Selasa, 21 April 2026, pukul : 18:03 WIB
Surabaya
--°C

Dibutuhkan Keberanian Pemkot Bergotong Royong Menyelamatkan Anak Surabaya dari Putus Sekolah

KEMPALAN: SEBAGAIMANA yang tertulis di dalam konstitusi kita bahwa tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka tidak bisa ditawar lagi bahwa ada kewajiban negara untuk menjaga situasi belajar anak anak agar tak menjadi putus sekolah.

Persoalannya adalah sekolah formal kita selama ini masih merasa superior dibanding dengan sekolah non formal, ada keangkuhan posisional seolah belajar di sekolah lebih penting dibanding belajar diluar sekolah.

Padahal jelas – jelas disaat pandemi melanda dunia, sekolah formal terlihat tak berdaya, sekolah formal terseok – seok mengiba meminta rumah sebagai tempat belajar, meski rumah juga belum siap menjalankannya, tapi rumah dengan ramah menerima anak anak untuk belajar.

Akibatnya anak-anak menjadi korban dua kali, korban dari ketidakmampuan sekolah menjalankan proses belajar yang maksimal serta korban dari ketidaksiapan rumah sebagai tempat belajar yang baik.

Dampaknya anak-anak kemudian lebih banyak mendapatkan pengasuhan maksimal dari lingkungan diluar rumah dan sekolah.

Anak – anak dari kalangan kelas menengah relatif baik mendapatkan pengasuhan dari lingkungan yang cukup baik, mereka bisa dititipkan pengasuhan belajarnya kepada lembaga-lembaga bimbingan belajar dan kelompok – kelompok belajar dan pengembangan bakat.

BACA JUGA: Kebocoran Parkir di Surabaya, Swastanisasi Pengelolaan Jadi Keniscayaan!

Sementara mereka yang berasal dari kelompok menengah kebawah, mereka mendapatkan pengasuhan dari lingkungan yang kurang kondusif kalau boleh dibilang tidak baik. Anak-anak berada dilingkungan orang dewasa ditempat – tempat umum seperti warung kopi dan sejenisnya.

Mereka mendapatkan pembiaran berbuat apapun tanpa ada yang melarang sehingga terbentuk karakter yang menurut kalangan sekolah formal kurang baik.

Anak – anak yang tadinya tidak mengenal rokok akhirnya menjadi mengenalnya dan menjadi perokok, anak-anak yang biasanya santun dan rajin beribadah, kini mengalami perubahan, kehilangan rasa hormat dan kesantunan terhadap keluarga dan orang tua dan kadang menjadi malas beribadah.

Anak-anak yang biasanya jujur kini harus berbohong menutupi keburukannya, teman menjadi idola baru dan panutan baru. Anak-anak menjadi kehilangan jati dirinya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.