Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
\KEMPALAN: Suatu hari terjadi kegentingan di istana Fir’aun akibat mimpi. Dalam mimpinya Fir’aun bercerita bahwa ada sebuah api yang datang dari Baitul Maqdis lalu membakar negeri Mesir selain rumah-rumah Bani Israil. Saat bangun, maka Fir’aun langsung terkejut, kemudian ia mengumpulkan para peramal dan pesihir untuk meminta takwil terhadap mimpinya itu, lalu mereka memberitahukan bahwa akan lahir seorang anak dari kalangan Bani Israil yang akan menjadi sebab binasanya penduduk Mesir. Maka Fir’aun merasa takut terhadap mimpi tersebut, ia pun memerintahkan untuk menyembelih anak-anak laki-laki Bani Israil karena takut terhadap kelahiran orang tersebut.
Sekelumit cerita tentang kegusaran Fir’aun adalah gambaran kegelisahan para penguasa ketika menganggap kekuasaan itu adalah milik dan tidak boleh berganti kepada siapapun.
Tipologi kekuasaan yang dilakukan oleh Fir’aun ini adalah tipologi kekuasaan yang memukul. Siapapun yang dianggap sebagai ancaman, maka harus dihabisi.
Masihkah berlaku model kepemimpinan seperti ini di era sekarang? Zaman sudah berubah, sehingga memerlukan tafsir baru dalam sebuah kepemimpinan. Model kepemimpinan yang memukul dan menghalalkan segala cara sudah tidak berlaku lagi, meski kadang dalam praktik atas nama negara dan atas nama hukum masih sering dijumpai.
Nah praktik seperti ini masih kita jumpai dalam praktik kita bernegara dan berdemokrasi dinegeri Pancasila yang mengandung berbagai keragaman.
Setiap yang berbeda dan tidak sama, apalagi dianggap mengancam, maka tidak segan atas nama negara dan atas nama hukum, mereka harus ditangkap dan diadili lalu dipenjarakan.
Praktik bernegara yang memecah belah ini harus diakhiri karena jelas-jelas bertentangan dengan watak dasar bangsa yang bergotong royong, bersatu dan menghargai perbedaan.
Dibutuhkan pemimpin yang mampu menemukan perbedaan dilintasan yang sama dengan mengedepankan tujuan bernegara.
Dalam konteks inilah Anies telah membuktikan selama memimpin Jakarta. Anies mampu menjahit perbedaan dilintasan yang baik, sehingga keragaman di Jakarta bisa dikelola dengan untuk memajukan kota Jakarta. Jakarta menjadi rumah bersama bagi semua.
Indonesia adalah negeri yang ditakdirkan penuh dengan keragaman. Keragaman yang meliputi budaya, agama, suku dan bahasa, terbukti telah mampu dijahit dengan baik disaat terjadinya Sumpah Pemuda.
Nah, semangat Sumpah Pemuda itu patut diulang kembali disaat sekarang ini, bangsa mengalami pembelahan, kontraksi yang begitu tinggi, nafsu kekuasaan yang menghalalkan segala cara ditambah lagi istana dikendalikan oleh mereka yang rakus dan haus kekuasaan.
Melihat apa yang dilakukan oleh Anies di Jakarta, sudah selayaknya Anies menjadi pilihan untuk melanjutkan menjaga Indonesia dari keterpurukan. Anies bukanlah tipe orang yang menghalalkan segala cara, Anies kerjanya terukur dan terbukti. Anies juga bukan orang yang haus kekuasaan apalagi bagian dari oligarki yang rakus dan menindas rakyat.
Anies terbukti merangkul dalam memimpin Jakarta. Tidak ada satupun gugatan yang mengatas namakan rakyat dan baik bagi perkembangan Jakarta ia lawan. Ia taat terhadap hukum dan melaksanakan keputusan hukum yang dikehendaki rakyat untuk rakyat Jakarta.
Yang terakhir, Anies tegas menolak perpanjangan jabatan dirinya seandainya terjadi pemunduran pemilu. Anies berkomitmen tidak boleh kekuasaan dijalankan atas dasar memanipulasi undang-undang. Meski yang lain berusaha memanfaatkan itu.
Anies taat hukum, Anies taat konstitusi dan yang patut dicatat adalah Anies dalam memimpin tidak pernah memukul, Anies selalu merangkul. Karena dengan merangkul itulah Anies menjalankan model kepemimpinan modern yang dibutuhkan Indonesia kedepan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi