KEMPALAN: Selama beberapa dasawarsa terakhir ini, dapat dilihat bagaimana perempuan semakin terlibat dalam ruang politik di sejumlah negara, termasuk di kawasan yang disebut sebagai Asia Tenggara. Di wilayah ini, dunia politik tidak beda jauh dibandingkan dengan kawasan lain, namun ada yang berbeda.
Perempuan sebagai kaum yang dianggap marjinal karena seringkali tereksploitasi dan dirugikan dengan adanya perkembangan teknologi dan politik nampaknya tetap memiliki potensi dalam mencapai posisi tertinggi di dunia politik Asia Tenggara.
Kenapa demikian?
Setidaknya ada sejumlah perempuan yang mencapai posisi puncak, seperti Yingluck Shinawatra sebagai Perdana Menteri Thailand 2011-2014; Megawati Sukarnoputri, Presiden Republik Indonesia ke-5, Corazon Aquino dan Gloria Macapagal Arroyo sebagai Presiden Filipina. Hal itu membuktikan bahwa perempuan masih memiliki peluang mencapai posisi puncak pemerintahan.
Yingluck Shinawatra
Yingluck adalah Perdana Menteri Thailand yang juga merupakan saudari dari mantan PM negara itu, Thaksin Shinawatra. Perempuan kelahiran 1967 ini pernah menjadi direktur di AIS, perusahaan yang didirikan Thaksin serta SC Asset Company.
Melansir profilnya di BBC, Yingluck pernah mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Chiang Mai dan Universitas Negeri Kentucky. PM termuda Thailand ini menikah dengan pebisnis, Anusorn Amornchat. Ia menjadi pemimpin pemerintah negeri itu pada tahun 2011.
Selama memimpin, ia juga memberikan pengampunan kepada mereka yang terlibat dalam kekerasan politik yang terjadi usai kakaknya jatuh dari tampuk kekuasaan, sebuah kebijakan yang tidak disukai oleh para pendukungnya. Hal ini menyebabkan demonstrasi di Bangkok.
Keputusan itu digagalkan oleh Senat dan tidak lama pemerintahannya meminta pemilihan cepat yang diboikot oleh oposisi, lalu kerajaan menggulingkannya. Dalam keadaan ini, tentara kembali masuk ke dalam dunia politik dan mengembalikan Thailand di bawah kekuasaan Junta Militer.
Megawati Sukarnoputri
Presiden kelima Republik Indonesia ini terkenal karena memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan merupakan anak dari presiden pertama Indonesia, Sukarno. Namanya mulai menguat di dunia politik semenjak kongres Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1993, yang mana dirinya terpilih menjadi ketua umum partai itu.
Hal itu bermuara pada Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996 atau kerap disebut Kudatuli, dimana kantor PDI diserang oleh kelompok yang tidak sepakat dengan kemenangan Mega sebagai ketua umum PDI.
Setelah mundurnya…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi