KYIV, KEMPALAN: Pemerintah Ukraina berulang kali mengimbau rakyatnya untuk ikut bela tanah air. Hukum telah diubah, memperbolehkan rakyat sipil menyimpan senapan kaliber tinggi. Menteri Pertahanan menghimbau warga Ukraina untuk meracik bom Molotov, lengkap dengan instruksinya.
Tapi ini tidak cukup untuk membendung agresi Rusia. Tak lama lalu, Kharkiv menjadi kota besar pertama yang jatuh ke tangan Rusia.
Semakin terdesaknya Ukraina mendorong Presiden Zelensky mengambil langkah lebih jauh. Presiden Ukraina itu membebaskan narapidana dengan pengalaman bertempur demi bela negara.
“Narapidana dengan pengalaman bertempur akan dibebaskan… beberapa yang dulu berpartisipasi dalam Anti-Terrorist Operations akan dimaafkan. Sekarang adalah waktunya bertahan.”
Zelensky akui keputusan ini tidak mudah dari segi moral, namun yakin ini penting untuk kelangsungan negara Ukraina.
Keputusan ini juga bermasalah dari segi keamanan. Memang, dengan banyaknya sukarelawan bersenjata, semua orang bisa turut melindungi tanah air. Namun, ada kemungkinan senjata itu jatuh ke tangan yang salah, orang-orang dengan niat buruk. Keputusasaan yang timbul dari situasi ekonomi dan sosial yang tidak pasti dapat mendorong orang baik untuk berbuat jahat, apalagi orang jahat yang bersenjata.
Perpecahan internal juga dikhawatirkan. 29% warga Ukraina berbahasa Rusia rawan menghadapi stigma dari mayoritas yang berbahasa Ukraina. Dilengkapi senjata, warga mayoritas bisa tergoda untuk main hakim sendiri, menuduhkan label ‘mata-mata Rusia’ dan mengeksekusi hukuman dengan seenaknya.
Invasi ini memang mempersatukan Ukraina, namun sulit rasanya merasakan persatuan dan kesatuan ketika rasa lapar dan curiga menghantui. (Jericho Fikri, The Independent)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi