Rabu, 6 Mei 2026, pukul : 15:13 WIB
Surabaya
--°C

Kapitayan

Dalam Pandangan Dunia “Jujur & Adil” warisan 124.000 nabi yang diutus Tuhan ke seluruh bangsa-bangsa di dunia, para Maharesi, para Leluhur Suci – para “Kekasih & Jagoan Ilahi” yang membawa ajaran-ajaran suci dst.

Oleh: Gus Achmad Badawi

KMPALAN: Kapitayan adalah salah satu agama kuno yang berkembang di Pulau Jawa, khususnya di kalangan suku Jawa. Agama ini dianggap sebagai bentuk monoteisme asli Jawa yang dianut dan dijalankan oleh masyarakat Jawa secara turun-temurun.

Kapitayan diyakini telah ada jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu dan Buddha ke Nusantara. Beberapa sumber menyebutkan, agama ini telah berkembang sejak masa prasejarah, bahkan ada yang berpendapat bahwa Kapitayan berasal dari ajaran Nabi Adam. 

Namun, penentuan waktu pasti kemunculannya masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Inti ajaran Kapitayan adalah kepercayaan kepada Sang Hyang Taya, yang berarti “kosong” atau “hampa”. Meskipun demikian, Sang Hyang Taya tidak diartikan sebagai ketiadaan, melainkan sebagai entitas transenden yang tidak dapat digambarkan atau dipersepsikan oleh panca indera manusia.

Dalam praktiknya, penganut Kapitayan menyembah manifestasi kekuatan gaib yang disebut “Tu” atau “To“, yang dianggap sebagai perwujudan dari Sang Hyang Taya.

Tidak ada tokoh utama yang secara spesifik dikenal dalam ajaran Kapitayan.

Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa penganjur pertama Kapitayan adalah Hyang Semar, yang dianggap sebagai keturunan kesembilan dari Nabi Adam. 

Perlu dicatat bahwa informasi ini bersifat mitologis dan tidak memiliki bukti historis yang kuat.

Setelah masuknya agama-agama seperti Hindu, Buddha, dan Islam ke Jawa, ajaran Kapitayan mengalami penurunan pengikut dan berasimilasi dengan kepercayaan- kepercayaan baru tersebut.

Meski demikian, beberapa elemen dari Kapitayan masih dapat ditemukan dalam praktik budaya dan spiritual masyarakat Jawa kontemporer, terutama dalam tradisi Kejawen. Pada 2017, Kapitayan diakui sebagai bagian dari “Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa” di Indonesia.

Dengan demikian, Kapitayan merupakan salah satu warisan spiritual dan budaya yang penting dalam sejarah keagamaan di Nusantara. “Sejarah” (Karya Budaya).

Nusantara Indonesia Agung Adiluhung Dengan Pohon Peradaban Berkesadaran  Esoteris – Ruh-nya Yang Organik Integratif

Dengan Hidup Berkesadaran/Spiritualitas Kesejatian berdasar Pohon Peradaban Berkesadaran Esoteris – Ruh Nusantara Indonesia, semua sudah masuk kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui Ajaran “Maitrea – Cinta Kasih Welas Asih” yang universal dari semua agama dan kepercayaan, di bawah naungan bonum commune/bonum publicum/common pllattform nilai-nilai universal Pancasila Seutuhnya (dalam UUD ‘45 Asli yang nantinya Diamandemen secara Adendum), dalam Rumah NKRI, berprinsip “Republik – Res Publica – Kepentingan Kemaslahatan Umum Rakyat” (Bung Karno).

Ad maiora Dei Gloriam, Ad maiora natus sum – Aku hidup demi Kemuliaan  Tuhan, Aku hidup untuk sesuatu yang lebih” (Santo Ignatius Loyolla), yaitu sistem kemanusiaan universal mengatasi kepentingan partikular SARA/”Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan” (Sayidina Ali bin Abi Thalib KW, Bung Karno, Gus Dur, “Pidato Maulid” Bung Rocky Gerung dkk). 

Salus populi suprema lex = Kemaslahatan Umum “Sunatullah – Dharma – Dhamma – Kebenaran” adalah Hukum Tertinggi” (ajaran Tua).

Dalam Pandangan Dunia “Jujur & Adil” warisan 124.000 nabi yang diutus Tuhan ke seluruh bangsa-bangsa di dunia, para Maharesi, para Leluhur Suci – para “Kekasih & Jagoan Ilahi” yang membawa ajaran-ajaran suci dst.

