SURABAYA-KEMPALAN : Di balik jajaran tabung reaksi dan aroma khas laboratorium kimia, sebuah urgensi besar sedang diurai. Puluhan siswa kelas X-4 SMA Labschool Unesa 1 tidak sekadar mencampur larutan; mereka tengah melakukan investigasi saintifik terhadap keamanan pangan yang sering terabaikan di atas meja makan masyarakat.Melalui praktikum bertajuk “Identifikasi Boraks dalam Makanan”, para siswa ini bertransformasi menjadi peneliti muda. Menggunakan metode uji nyala dan indikator kurkumin, mereka membedah sampel harian seperti bakso, kerupuk, hingga mi basah guna menemukan jejak natrium tetraborat—zat pengawet industri yang dilarang bagi tubuh manusia.
Sains sebagai Benteng Pertahanan

Alief Izzal Hambali, Guru Kimia pengampu kegiatan ini, menegaskan bahwa praktikum ini adalah upaya mendobrak dinding teori yang kaku. “Sains tidak boleh hanya berhenti di buku teks. Dengan melihat langsung perubahan warna pada kertas kurkumin, siswa membangun skeptisisme sehat. Mereka belajar bahwa bahaya seringkali tersembunyi dalam tekstur yang kenyal dan warna yang menggoda,” jelasnya tajam.
Visi Kepala Sekolah: Membentuk Nalar Kritis

Kepala SMA Labschool Unesa 1, Dewi Purwanti, menempatkan kegiatan ini dalam bingkai pendidikan yang lebih besar. Baginya, laboratorium adalah kawah candradimuka untuk melatih kepekaan sosial siswa.”Kami tidak hanya mencetak akademisi, tapi warga negara yang sadar kesehatan. Melalui penelitian ini, siswa sedang melatih nalar kritis mereka terhadap fenomena di masyarakat. Ini adalah pengejawantahan dari deep learning—di mana ilmu pengetahuan menjadi alat proteksi diri dan lingkungan,” ujar Dewi Purwanti dengan nada lugas.
Suara dari Laboratorium

Kevin, salah satu siswa kelas X-4, menggambarkan pengalaman ini sebagai sebuah “pencerahan” visual. “Selama ini kami hanya mendengar soal boraks. Tapi saat melihat sampel berubah warna di tangan sendiri, ada rasa tanggung jawab baru untuk lebih selektif terhadap apa yang kami konsumsi,” ungkapnya.
Langkah SMA Labschool Unesa 1 ini menegaskan komitmen sekolah dalam menghadirkan kurikulum yang kontekstual. Di tengah gempuran pangan olahan, pendidikan kimia hadir bukan sebagai subjek yang rumit, melainkan sebagai solusi nyata bagi keselamatan publik.(Ambari Taufiq/M.Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi