Jumat, 17 April 2026, pukul : 07:20 WIB
Surabaya
--°C

Kemelut Timur Tengah: Siapa “Koppig”? (Bag-1)

Gelombang kritik warga negara AS juga diperlihatkan puluhan jenderal dan juga kalangan elitis AS, termasuk Barrack Obama dan Kemala Haris. Tapi, suara kontra yang massif itu benar-benar dianggap sepi oleh Trump.

Oleh: Agus Wahid

KEMPALAN: Belum lama ini, tepatnya Rabu, 8 April 2026, Prabowo Subianto – dalam acara memberikan taklimat kepada anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka – menggambarkan karakter rakyat Iran yang keras kepala atau koppig (bahasa Belanda).

Keras kepala tersebut – menurut Prabowo – baik. Berarti, ia atau mereka memiliki keteguhan dan keberanian dalam mempertahankan prinsip dan kedaulatan untuk bangsa. Bukan berarti, tak mendengarkan pendapat orang lain.

Layak kita cermati pernyataan Prabowo itu. Karena, itu mengandung dua makna paradoks: positif dan negatif. Hal ini perlu kita refleksikan lebih jauh lagi dalam spektrum global dan domestik.

Yang menarik untuk kita analisis, pernyataan Prabowo yang memberikan contoh Iran keras kepala. Diksi “keras kepala” – dalam kamus bahasa manapun – bernilai negatif. 

Maka, pernyataan Presiden Prabowo – secara konotatif – sejatinya menyalahkan perlawanan militeristik negeri “Mullah” itu, meskipun diartikan juga baik, karena mengandung makna punya prinsip demi kedaulatan suatu bangsa dan negara.

Kemudian, sebenarnya ke mana arah penilaian Prabowo itu?

Jika merever kamus bahasa, perlawanan Iran itu – secara fakual – memang telah berdampak negatif dan cukup serius bagi kondisi global saat ini.

Dunia kini dibayang-bayangi krisis energi bahkan krisis ekonomi global. Untuk negara-negara tertentu, kondisi global itu mengancam kondisi domestik suatu negara.

Dan itu semua tak lepas dari implikasi kebijakan yang keras kepala Iran, baik sebagai pimpinan negara atau rakyat yang mendukungnya. Secara a priori dan subjektif, Iran – dalam benak Prabowo – bisa dinilai tak punya empati terhadap kepentingan global. 

Kiranya tidaklah berlebihan jika muncul opini bahwa penggiringan persepsi itu cacat logika atau menyesatkan. Prabowo bisa dinilai gagal memahami landasan fundamental mengapa Iran melawan total terhadap Zionis Israel yang didukung penuh AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Data bicara, perlawanan Iran itu karena kebiadaban negeri Zionis yang sudah berlangsung puluhan tahun terhadap bangsa Palestina. Juga menjadi ancaman serius terhadap negara-negara sekitar, termasuk Iran sendiri.

Disadari sepenuhnya, keterancaman sejumlah negara Arab karena Israel memang di-sett up sebagai “duri” di Timur Tengah.

Dan duri itu dipelihara untuk menciptakan destabilitas kawasan Timur Tengah itu. Untuk kepentingan ekonomi globalis dan geopolitik negara-negara imperialis.

Di mata Iran, sejarah panjang kebiadaban para imperialis terhadap umat manusia, terutama terhadap bangsa Palestina harus diakhiri. Karenanya, Iran kini sedang mengambil prakarsa perlawanan secara militeristik yang kekuatannya sama sekali tak terduga.

Bumi Israel pun telah banyak dibombardir sebagai upaya sistematis menghentikan imperialisme Zionis terhadap hak-hak kemanusiaan bangsa Palestina yang dimulai jauh sebelum negeri Zionis berdiri pada 14 Meri 1948.

Data sejarah mencatat, jauh sebelum Israel berdiri, terjadi Perjanjian Mark Syks (Inggris) – Francois George Picot (Prancis) pada 16 Mei 1916, yang salah satu isinya menjadikan wilayah Palestina sebagai koloni Inggris.

Setahun kemudian (pada 1917) keluarlah pernyataan James Balfour, yang dikenal dengan Balfour Declaration, yang intinya yaitu mengerahkan Yahudi internasional untuk masuk ke Tanah Palestina dengan dukungan politik dan militer Inggris kala itu.

