Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 01:10 WIB
Surabaya
--°C

Tak Ada Perayaan di Teheran pada Hari Pertama Kesepakatan Iran-AS

KEMPALAN: Bagi Reza, seorang sopir taksi berusia 34 tahun di Teheran, tanggal 15 Juni ini hanyalah hari Senin biasa. Dia mencuci taksinya di pagi hari, kemudian berangkat menuju Alun-alun Enghelab, menunggu penumpang pertamanya. Semua berjalan seperti biasa.

Namun bagi kota itu sendiri, hari Senin tersebut memiliki makna khusus. Bagi dunia luar, Teheran telah menjadi pusat perhatian. Pada Senin dini hari, Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan bahwa, setelah lebih dari tiga bulan konflik, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Namun demikian, meski sebagian besar dunia menyambut gencatan senjata itu sebagai langkah yang telah lama ditunggu-tunggu menuju stabilitas di Timur Tengah, banyak warga di Teheran, yang telah berulang kali mengalami gelombang serangan udara AS dan Israel selama setahun terakhir, tidak langsung merasakan jaminan perdamaian.

“Jika orang-orang mengalami apa yang kami alami, mereka akan tahu bahwa janji-janji Amerika saja tidak cukup untuk membawa perdamaian sejati,” kata Reza. “Topik tentang perayaan rasanya terlalu berlebihan. Kami hanya ingin melanjutkan hidup,” imbuhnya.

Keraguan Reza bukan tanpa dasar. Setahun yang lalu, AS tiba-tiba melancarkan serangan terhadap Iran saat perundingan masih berlangsung. Perang terbaru juga meletus di tengah negosiasi antara Washington dan Teheran. Kedua putaran konflik tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi Iran dan menghancurkan sisa-sisa kepercayaan warga Iran terhadap AS.

BACA JUGA  BHS Soroti Tingginya Kasus TBC dan HIV di Sidoarjo, Dorong Penguatan Pencegahan dan Edukasi

“Memorandum ini tidak menandakan kepercayaan kepada musuh. Sebaliknya, memorandum ini disusun tanpa kepercayaan pada musuh,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi saat mengonfirmasi kesepakatan dengan AS.

Sambil memandang ke arah alun-alun, Reza mengatakan kepada Xinhua, “Kami harus menunggu dan melihat apakah kedua pihak pada akhirnya dapat mencapai kesepakatan final, dan setelah itu, saya rasa, kami bisa memastikan pencabutan sanksi terhadap Iran dan penghentian tindakan merusak oleh AS.”

Di tengah kecurigaan yang membayangi, banyak warga Iran diam-diam berharap kesepakatan tersebut masih bisa menjadi secercah harapan di ujung terowongan gelap nan panjang.

“Permusuhan yang telah berlangsung lebih dari 47 tahun tidak bisa diselesaikan dalam semalam saja,” kata Asghar Sorkhin, seorang pemilik toko berusia 47 tahun. “Mereka (AS) adalah pemerintahan yang sama yang membatalkan kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terberat terhadap warga Iran.”

Seraya menekankan bahwa kesepakatan itu belum cukup pantas untuk dirayakan, Sorkhin mengakui perasaannya campur aduk. Dia mengatakan jika AS menepati janjinya kali ini, warga Iran mungkin “akan dapat merasakan sedikit kelegaan.”

Di sebuah rumah sakit di Teheran, Maryam, seorang perawat berusia 30 tahun, sibuk menyiapkan obat-obatan untuk pasien dan menangani tugas-tugas hariannya.

BACA JUGA  Tingkatkan Swasembada Pangan, Polsek Sedati Dampingi Pengembangan Lahan Jagung

Sambil menyatakan optimisme yang diwarnai kehati-hatian tentang perdamaian dan perundingan di masa depan antara Iran dan AS, Maryam mengatakan, “Meskipun tidak bijaksana untuk memercayai orang lain begitu saja, lebih tidak bijaksana lagi jika tidak memercayai siapa pun.”

“Saya percaya Iran harus melanjutkan proses diplomatik, tetapi dengan kehati-hatian. Perang dan blokade angkatan laut AS telah berdampak buruk pada kehidupan kami dan perlu dihentikan,” tambah Maryam.

Perawat itu mengatakan bahwa sebelum kesepakatan akhir dan komprehensif tercapai, dia tidak akan merayakannya tetapi akan terus menjalani hidup secara normal dan tetap waspada, yang menurutnya merupakan “balas dendam yang baik atas apa yang telah dilakukan AS kepada kami.”

Berbicara tentang penilaiannya terhadap situasi di masa depan, Maryam berkata, “Saya percaya pada para pejabat kami dan yakin mereka akan melindungi kepentingan dan martabat nasional kami.”

Di jalan-jalan di Teheran, lalu lintas kendaraan bergerak seperti biasa dan masyarakat tetap menjalankan rutinitas mereka seperti sediakala. Cuaca cerah seperti biasanya. Tidak terdengar sorak-sorai. Tidak ada perayaan apa pun.

Seperti itulah suasana Teheran pada hari pertama setelah tercapainya kesepakatan AS-Iran. Sebuah kota yang bergerak dengan ritmenya sendiri, menanti apa pun yang mungkin terjadi selanjutnya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.