Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 11:22 WIB
Surabaya
--°C

Muktamar NU Ke-34: Mandiri dan Tidak Bergantung, Sebuah Harapan

KEMPALAN: Nahdlatul Ulama (NU) dalam waktu dekat akan mengadakan hajatan lima tahunan, Muktamar. Dalam Muktamar terpilihnya Ketua Umum, itu hal paling menarik dan dinantikan, yang akan memimpin jam’iyat NU untuk lima tahun kedepan.

Muktamar NU ke-34, mestinya dilaksanakan tahun 2020, tapi karena pandemi Covid-19, pelaksanaannya diundur setahun. Lampung terpilih jadi arena Muktamar, 23-25 Desember 2021. Meski demikian panitia penyelenggara akan tetap membatasi jumlah peserta yang hadir. Penggembira semestinya ditiadakan.

Muktamar NU selalu menarik untuk dicermati. Gregetnya sudah terasa jauh sebelum mendekati hari H pelaksanaannya. Pada pelaksanaan dua kali Muktamar NU sebelumnya, terpilih Prof KH Said Aqil Siradj, sebagai Ketua Umum– terpilih di Muktamar ke-32 Makassar (2010-2015), dan Muktamar ke-33 Jombang (2015-2020).

Suasana Muktamar ke-33 di Jombang, itu layaknya Muktamar/Munas pemilihan Ketua Umum Partai Politik. Gesekan keras bahkan ricuh di arena Muktamar dan menjalar pasca Muktamar, tentu itu jauh dari tradisi Nahdliyin. Saat itu Ir Shalahuddin Wahid (almarhum) sampai harus mengundurkan diri dari arena muktamar, dan menyatakan mufaroqoh dari kepemimpinan hasil Muktamar ke-33, Jombang.

Muktamar NU ke-34 Lampung, meski akan tetap heboh, diharapkan tetap adem. Berharap tidak lagi ada adegan ricuh yang tidak patut dipertontonkan. Kandidat yang maju sebagai Ketua Umum sudah tampak. Setidaknya ada beberapa nama yang menonjol, bisa menggantikan Prof KH Said Aqil Siradj, yang sudah 2 periode menjabat sebagai Ketua Umum.

Memang tidak ada ketentuan dalam AD/ART NU, periodisasi jabatan ketua umum yang hanya dibatasi dua periode saja. Karenanya, muncul selentingan kuat, bahwa Prof KH Said Aqil masih ingin maju lagi untuk periode ke-3. Itu sah-sah saja, konstitusi membolehkan. Meski ada suara menghembus, sebaiknya dicukupkan saja dua periode, saat ini waktunya yang muda memimpin. Semua tergantung dari muktamirin yang diwakili suara PC dan PW sebagai pemilik hak suara akan memilih siapa.

Geliat dan dinamika “politik” perebutan kuasa di tubuh NU, tetap menyisakan suasana menggelikan. Setidaknya, itu muncul dari KH Yahya Cholil Staquf, biasa dipanggil Gus Yahya, yang juga termasuk salah satu kandidat kuat sebagai Ketua Umum. Bagaimana tidak menggelikan, Gus Yahya, yang saat ini sebagai Katib Aam Syuriah, itu mengatakan bahwa ia sudah dapat restu dari Kyai Said Aqil. Meminta restu pada seseorang yang sama-sama akan maju berebut sebagai Ketua Umum.

Gus Yahya seolah bersikap santun sembari menertawakan nalar, bahwa restu yang didapat itu memang sesuatu yang absurd. Orang lalu bisa menafsir, bahwa Gus Yahya sebenarnya sedang “mencubit” Kyai Said, sambil mengisyaratkan, sudahlah cukup untuk dua periode saja, beri kesempatan pada kader-kader lain yang lebih muda untuk berkhidmat pada jam’iyah Nahdlotul Ulama.

Memang tidak ada yang persis tahu apa maksud Gus Yahya pakai meminta restu segala, dan itu pada seseorang yang sama-sama akan “bertarung”. Tapi khusnudhon sajalah pada sikap santunnya itu, dan anggap saja itu semata bentuk ikhtirom pada yang lebih tua.

Hasil Survei…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.