Dari Balfour Declaration itulah, pada 3 Juli 1922, terbit Buku Putih dari Perdana Menteri Inggris keturuan Yahudi, Winston Charchil. Buku Putih ini – yang secara gamblang – mendorong dan memaksakan agar bangsa Yahudi Zionis memasuki Palestina dan difasilitasi pembangunan pemukiman nasional Yahudi di Palestina. Dan secara bersamaan, terjadi perampasan tanah warga Palestina.

Fakta historis juga bicara, negara-negara sekitarnya seperti Libanon terus dalam tekanan militeristik Israel. Dua camp pengungsi (Sabra dan Shatila) di Libanon Selatan menjadi saksi sejarah pembantaian umat manusia yang sangat biadab.

Seperti yang telah digambarkan seorang relawan kemanusiaan, dokter patologi kelahiran Penang (Malaysia) yang dibesarkan di Singapura, Ang Swee Chai, dalam bukunya From Beirut to Jerussalem, telah terjadi pembantaian sekitar 2000 anak-bangsa Palestina, tanpa memandang jender dan usia.

Tragedi yang sangat biadab itu terjadi pada 16 – 18 September 1982 di bawah komando Jenderal “penjegal” Ariel Sharon.

Kebiadaban Israel Zionis yang berpuluh tahun sebelumnya itu seperti tak dilihat dengan jernih, sehingga persepsi yang dibangun adalah kondisi Israel dan warga negaranya saat ini harus menghadapi risiko perang terbuka.

Saat ini, ketika Iran melakukan perlawanan ekstra secara militer, posisi Israel dan warga negara dilihat sebagai korban.

Karenanya, salah satu Menteri Kabinet Merah Putih saat ini, Natalius Pigai menilai Iran melanggar HAM. Sebuah penilaian yang fragmentatif dan a historis, sekaligus miskin bacaan. Atau, berpihak ke Israel tapi super ngawur. Stupid bin foolish.

Karenanya, opini yang dibangun tersebut sangat dipertanyakan validitasnya dan obyektivitasnya. Paradok dengan jatidirinya sebagai tokoh HAM nasional.

Perlawanan Iran yang sejatinya sarat dengan misi kemanusiaan, yakni mencoba menghentikan kebiadaban Israel itu – sekali lagi – tak dilihat secara proporsional oleh Prabowo. Juga, tidak dilihat secara proporsional oleh Donald Trump.

Terbukti, Trump justru melakukan tekanan politik bahkan secara militer terhadap Iran yang hingga kini belum berhenti.

Sikap dan cara pandang Prabowo itu menggambarkan gagal paham dalam melihat causa prima persoalan konflik Israel-Palestina. Sungguh ironis, sebagai negara yang – dalam Preambul UUD 1945 mengecam penjajahan di muka bumi – tapi justru berpihak pada Zionis Israel dan sekutunya.

Namun demikian, catatan Prabowo tentang keras kepala cukup proporsional jika dialamatkan ke Benjamin Natanyahu dan Donald Trump.

Kedua pemimpin negara ini memang benar-benar menunjukkan arogansinya dan tak mau menghiraukan suara hati pro kemanusiaan dari berbagai belahan dunia, termasuk dari warga negaranya (Israel dan AS).

Data bicara, perlawanan Iran selama sebulan lebih telah mengakibatkan, tidak hanya kehancuran teritorial negeri Zionis itu, tetapi kekacauan hidup warga negaranya.

Puluhan bahkan ratusan ribu warga Yahudi menderita fisik dan mental. Rengekan dan keberlarian mereka yang berusaha menyelamatkan diri tidak digubris oleh Netanyahu.

Serupa dengan pemandangan warga Israel, ratusan ribu warga Amerika juga melancarkan kritik keras terhadap Donald Trump. Mereka – dengan jumlah kisaran empat juta orang – turun ke jalan di berbagai kota AS, mendesak agar menghentikan dukungan militeristiknya terhadap Netanyahu.

Gelombang kritik warga negara AS juga diperlihatkan puluhan jenderal dan juga kalangan elitis AS, termasuk Barrack Obama dan Kemala Haris. Tapi, suara kontra yang massif itu benar-benar dianggap sepi oleh Trump.

Bahkan, ancaman politiknya yang siap meng-impeach kekuasaan dirinya juga tetap tidak digubris. (Bersambung Bag-2)

*) Agus Wahid, Analis Politik dan Kebijakan Publik

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.