SURABAYA-KEMPALAN: Di balik keriuhan deadline dan hiruk-pikuk pemberitaan olahraga Jawa Timur, terselip sebuah kisah tentang kesabaran yang melampaui batas logika. Setelah menanti selama 14 tahun—sebuah penantian panjang sejak pendaftaran di tahun 2012—enam jurnalis yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan KONI Jawa Timur akhirnya resmi mengetuk pintu langit. Mereka bertolak ke Tanah Suci pada musim haji 2026 melalui Embarkasi Surabaya.
Bukan sekadar perjalanan religi biasa, keberangkatan ini adalah simbol keteguhan. Meiga Ridwan dari Kanal Satu mengungkapkan bahwa menjaga niat selama 1,4 dekade bukanlah perkara mudah. Di tengah fluktuasi ekonomi dan tuntutan profesi, konsistensi untuk tetap berada di daftar antrean adalah “pertandingan” sesungguhnya.
“Ini adalah ikhtiar kolektif. Tahun 2012 kami sepakat mendaftar bersama saat ada sedikit rezeki. Menunggu 14 tahun itu seperti meliput pertandingan panjang yang menguras emosi, namun panggilan resmi dari Kementerian Agama tahun ini adalah ‘peluit akhir’ yang sangat membahagiakan,” ujar Meiga saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), Senin (4/5).

Namun, jalan menuju Baitullah tak luput dari kerikil tajam. Lika-liku persiapan administrasi hingga jadwal manasik sering kali berbenturan keras dengan ritme kerja jurnalis yang tak kenal waktu.
Wawan Triyanto, Pemimpin Redaksi Harian Bhirawa, menceritakan betapa sulitnya membagi fokus antara kewajiban ibadah dan tanggung jawab redaksional. Sebagai nakhoda di medianya, ia merasakan tekanan luar biasa saat harus mengurus dokumen haji di tengah tenggat waktu cetak.
“Jurnalis itu hidup dengan deadline. Ada saat di mana saya harus mengurus administrasi haji yang rumit, sementara di tangan ada halaman koran yang harus segera ‘tutup warung’. Istilahnya, jare bocah-bocah (kata anak-anak), mau tidak mau, koran harus tetap cetak, berita harus tetap naik, tapi urusan akhirat tidak boleh terlewat. Itu seni mengelola stres yang luar biasa,” kenang Wawan sambil tersenyum tipis.
Nada serupa disampaikan oleh Rahmat Noto Utomo, CEO Info Garuda. Baginya, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi fisik dan mental selama proses manasik di tengah jadwal liputan yang padat.
“Persiapan haji ini benar-benar menguji manajemen waktu kami. Kadang manasik bertabrakan dengan rapat koordinasi atau peristiwa besar yang harus segera dikelola medianya. Tapi kami percaya, jika kita mengurus urusan Allah, maka Allah akan mengurus urusan (kantor) kita. Lika-liku itu justru menjadi bumbu yang membuat keberangkatan ini terasa sangat eksklusif dan emosional,” ungkap Tommy.
Rombongan jurnalis ini bukan hanya membawa doa pribadi. Di sela-sela tawaf dan sa’i nanti, mereka telah bersepakat membawa satu doa khusus untuk tanah kelahiran. Sebagai saksi sejarah jatuh-bangunnya prestasi olahraga di Jawa Timur, para kuli tinta ini ingin mendoakan agar kejayaan olahraga Jatim tetap abadi.
“Kami sepakat satu suara: mendoakan agar olahraga Jawa Timur tetap kaya akan prestasi dan luar biasa di kancah nasional maupun internasional. Ini bentuk pengabdian kami, meski sedang berada jauh dari lapangan pertandingan,” tambah Meiga.
Keenam jurnalis Pokja KONI Jatim tersebut adalah Endradi Prayogo (Redaktur Memorandum), Rachmad Noto Utomo (CEO Info Garuda), Bambang Wahyono (Petisi.co), Meiga Ridwan (Kanal Satu), Fonda August Herwindo (Garuda TV), dan Wawan Triyanto (Pemred Harian Bhirawa). Bersama mereka, turut pula lima jurnalis senior lainnya dari PWI Jatim seperti J. Rois, Mahmud Suharmono, Afrizal, Anwar Hudiyono, dan Heri Sunaryo yang tersebar di beberapa kloter.
Meski kini mereka menanggalkan sejenak atribut jurnalis dan mengenakan pakaian ihram, semangat mereka tetap sama: menyampaikan kebaikan, kini langsung dari pusat spiritualitas dunia.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi