar: Ketika Anang, Ashanty, dan Azriel Membuktikan Bahwa Belajar Tak Mengenal Usia

Keempat, ada privatisasi sumber daya alam (minyak, emas, perak, dsb). Jaringan perusahaan energi Rockefeller (Exxon, dsb) akan hadir untuk berbagi sumber daya alam. Kelima, terbentuknya pangkalan militer asing untuk mengontrol wilayah, seperti yang dilakukan di hampir semua negara Arab.

Begitulah polanya sama, setiap waktu dan tempat yang berlainan. Jika Iran masih tetap bertahan sebagai negara independen, berarti Iran akan tetap mengontrol mata uangnya, aliran modal, suku bunga, dan pendapatan dari sumber daya alamnya sendiri.

Hal-hal ini akan membatasi kontrol dunia luar terhadap Iran. Rothschild tidak suka ini. Kemandirian sebuah negara menjadi masalah bagi Rothschild dan jaringan elit global. Karena itu, berapapun biayanya, Iran harus dilumpuhkan.

Iran merupakan negara Islam paling maju, cerdas, relijius, dan juga kuat identitas kesejarahannya. Paling canggih perkembangan sains dan teknologinya. Ini (yang) menjadi tantangan besar bagi kelompok para penyembah Baal.

Karena itu tidak heran, sejak awal Ayatullah Khumeini sudah menyebut kelompok zionis ini, Amerika dan Inggris, sebagai “setan”. Baru sekarang dunia paham, lewat bocornya file Epstein.

Istana Inggris ternyata penyembah setan. Politisi Amerika dan barat lainnya juga begitu. Dunia ini bukan cuma tempat perang uang. Tetapi juga perang spiritual, hitam vs. putih.

Indonesia harus belajar dari Iran dalam segala hal, bukan ikutan menjadi setan, terbawa arus sebagai kacung politik Amerika dan Zionis Israel.

Bahkan Zionis Israel sangat mungkin tidak lama lagi akan musnah dari muka bumi, sedangkan Amerika akan melemah sebagai polisi dunia. (Bersambung Bag-6)

*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.