Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 15:56 WIB
Surabaya
--°C

Indonesia Belajarlah dari Iran (Bag-4) 

Presiden Prabowo Subianto seharusnya belajar kepada Iran dalam menyangga atau mempertahankan kedaulatan negaranya. Celakanya justru ikutan menjual kedaulatan negaranya kepada Amerika dan Zionis Israel.

Oleh: Sutoyo Abadi

KEMPALAN: Kokoh Dalam Menyangga Dan Mempertahankan Kedaulatan Negaranya. Itulah bangsa Iran.

Iran bukan hanya karena sistem keuangannya yang tidak mau tunduk pada dominasi global perbankan “ribawi” Rothschild, potensi alam dan posisi geografis Iran juga sangat signifikan.

Iran pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Kacaunya lagi, Iran juga menjadi suplier minyak utama untuk China, rivalnya Amerika. Maka, menguasai Iran mirip-mirip dengan menguasai minyak dunia. Sekaligus memotong mata rantai pasok terhadap China.

Iran juga mengontrol Selat Hormuz. Sebesar 20% minyak dunia keluar dari celah ini. Mengontrol Selat Hormuz, berarti mengontrol energi dunia. Iran punya power untuk mengendalikan dunia. Kalau selat ini ditutup, dunia kolaps.

Harga minyak dunia bisa melonjak seketika. Bisa terjadi kerusuhan di mana-mana, karena harga logistik dan biaya produksi meroket. Elit global, jaringan zionisme Rothschild, tidak senang dengan kenyataan ini.

Kepemimpinan Ayatullah harus ditumbangkan. Alasan harus dicari. Alasan yang tepat adalah sesuatu yang bisa membuat dunia takut dengan Iran: Nuklir.

“Iran sedang memproduksi bom nuklir yang bisa menjangkau Eropa dan Amerika”. Pidato ini terus diulang. Iran berulangkali membantah. Mereka tidak berniat memiliki senjata semacam itu.

Iran memang terus melakukan pengayaan uranium. Tapi untuk tujuan damai, untuk kebutuhan industri nasional. Benjamin Netanyahu sebagai gembalaan Rothschild semakin tidak senang dengan kemajuan dan pencapaian Iran.

Masih ingat, sebelum Perang Irak (2003-2011), Netanyahu memperingatkan dunia bahwa Saddam Husein punya senjata pemusnah massal. Dia bersumpah di depan Kongres Amerika.

Dia berorasi. Dia memberi pesan urgent untuk segera menginvasi Irak.

Alhasil. Tidak ada senjata pemusnah massal yang ditemukan. Irak hancur. Jutaan rakyat mati. Tentara Amerika tewas untuk Israel. Tentara Amerika mati untuk elit zionis Rothschild.

Sebenarnya, penyerangan terhadap Iran juga memiliki motif yang sama. Hanya Irak termasuk negara yang berada di luar orbit sistem keuangan yang dikontrol Rothschild.

Pada tahun 2000, tersisa 9 negara yang tidak satu kerangka dengan perbankan central Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Syiria, Libya, Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara.

Anda bisa lihat, sebagian negara yang menolak ikut sistem bank sentral Rothschild adalah negara-negara Islam. Termasuk Afghanistan dan Irak.

Ini harus diselesaikan. Makanya diciptakan imej global yang menakutkan, bahwa Islam adalah teroris.

Presiden Prabowo Subianto seharusnya belajar kepada Iran dalam menyangga atau mempertahankan kedaulatan negaranya. Celakanya justru ikutan menjual kedaulatan negaranya kepada Amerika dan Zionis Israel.

Selama ini Sumber Daya Alam kita bebas dijarah dalam genggaman kekuatan asing terutama China dengan Oligarki sebagai eksekutornya. (Bersambung Bag-5)

*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.