Sabtu, 4 Juli 2026, pukul : 15:35 WIB
Surabaya
--°C

Bukan Perang Peluru: Ini Perang Narasi, Sebagian Dari Kita Ikut Menarik Pelatuknya Sendiri

Kita diserang dengan cerita – dan yang paling menyakitkan, sebagian dari kita justru ikut menyebarkan peluru itu ke jantung negaranya sendiri, tanpa sadar sedang menembak.

Oleh: Agus M Maksum

KEMPALAN: Selama 40 hari Indonesia diserang tapi tidak runtuh – itu baru babak pertama. Sekarang datanya lebih dalam: dari mana narasinya lahir, siapa mendanai, dan lewat jalur mana ia sampai ke jalanan kita sendiri. Bukan konspirasi. Ini peta yang sudah lama terbuka, tinggal kita berani membacanya

Pernah nggak lihat pola ini di linimasa: seseorang akhirnya move on, hidupnya mulai membaik, promosi kerja, badan makin sehat, circle makin positif – eh tiba-tiba mantan toxic-nya muncul lagi. Bukan buat minta maaf. Tapi buat nagih “utang lama” yang tidak pernah jelas jumlahnya, persis di hari dia posting kabar bahagia.

Netizen langsung paham pola ini. Itu bukan soal utang. Itu soal satu hal saja: memastikan kebahagiaan orang lain tidak berlangsung lama.

Indonesia baru saja mengalami re-run dari drama yang sama. Bedanya, yang menagih bukan mantan personal – tapi media finansial kelas dunia, dan yang ditagih bukan utang cinta, tetapi legitimasi ekonomi sebuah bangsa.

Tembakan Kedua: 28 Juni 2026

Bloomberg menembak lagi. Judulnya kali ini: “Citi, HSBC, StanChart Send More Indonesia Profits Home as Prabowo Demands Rise“. Tiga bank asing memulangkan Rp 11,5 triliun laba dari Indonesia sejak 2024 – jumlahnya sedikit melebihi total laba gabungan mereka pada periode yang sama.

Narasinya dibangun rapi: investor asing lari ketakutan karena tuntutan kebijakan Prabowo Subianto.

Tapi coba baca angka ini pelan-pelan: Bloomberg sendiri, dalam artikelnya mengakui bahwa Citigroup rata-rata telah memulangkan 84 persen labanya ke kantor pusat selama 1 dekade penuh sebelum 2024. Standard Chartered rata-rata 48 persen. HSBC malah 87 persen untuk periode 2020-2023.

BACA JUGA  Dari Latsarmil ke Bela Negara: Koreksi Besar di Balik Program SPPI

Baca ulang: 84 persen. Delapan puluh empat persen. Selama sepuluh tahun. Sebelum Prabowo dilantik.

Dus, pertanyaannya jadi sangat sederhana untuk orang awam sekalipun: jika bank-bank ini memang sudah biasa memulangkan mayoritas labanya bertahun-tahun sebelum ada Prabowo – mengapa baru sekarang itu jadi bukti “investor lari karena Prabowo”?

Itu bukan bukti baru. Itu “utang lama” yang tiba-tiba ditagih pas kita baru saja mulai bangkit.

Turun ke Fakta yang Telanjang

HSBC menutup ritelnya di Indonesia bukan keputusan mendadak. Ini satu paket dari perombakan global CEO Georges Elhedery sejak 2024 – yang  bersamaan dengan penutupan di Bangladesh, Sri Lanka, dan Prancis, demi target penghematan global USD 1,5 miliar. Satu kebijakan, banyak negara, dijalankan dari London.

Citigroup bahkan lebih telak lagi. Mereka mengumumkan penjualan bisnis konsumennya di Indonesia pada 2022 – dua tahun sebelum Pemilu 2024 yang mengantarkan Prabowo jadi presiden. Bagaimana mungkin keputusan yang diambil sebelum seseorang menjabat, disebut sebagai reaksi terhadap orang itu?

Fakta korporasinya benar. Angkanya benar. Tetapi, bingkai ceritanya yang membunuh logika.

Analogi Sederhana

Ini seperti seorang tetangga yang memang rutin pulang kerja jam 5 sore setiap hari selama sepuluh tahun.

Kemudian suatu hari ada tetangga baru pindah ke sebelah rumahnya, dan besoknya media menulis: “Warga Ini Kabur dari Rumah Karena Takut pada Tetangga Barunya.” Jamnya sama. Rutinnya sama. Cuma narasinya yang diganti.

Apakah Ini Dikendalikan Satu Tangan?

Saya tidak akan menuduh ada satu tangan yang mengatur semua ini. Kita tidak perlu membuktikan itu untuk memahami bahayanya.

BACA JUGA  Jenderal Lalu Ompreng

Tapi ini menjelaskan catatan saya tentang 40 hari Indonesia diserang habis-habisan – tapi tidak runtuh.

Yang terbukti bukan konspirasi. Yang terbukti adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: narasinya seragam secara paradigma. Satu keyakinan yang sama: Washington Consensus.

Satu vonis yang sama, diulang dari berbagai sudut yang berbeda: negara yang mengarahkan ekonominya sendiri adalah negara yang salah urus. Inilah yang oleh Antonio Gramsci disebut hegemoni kultural – dominasi yang tidak butuh komando dari satu ruang rapat, karena cara berpikirnya sudah lebih dulu menjajah kepala kita, jauh hari sebelum peluru pertama ditembakkan.

Mekanismenya Sudah Dibocorkan Soros Sendiri

Dan cara kerja senjata ini sudah dijelaskan sendiri oleh George Soros lewat teori Reflexivity-nya: persepsi pasar tidak sekadar mencerminkan realitas – persepsi menciptakan realitas.

Sebarkan keraguan, modal lari. Modal lari, rupiah goyah. Rupiah goyah, keraguan tadi “terbukti benar”.

Lingkaran ini menutup dirinya sendiri – persis seperti gaslighting yang sukses: korban akhirnya percaya dirinyalah yang salah, karena buktinya “sudah terlihat di depan mata”.

Penutup Makjleb

Iran diserang dengan rudal, dan seluruh rakyatnya tahu persis mereka sedang diserang.

Kita diserang dengan cerita – dan yang paling menyakitkan, sebagian dari kita justru ikut menyebarkan peluru itu ke jantung negaranya sendiri, tanpa sadar sedang menembak.

Sumber: Bloomberg, “Citi, HSBC, StanChart Send More Indonesia Profits Home as Prabowo Demands Rise” (28-29 Juni 2026); Japan Times, The Star, The Edge Malaysia (republikasi laporan Bloomberg yang sama).

*) Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.