Khususnya ideologi “gotong royong – egaliter komunal sosialistik – share holder kekeluargaan bangsa – koperasi ‘kerjasama’ antar elemen bangsa”, baik secara sosial maupun ekonomi kerakyatan yang berkeadilan.

Dengan Tauhid/Teologi yang berkembang pada dimensi kebangsaan “Teologi Pembebasan Bangsa Marhaenisne Plus” yang sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan yang amat sangat pesat (HOS Cokroaminoto, Bung Karno, Gus Dur, Ali Enginering, Hasan Hanafi, Arkoun – Jabidi, Ali Syariati, Murtada Mutahhari, Nelson Mandela dari tokoh-tokoh besar Amerika Latin).

Berpegang pada nilai-nilai titik temu/kalimatunsawa/prinsip-prinsip yang universal sama dalam “agama-agama & lokal jenius suku-suku bangsa” yang begitu kaya, meliputi: hidup berkesadaran/ spiritualitas kesejatian, pandangan dunia “Jujur & Adil”, filosofi Husuli/Demontratif – Huduri/Intuisi Ilahi, sains/ paradigma/agregat teori beserta teorema-teorema turunan teorinya, nasionalisme kebangsaan yang kokoh menyala-nyala, modal sosial bagi pembangunan masyarakat warga sejati, akhlak/etika “personal, sosial, semesta”, etiket nyata pada kehidupan sehari-hari dst-dst.

Pembangunan Nasionalisme Kebangsaan yang kokoh – menyala-nyala, dengan Budaya Nasional yang utuh (budi daya, cipta – rasa – karya), dalam segala aspek kehidupan  “Ipoleksosbudmil – Hankam”, (tidak sempit seperti selama ini yang hanya berupa simbol-simbol seni, burung Garuda, lagu Indonesia Raya, Bahasa Indonesia dst).

Dikukuhkan ideologi “San Min Chu I: Nasionalisme, Sosialisme, Demokrasi ” dari dr Sun Yat Sen serta The Great Soul “Mahatma” Gandhi bersemboyan “Kemanusiaan adalah kebangsaanku”.

Pembangunan Masyarakat Warga Sejati yang berkualitas dan mandiri/civil society, dengan berdasar modal sosial dari “agama-agama dan lokal jenius suku-suku bangsa yang amat sangat kaya” dengan output “keteraturan sosial sejati”. Bermodal Landasan Filosofis “Masyarakat Madani atau Masyarakat Hadari” dari Cak Nur dan Datuk Sri Abdullah Ahmad Badawi.

Pembangunan Grammar Politik “Demokrasi Hikmah Kebjaksanaan”, harus bisa kembali kepada Ajaran Jati Diri Bangsa “Ismoyo – Lemuria – Atlantis Gunung Padang – Sunan Kalijogo – “Ajaran Republik ‘4 Daulat’ Raden Patah” – Syailendra – Gajahmada – Bung Karno – Gus Dur dkk” kepada otoritas Dewan Tetua Bangsa “Demokrasi/Syura Hikmah Kebijaksanaan” membuang jauh-jauh “Elit-elit Politikus yang Egois – Childish – Feodalis dengan Takdir Sosial Buruknya” yang menjajah bangsa sendiri (Bung Karno) sebagai Proksi dari Pemilik Modal, Asing dan Global yang mengadu domba – memecah-belah – membuat bangsa Nusantara Indonesia yang “terkaya di dunia” hancur berkeping-keping jika tidak diantisipasi.

Tapi, insya Allah pasti bisa sebagai “Bangsa Pejuang”, Pak Jonan Bisa, kita Pasti Bisa”.

Pendidikan Transformatif, dengan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantoro “Ngerti, Ngroso, Nglakoni melalui Taman Siswa sebagai Model Sekolah Kehidupan”, yang di Finlandia “Terbukti Membukti” sebagai Faktor Penting yang menjadikannya “Pendidikan No.1 di Dunia”. Sementara di Indonesia, belum disentuh secara holistik sama sekali.

Gerakan Transformatif, yang dipelopori oleh Gus Dur (1970-an) dan Prof Dr Koentowidjojo (1980-an), yang “macet” karena sistem sosial politik (pada masa Orde Baru sampai sekarang), yang berorientasi “politik kekuasaan minus politik kerakyatan dan poltik kebangsaan”.

Kembali Kepada Jati Diri Bangsa: Membangun Hidup Berkesadaran – Spiritualitas Kesejatian & Tatanan Pohon Peradaban Berkesasaran Esoteris – Ruh Nusantara Indonesia.

*) Gus Achmad Badawi, Kerabat Pemimpin Spiritual Nusantara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.