Jumat, 3 Juli 2026, pukul : 08:13 WIB
Surabaya
--°C

Kemelut Timur Tengah: Siapa “Koppig”? (Bag-2)

Sementara, sifat koppig itu – secara domestik – harus dinilai sebagai muhasabah, lalu ditindaklanjuti langkah-langkah konstruktif untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan sebaliknya, apalagi menuduh makar.

Oleh: Agus Wahid

Sikap politik Netanyahu dan Donald Trump benar-benar mencerminkan karakter keras kepala. Sikap itu tidak akan berimplikasi serius jika posisinya bukan sebagai orang nomor satu negara.

Sementara, dengan posisinya sebagai orang nomor satu suatu negara, hal ini mengkibatkan korban ratusan ribu orang, kehancuran sarana dan prasarana (infrastruktur) kedua pihak yang berperang, di samping miliaran dolar terimbas negatif sebagai wujud krisis energi yang berdampak pada krisis ekonomi global.

Kita perlu menelisik lagi, sekali lagi, Prabowo gagal memahami karakter keras kepala seorang Netanyahu dan Donald Trump. Jika menelaah seorang Netanyahu, hal ini sudah digambarkan lebih detail tentang sifat bangsa Israel atau Yahudi yang berhati keras (qaswatul qulub), terinformasikan dalam Q.S. Al-Baqarah: 74.

Hatinya yang keras kepala itu membuat hatinya tertutup, tak pernah mau mendengar suara kebenaran (Q.S. al-Baqarah: 88). Tidak hanya itu karakter buruknya. Sifatnya yang jahat itu juga ditambah dengan hobinya merusak, tidak hanya terhadap lingkungan alam, tapi juga suka membantai umat manusia (Q.S. al-Isra: 4). Gemar memerangi bangsa-bangsa lain menjadi bukti nyata.

Sementara, hati keras seorang Trump memang tak jauh dari cacat bawaan mental sejak lahir. Karenanya, sungguh heran, sebagian publik AS yang notabene well inform atau melek politik kok bisa terjerumus pada pilihan yang keliru total.

Benar-benar kecelakaan sejarah yang aneh, karena terjadi di sebuah negara besar dan maju.

Apapun landasan agamis dan sosio-psikologis politik itu, harusnya dibaca dengan jernih oleh Prabowo. Pertanyaannya, apakah inner circle-nya diam atau tak memberikan catatan tertentu terhadap kedua pemimpin bromocorah itu?

BACA JUGA  Hakim Melampaui Hukum

Kecil kemungkinannya. Dengan demikian, menjadi pertanyaan mendasar, apakah Prabowo juga seorang koppig? Maybe yes. Sebuah jawaban yang sangat related.

Sikap dan atau jawaban itu – dalam spektrum nasional – terkonformasi jelas, mengapa Prabowo relatif mengabaikan suara jernih berbagai elemen bangsa yang demikian gerah menyaksikan the existing of Solo`s genk di Kabinet Merah Putih?

Mengapa tuntutan untuk menyingkirkan Lisyo Sigit Prabowo dari singgasana Kapolri dan Tito Karnavian di Kemendagri dan Luhut Binsar Panjaitan diabaikan hingga kini?

Juga, mengapa suara gemuruh yang mengkritisi kebijakan makan bergizi gratis (MBG) yang jelas-jelas menjadi bancakan (korupsi) para elitis tak pernah direspon secara proporsional?

Yang terjadi justru sebaliknya: terus melawan para pengkritik. Bahkan, kini sedang berproses ke tindakan kriminalisasi terhadap para kritikus itu dengan dalih makar, padahal itu ilusi atau halusinasi.

Harus kita catat, makar akan berjalan efektif jika terdapat penyatuan rapi antara barisan pertahanan-keamanan dengan gerakan rakyat. Karena itu layak kita pertanyakan, apa yang digalaukan dari gelombang kritik sejauh tiadanya indikasi faktual kebersatuan sinergis dua komponen strategis itu (tentara dan rakyat).

Jika halusinasi itu memang didasarkan informasi intelegen yang valid, maka yang harus dibersihkan justru adanya pembangkangan dari elemen tentara. Jika pembangkangan itu memang ada, kembali pada premis: mengapa Prabowo masih mempertahankan sejumlah “duri” dari anasir Solo yang tak pernah henti menggerogoti kekuasaannya?

Berkaca dari beberapa mantan presiden lalu seperti SBY dan Megawati yang tergolong “adem-adem” saja pasca lengser keprabon, maka muncul pertanyaan yang related, mengapa Jokowi masih getol untuk kembali ke kekuasaan, meski direpresentasikan anaknya?

BACA JUGA  Ketika Lembaga Rating Bukan Wasit yang Netral

Jawabnya bukan sekedar masalah politik dinasti, tapi apa ideologi yang sudah mandarah-daging dalam dirinya. Jawabannya satu: hanya komunis yang tetap terobsesi untuk kembali ke kekuasaan.

Tujuannya hanya satu: megkomuniskan bangsa dan negeri ini. Inilah yang harus diwaspadai dan dijadikan kesadaran bersama secara nasional.

Ambisi kekuasaan yang sangat ideologis itu diperkuat oleh kekuatan oligarki, yang merasa tak bisa seleluasa gerakannya di bawah kepemimpinan Jokowi yang under capacity itu.

Jika topografi politik itu dipahami dan dijadikan platform politik nasional, maka tak ada kata lain bagi Prabowo untuk menghabisi anasir komunis dan oligarki yang tak tahu diri itu, bukan para kritikus yang sejatinya cinta negeri ini.

Presiden Prabowo harus menyadari gerakan perlawanan yang sangat sistematis dan terencana rapi, termasuk mobilisasi financing-nya karena dorongan kuat jargon komunis dan back up manusia-manusia oligarki itu.

Akhirnya, kita harus bisa menggarisbawahi, sifat keras kepala (koppig) seorang pemimpin harus dilihat dengan jernih perbedaan arah diksinya. Perlawanan Iran terhadap para agresor seperti Israel dan AS harus dilihat sebagai refleksi keterpanggilan pro kemanusiaan dan anti imperialisme atau hegemoni.

Sementara, sifat koppig itu – secara domestik – harus dinilai sebagai muhasabah, lalu ditindaklanjuti langkah-langkah konstruktif untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan sebaliknya, apalagi menuduh makar.

Agar, Prabowo Subianto bisa terlepas dari jeratan karakter keras kepala (koppig) dalam terminologi negatif.

Mungkinkah muncul kesadaran baru? Tak akan ada jaminan, karena Prabowo juga terkenal sebagai sosok temperamental. Tapi, Allah Maha membolak-balikkan hati: memungkinkan Prabowo tersadar dan kembali ke jalan benar.

Semoga, inilah yang terjadi.

*) Agus Wahid, Analis Politik dan Kebijakan Publik

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.