Hasil Survei
Bukan cuma pemilihan Bupati/Walikota, Gubernur dan Presiden saja yang diramaikan dengan lembaga survei untuk melihat kekuatan masing-masing kandidat. Tapi pada perhelatan Muktamar NU pun diramaikan dengan hasil survei, siapa kandidat yang paling diharap.
Adalah Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic), merilis hasil surveinya. Beberapa nama muncul sebagai Ketua Umum dengan presentase tingkat keterpilihannya.
Muncul nama-nama yang sekaligus urutan persentase paling tinggi: KH Marzuki Mustamar (Ketua PW NU Jawa Timur), KH Hasan Mutawakkil Alallah (Mantan Ketua PW Jawa Timur dan saat ini Ketua MUI Jawa Timur), Prof KH Said Aqil Siradj (petahana Ketua Umum PB NU), KH Yahya Cholil Staquf (Katib Aam NU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim, yang populer dengan nama panggilan Gus Baha, dan KH Dr. Marsyudi Suhud (Wakil Ketua Tanfidiah PB NU).

Kandidat yang saat ini muncul memiliki sikap dan pandangan “politik” yang lebih kurang sama dengan Kyai Said Aqil dalam “bersinergi” dengan penguasa. Mereka semua “dekat” dengan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi), kecuali mungkin Gus Baha yang belum bisa terlihat “kedekatannya” itu sejauh apa. Gus Baha bisa disebut masih steril dari “politik”. Namanya digadang-gadang sebagai kandidat Ketua Umum. Tapi pada suatu kesempatan, ia perlu meluruskan posisinya dalam berebut jabatan Ketua Umum. Katanya, “Ia ingin jadi ketua umum NU, tapi nanti tidak di dunia ini,” penolakan khas sufistik yang disampaikannya itu.
Rilis survei dari Indostrategic, itu dilakukan beberapa bulan lalu. Belum muncul survei susulan dengan semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar. Dinamika nama-nama yang dimunculkan pada hasil survei saat itu, tampaknya sudah bergeser dan makin mengkristal pada 2 nama saja: Prof KH Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf. Setidaknya dua nama ini yang mengemuka, dan manuver yang sudah mulai dipertontonkan.
Bagaimanapun juga NU tidak bisa dilepaskan dari politik kekuasaan, dan itu yang selalu bisa terlihat. Maka melihat kedua kandidat yang muncul, tidak perlulah sampai penguasa mesti cawe-cawe menjagokan salah satu dari keduanya, itu tidak perlu terjadi. Prof Said Aqil Siradj sudah tidak perlu dibahas “kedekatannya” dalam bersinergi dengan penguasa. Bagaimana dengan Gus Yahya Cholil Staquf, tampaknya sikap “politiknya” tidak jauh beda dengan Kyai Said, meski tentu tidaklah persis sama.
Sudah Waktunya Mandiri…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi