Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
KEMPALAN: Surabaya, Surabaya oh Surabaya, Kota kenangan yang tak kan terlupa. Sebait lagu tentang Surabaya mengingatkan kita semua yang pernah tinggal di Surabaya, bahwa Surabaya adalah kota penuh kenangan yang tak kan bisa dilupakan.
Ya.. Surabaya sejatinya adalah kota yang ramah dan terbuka bagi siapapun yang mau datang ke Surabaya. Entah mereka mau mengadu nasib dan cari penghidupan di Surabaya atau hanya sekedar untuk menikmati gemerlap majunya kota.
Keramahan dan keterbukaan adalah sebuah legenda yang tak pernah hilang, dicatat dalam sejarah bagaimana peristiwa 10 Nopember 1945, seluruh rakyat Surabaya yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan ras yang berbeda, mempertahankan kota ini dari serbuan tentara Inggris. Bahkan dengan gotong royong rakyat Surabaya, Tentara Inggris dipermalukan dan menyerah kepada rakyat Surabaya.
Cerita kenangan itulah yang kemudian membuat Surabaya menjadi jujugan siapapun yang akan datang dan mengadu nasib di Surabaya. Surabaya menjadi kota yang sangat terbuka.
BACA JUGA: Keterlibatan RT Merupakan Keniscayaan Mengatasi Persoalan Kota
Gemerlap dan kemajuan kota Surabaya menjadi penanda bahwa di Surabaya adalah tempat banyak orang untuk mengais rezeki dan segala bentuk kebutuhan masyarakat. Apapun bisa didapatkan, termasuk didalamnya pekerjaan di Surabaya. Ada harapan besar bagi seluruh masyarakat dari manapun untuk bisa mendapatkan sesuatu di Surabaya, termasuk bisa mendapatkan rezeki di Surabaya.
Dalam sebuah studi tentang kota yang ramah, bahwa kota sejatinya dirancang untuk melayani kebutuhan warga, tak terkecuali warga lanjut usia (lansia) atau senior citizen atau warga lainnya yang mempunyai kebutuhan. Sayangnya, kota-kota kini semakin didominasi oleh ketersediaan infrastruktur/ekonomi semata, jauh dari rasa berkeadilan dan nilainilai humanis.
BACA JUGA: Jangan Ragukan Anies!
Lalu, bagaimana sesungguhnya mewujudkan kota yang ramah itu? Menurut Diane Y Carstens (Site Planning and Design For The Elderly, 1993), yang khusus mempelajari kota yang ramah terhadap lansia, bahwa kota ramah lansia itu mempertimbangkan faktor keselamatan, keamanan, kenyamanan, kemudahan aksesibilitas. Efisiensi pembagian fungsi, hierarki, dan orientasi ruang kota harus jelas untuk menghindari kesan membingungkan bagi penghuni yang mengalami perubahan kemampuan fisik dan kognitifnya seiring proses penuaan.
Dalam pengertian yang lebih umum, bahwa sebuah kota itu dianggap ramah dan humanis kepada warganya bila sebuah kota mampu menghadirkan kenyamanan, keselamatan, kemudahan dan efesiensi dalam penataan dan berorientasi pada mensejahterakan warga.
Memotret Wajah Surabaya Terhadap PKL
Sebagai sebuah kota metropolis tentu diharapkan wajah kota ini terlihat semakin indah, nyaman, rapi dan tertib. Sehingga siapapun yang melakukan aktifitas di Surabaya mendapatkan rasa aman.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi