Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 15:47 WIB
Surabaya
--°C

China Menantang Ancaman AS, Dunia Menanti Babak Berikutnya

Bukankah kerja sama internasional seharusnya dibangun di atas dialog, bukan ultimatum? Atau apakah dunia kini sedang memasuki fase di mana “siapa paling keras bicara” justru dianggap paling benar?

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Ketegangan dagang kembali memanas di panggung global. Kali ini, sorotan tertuju pada hubungan tiga negara besar: Amerika Serikat, China, dan Iran.

Washington mengirim sinyal keras dengan ancaman kenaikan tarif hingga 100 persen jika Beijing terus mengimpor minyak dari Teheran. Ini sebuah langkah yang terdengar seperti menaikkan harga parkir sampai selangit agar orang kapok datang.

Namun respons dari Beijing justru menunjukkan nada yang tak kalah tegas. Alih-alih mundur, China justru memilih berdiri tegak, menolak tekanan yang dianggap mencederai kedaulatan. Bagi mereka, kebijakan sepihak semacam itu bukan solusi, melainkan bahan bakar tambahan bagi konflik yang sudah cukup panas.

Lalu, apakah tekanan ekonomi benar-benar efektif mengubah sikap negara sebesar China? Atau justru seperti memaksa pedagang di pasar tradisional untuk berhenti berjualan hanya karena pajak dinaikkan – yang terjadi malah mereka mencari jalan lain, dan bahkan mungkin membuka lapak di tempat berbeda.

China melihat relasi dagang sebagai urusan kepentingan jangka panjang, bukan sekadar reaksi sesaat terhadap ancaman. Dalam logika ini, membeli minyak dari Iran bukan hanya soal energi, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.

Jika ditekan, bukan tidak mungkin mereka akan memperkuat jaringan kerja sama lain sebagai bentuk perlawanan.

Sementara itu, langkah Amerika Serikat dapat dibaca sebagai upaya untuk mempertahankan pengaruhnya di tengah pergeseran kekuatan global. Tapi di sinilah ironi muncul.

Bukankah kerja sama internasional seharusnya dibangun di atas dialog, bukan ultimatum? Atau apakah dunia kini sedang memasuki fase di mana “siapa paling keras bicara” justru dianggap paling benar?

Di tengah dinamika ini, ada pelajaran yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang dipaksa mengikuti aturan tanpa ruang untuk negosiasi, reaksi alaminya seringkali bukan patuh, melainkan melawan – atau setidaknya mencari celah.

Sama seperti warga yang tiba-tiba dikenai aturan ganjil-genap di jalan kecil kampung, yang muncul bukan keteraturan, tapi kreativitas menghindar.

Situasi ini juga mengundang renungan lain: apakah eskalasi seperti ini bisa benar-benar membawa manfaat bagi stabilitas global?

Atau justru bakal memperbesar risiko ketidakpastian yang pada akhirnya berdampak ke banyak negara lain, termasuk yang tidak terlibat langsung?

Di ujungnya, dunia seperti sedang menyaksikan permainan Tarik-tambang raksasa. Pertanyaannya, apakah tali itu akan tetap kuat menahan tarikan, atau justru putus dan menyeret semua pihak jatuh bersamaan?

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.