Di sinilah banyak negara Global South mulai memandang narasi Barat dengan sinis. Mereka merasa aturan internasional sering bekerja seperti pertandingan futsal antar-RT: panitianya ternyata sepupu pemain lawan.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Amerika Serikat kembali ngomel soal Iran. Tuduhannya klasik: Teheran dianggap berbahaya, agresif, dan punya potensi mengacaukan dunia lewat proyek nuklirnya. Kalimatnya kurang lebih begitu-begitu saja.
Masalahnya, banyak orang mulai bertanya: “Lho, bukannya yang pernah benar-benar ngelempar bom nuklir ke warga sipil itu siapa, ya?”
Karena sejarah mencatat, Hiroshima dan Nagasaki bukan episode anime dystopia. Itu kejadian nyata. Tahun 1945, dua kota di Jepang luluh lantak setelah dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat.
Ratusan ribu orang meninggal, sebagian bahkan bertahun-tahun kemudian akibat radiasi. Dunia menyaksikan sendiri seperti apa bentuk “kiamat versi manusia”.
Maka ketika Washington bicara soal moralitas nuklir, sebagian publik global mulai mengangkat alis. Rasanya mirip seperti orang yang dulu bakar dapur tetangga, tapi sekarang keliling kompleks ngajarin bahaya main korek api.
Iran memang bukan malaikat. Pemerintahnya sering melontarkan retorika keras terhadap Israel dan Barat.
Hubungan Teheran dengan Washington juga sudah lama seperti mantan pacar yang saling blokir tapi masih saling sindir lewat status. Sanksi seperti ekonomi, embargo, ancaman militer – semuanya sudah jadi menu tahunan.
Tapi persoalannya bukan cuma soal Iran. Yang bikin banyak negara mulai jengah adalah aroma standar ganda yang makin menyengat. Amerika Serikat dan sekutunya punya stok senjata nuklir.
Israel diyakini juga memilikinya. India punya. Pakistan punya. Korea Utara bahkan terang-terangan pamer misil. Namun saat Iran bicara soal teknologi nuklir, dunia langsung heboh seperti emak-emak lihat tabung gas bocor.
Padahal Iran berkali-kali bilang program nuklir mereka untuk energi dan riset sipil. Percaya atau tidak itu urusan lain.
Tetapi pertanyaannya tetap menggantung: kenapa ada negara yang boleh menyimpan “korek api”, sementara yang lain bahkan beli gas saja dicurigai mau bakar kampung?
Di sinilah banyak negara Global South mulai memandang narasi Barat dengan sinis.
Mereka merasa aturan internasional sering bekerja seperti pertandingan futsal antar-RT: panitianya ternyata sepupu pemain lawan. Pelanggaran kecil langsung ditiup peluit, sementara tackle keras dibilang “masih fair play”.
Media sosial ikut pula memperumit keadaan. Dulu negara besar bisa lebih mudah mengendalikan narasi lewat televisi dan media arus utama. Tetapi, sekarang orang tinggal buka arsip sejarah, baca dokumen lama, lalu mulai bertanya sendiri.
Dan semakin banyak yang sadar: politik global ternyata tidak sesederhana film Hollywood yang jelas mana jahat mana baik.
Pada khirnya, dunia hari ini makin sulit percaya pada ceramah moral yang datang dari negara-negara dengan rekam jejak perang panjang.
Karena, sejarah itu mirip dengan chat lama di Telegram: bisa dihapus dari layar sendiri, tapi belum tentu hilang dari ingatan orang lain.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi