Sekolah bukan hanya mengurusi anak yang baik saja, tapi sekolah juga harus mendidik anak – anak yang dianggap tidak baik agar jadi baik, supaya anak-anak ini tidak jadi beban negara.
Mensinergikan Pendidikan Non Formal Menjadi Bagian Pendidikan Formal
Menyadari bahwa sekolah dan guru tidak bisa sendirian melakukan pendidikan, maka menjadikan pendidikan non formal diluar sekolah, seperti rumah, PKBM dan lain lain yang sejenis menjadi bagian dari pendidikan yang dilaksanakan disekolah akan sangat membantu anak-anak yang rawan putus sekolah agar tetap bisa bertahan Sekolahnya.
Upaya seperti itu tentu akan menjadikan pendidikan kita akan semakin humanis dan berempati.
Sekolah dan guru diajak untuk bisa merasakan perasaan orang tua dan perjuangan para orang tua dalam berjuang menyelamatkan pendidikan anak-anaknya.
BACA JUGA: Menata Surabaya Menjadi Kota Humanis
Sejalan dengan visi walikota yang akan menjadikan Surabaya sebagai kota yang bergotong royong menjadi kota yang maju, humanis dan berkelanjutan, melakukan penyelamatan pendidikan anak-anak yang rentan dengan menjadikan proses pendidikan non formal sebagai bagian proses pendidikan formal di sekolah dengan tetap mengacu pada standar sekolah adalah sebuah keniscayaan.
Sayangnya visi mulia itu belum terlihat dalam program aksi yang dijalankan oleh Pemkot Surabaya melalui OPD yang mengurusi perlindungan anak dan pendidikan anak. Sehingga meski Surabaya berusaha melakukan upaya – upaya mengembalikan anak putus sekolah, tapi anak putus sekolah tetap saja terjadi.
Hanya dibutuhkan sebuah keberanian dan kepedulian dalam bentuk penegasan tertulis berupa peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota bahwa pendidikan non formal yang sedang digalakan oleh Pemkot dengan nama rumah pintar atau apapaun nama dan bentuknya dan pilihan pendidikan daring karena masih dalam proses menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bagian dari proses yang dilakukan sekolah. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi