Semua politisi Amerika dibiayai untuk menjaga eksistensi negara proksi mereka di wilayah Timteng yang kaya dengan sumber daya. Karena itulah pemimpin revolusi Iran, Imam Khameini, menyebut Israel sebagai “kanker” di tengah dunia Arab.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Dalam sejarah perang di muka bumi ini dinasti Rothschild dipercaya selalu ada di balik setiap ada perang. Jarang dibicarakan karena perannya selama ini tersembunyi.
Sekarang ini mereka sudah mulai muncul ke permukaan. Dalam beberapa tweet terbarunya di Platform X, Nat Rothschild yang tampil sebagai “juru bicara”, tengah kembali memotivasi dunia untuk mengobarkan perang:
Dalam History is written by the winners #IranRevolution2026 (28/2/2026). Sebuah pesan, bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang perang.
Amerika Serikat selama ini selalu tampil sebagai pemenang, dengan kejam dan brutalnya selalu menarasikan itu semua sebagai demokratisasi dan pembebasan.
Beberapa tweet begitu provokatif Rothschild lainnya: “Where are the Iranian submarines?” #IranWar (2/3/2026). Lainnya, “If regime change is the objective, has anyone actually thought through what happen next?” #Iran (2/3/2026). Semua tweet ini membawa satu pesan: “Ayo terus berperang”.
Amerika adalah dinasti Rothschild menginginkan dunia selalu dalam keadaan perang. Bahkan mereka selalu ada di belakang sejumlah negara yang diciptakan untuk berperang. Kemarin Venezuela. Sekarang Iran. Keduanya masih pada tahun yang sama, 2026.
Rothschild butuh perang sebagai urat nadi kehidupan. Mereka menghasilkan triliunan dolar dari perang. Mereka membiayai penghancuran. Sekaligus juga mendanai kembali pembangunan.
Gaza mereka yang danai untuk dihancurkan. Mereka juga yang kemudian lewat Proposal Trump ingin dibangun ulang untuk menjadi resort wisata yang dapat menghasilkan uang. Bukan untuk warga Gaza. Tapi untuk pundi-pundi mereka. Warga Gaza akan direlokasi entah ke negara mana.
Mereka sejatinya mencari uang dari “conflict creation“. Dan juga dari “peace and reconstruction“. Uang bisa diperoleh dari penguasaan kontrak sumberdaya alam di daerah yang telah mereka tundukkan.
Dinasti ini pula yang menciptakan Israel. Baron James de Rothschild (1845-1934) merintis koloni Yahudi pertama di Palestina. Lalu Lionel Walter Rothschild (1868-1937) menggagas Deklarasi Balfour bersama Inggris untuk pengambil alihan Palestina.
Dengan memanfaatkan ideologi “tanah yang dijanjikan”, mereka melakukan suatu aneksasi tanpa henti. Tujuannya, mendukung ekspansi zionis di dunia Arab secara berkelanjutan.
Mereka mengontrol Amerika Serikat lewat lembaga lobi seperti AIPAC untuk meneguhkan agenda “Israel First“.
Semua politisi Amerika dibiayai untuk menjaga eksistensi negara proksi mereka di wilayah Timteng yang kaya dengan sumber daya. Karena itulah pemimpin revolusi Iran, Imam Khameini, menyebut Israel sebagai “kanker” di tengah dunia Arab.
Kemudian, mengapa sekarang Iran yang harus ditundukkan setelah merasa berhasil menangkap Presiden Venezuela, Manduro.
Indonesia belajarlah dari Iran, jangan sombong merasa lebih dan meremehkan Iran. Iran akan lahir sebagai Super Power di Timur Tengah, salah kelola Indonesia akan menjadi Juru Kunci di Asia Tenggara. (Bersambung Bag-2)
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi