Tertib dan aman harus dipahami sebagai sebuah staretgi untuk menjadikan kota ini tetap indah dan nyaman bagi semua, tapi strategi yang dijalankan harus tetap berkeadilan.
Nah seringkali ketika kita bicara tentang tertib dan aman, petugas trantib baik itu dari satuan polisi pamong praja maupun aparat kepolisian selalu mengedepankan pengamanan bila berhadapan dengan PKL, Sehingga tak jarang ketika mereka berhadapan dengan pedagang kaki lima ( PKL) terjadi ketegangan.
BACA JUGA: Anies Merangkul Semua
Wajah kota menjadi menyeramkan dan menakutkan bagi pedagang kaki lima. Wajah kota menjadi tak ramah dan kehilangan nilai-nilai humanisme.
Janji walikota Surabaya, Eri Cahyadi yang bertekad menjadikan kota Surabaya menjadi kota yang humanis seolah menjadi isapan jempol, karena antara harapan dan implementasi di lapangan terlihat jauh berbeda.
Dilapangan terjadi tafsir yang berbeda pengertian ketertiban dan keamanan, dimaknai menertibkan dan mengamankan, sehingga konflik antara pedagang dan petugas sering terjadi.
BACA JUGA: Krisis Kepercayaan, Istana Semakin Tak Berdaya
Apa yang seharusnya dilakukan?
Sebagai pemimpin Surabaya, tentu Eri Cahyadi berharap siapapun yang ada di Surabaya terutama warga Surabaya harus bisa menikmati kue pembangunan. Hal itu sesuai dengan janji politik yang pernah diucapkan dalam kampanye.
Dalam mewujudkan itu, Eri sudah membuat komitmen dengan para kepala OPD yang akan membantu mewujudkan gagasan humanisnya membangun kota.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi