Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 15:48 WIB
Surabaya
--°C

Firasat Tidak Baik: Spekulasi Prabowo Berhenti di Tengah Jalan Makin Kuat!

Tentu saja pasti tahu. Tidak mungkin Presiden Prabowo tidak tahu. Hanya saja Prabowo pura-pura tidak tahu atau terikat kesepakatan dengan Singapura seperti disebut pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie.

Oleh: Tarmidzi Yusuf

KEMPALAN: Situasi politik tanah air akhir-akhir ini sebagai firasat yang tidak baik. Bukan hanya ekonom dan analis politik yang menyuarakan tentang potensi makin memburuknya ekonomi dan demokrasi Indonesia.

Salah satu indikator yang sering disuarakan pengamat ekonomi adalah soal makin melebarnya defisit APBN tahun 2026. Sampai akhir bulan Maret, defisit APBN sudah tembus Rp 240,1 triliun (0,93 persen) dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Cadangan devisa Indonesia terus tergerus sejak awal 2026. Berdasarkan data terkini, cadangan devisa Indonesia sampai akhir Maret 2026 tersisa di angka USD 148,2 miliar.

Posisi devisa hari ini menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya akibat dari intervensi Bank Indonesia untuk stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Meski dibantah keras Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, rumor kas negara awal Mei 2026 tinggal Rp 120 triliun. Mengerikannya lagi kas negara tersebut cukup untuk 3 bulan.

Menurut Kementerian Keuangan, dana yang ada dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun. Tetap saja firasat tidak baik bagi Prabowo Subianto. Pasalnya, realisasi belanja pemerintah per kuartal, Januari sampai Maret 2026 mencapai Rp 815 triliun.

Kondisi memprihatinkan terjadi di bursa uang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika makin terperosok jauh. Rp 17.400 per dolar Amerika. Ini merupakan level tertinggi dalam sejarah Indonesia merdeka.

Bahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika era Presiden Prabowo lebih tinggi ketika Presiden Soeharto lengser tahun 1998, yaitu Rp 16.650. Pertanda tidak baik bagi Prabowo. Pembayaran utang Indonesia menggunakan dolar AS.

Data-data kondisi ekonomi dan keuangan tersebut menimbulkan kekhawatiran. Prediksi bakal terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun ini benar-benar menjadi ancaman serius. Krisis seperti 1998. Krisis ekonomi berujung krisis politik.

Tidak kurang Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla ikut memperingatkan adanya potensi terjadinya chaos pada bulan Juli-Agustus 2026. Penyebabnya, memburuknya ekonomi Indonesia.

Kekhawatiran adanya skenario atau target operasi ditengah potensi ambruknya ekonomi Indonesia diperkuat oleh adanya kelompok politik tertentu yang sedang wait and see. Menunggu momentum. Chaos May Day di Bandung bisa jadi cek sound.

Gonjang-gonjing politik bakal terjadinya chaos dan potensi ambruknya ekonomi Indonesia dinilai sebagai bagian dari skenario dan target operasi penggulingan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut konstitusi dan pengalaman politik tahun 1998 dan 2001 bila Presiden berhalangan tetap Wakil Presiden secara otomatis menjadi Presiden. Tahun 1998, Presiden Soeharto digantikan oleh Wakil Presiden BJ. Habibie dan tahun 2001, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) digantikan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Andai ekonomi Indonesia terus memburuk dan berujung krisis politik seperti tahun 1998 dan 2001.

Adanya isu skenario dan target operasi penggulingan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto digantikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperkuat spekulasi tersebut.

Tentu saja firasat tidak baik bagi Presiden Prabowo. Buah simalakama bagi rakyat. Tentu saja publik resah. Khawatir tingkat tinggi.

Apalagi isu adanya kesepakatan politik bahwa Prabowo menjadi Presiden hanya 2 tahun yang disebut-sebut kesepakatan Singapura. Belum lagi posisi strategis di pemerintahan Presiden Prabowo banyak diisi loyalis Joko Widodo.

Sehingga mempermudah estafet kepemimpinan nasional dari Prabowo ke Gibran. Menurut prediksi penulis, tingginya resistensi terhadap Gibran akan memicu chaos.

Potensi bertemunya dua massa aksi. Yang satu massa aksi menolak Gibran. Yang satunya lagi, massa aksi pendukung Gibran. Massa pendukung Jokowi yang masih eksis hingga hari ini.

Bertemunya 2 massa pro dan kontra Gibran berpotensi terjadinya pertumpahan darah. Apalagi Kapolri dan Panglima TNI saat ini dinilai dekat dengan mantan Presiden RI ke-7, Jokowi.

Apakah Presiden Prabowo mengetahui adanya skenario dan target operasi penggulingannya?

Tentu saja pasti tahu. Tidak mungkin Presiden Prabowo tidak tahu. Hanya saja Prabowo pura-pura tidak tahu atau terikat kesepakatan dengan Singapura seperti disebut pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie.

Kita tunggu saja skenario Allah subhanahu wata’ala. Yakinlah bahwa rencana Allah jauh lebih indah dan baik, bahkan saat rencana kita tidak berjalan sesuai keinginan, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hambanya.

*) Tarmidzi Yusuf, Kolumnis

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.